Pengalaman dari Madura : Dari Bebek Bakar Madu Hingga Bertemu Sahabat Lama

6:56 AM 0 Comments A+ a-

Bersama Ferdy, adik saya yang selalu bersama-sama bila travelling hehehe :)


Beberapa waktu lalu, tepatnya bulan November 2013, saya berkesempatan bersilaturahmi ke tanah kelahiran bapak saya di Burneh, Madura. Saya bersama Bapak dan Ferdy, adik saya, memang mengagendakan waktu berkunjung ke Madura setelah serangkaian rute dan kegiatan yang kami lakukan di Surabaya dan Malang.
Kedatangan saya ke Madura kali ini memang yang kesekian kalinya. Tetapi perubahan yang saya amati di Madura, seiring dengan dibangunnya jembatan Suramadu. Saya ingat dulu jaman saya masih kecil hingga remaja. Apabila ingin berkunjung ke Burneh, daerah tempat tinggal Bapak, kami harus menaiki kapal ferri dari Surabaya menuju pelabuhan kamal Madura. Perjalanan diatas kapal memang menimbulkan pengalaman tersendiri bagi saya yang hingga saat ini tidak bisa saya lupa.
Sampai di pelabuhan Madura, yaitu di kota Bangkalan, kami harus menaiki angkot dengan tujuan Burneh. Jangan di bayangkan angkot saat itu akan nyaman seperti saat sekarang. Kami harus duduk berdempet-dempetan dengan para penumpang lainnya. Mungkin karena jarangnya kendaraan yang ada, sehingga angkot menjadi salah satu alternatif kendaraan yang bisa di naiki menuju Burneh. Terkadang saya pun masih sempat menggunakan dokar bersama bibi dan sepupu saya. Jujur, pengalaman pertama mengenal dokar, saya dapatkan di Madura.
Namun sejak dibangun jembatan suramadu, tentu saja perubahan drastis pada daerah Burneh dan madura tentunya. Bila dulu, kami sangat kuatir bila keluar malam hari karena jalanan sangat gelap dan sepi. Apalagi posisi Burneh yang cukup jauh dari kota Bangkalan. Hal berbeda yang terjadi saat ini. Jalanan sepanjangan antara Suramadu, Burneh hingga Bangkalan sudah ramai. Bahkan untuk menyebrang jalan saja, saya perlu berhati-hati karena banyaknya kendaraan yang lalu lalang.
Saat menyusuri jembatan suramadu, saya sempat bertanya kepada bapak tentang pendapatnya mengenai Madura saat ini. Bapak sendiri rupanya tidak pernah menyangka Madura akan mengalami perubahan dan kemajuan yang luar biasa. Bahkan bapak sempat berkelekar, "Kalau dulu tahu Madura akan seperti ini, Bapak Mungkin tidak akan merantau ke Kalimantan," ujar bapak sembari tertawa. Hehehe.. Ya, saya bersyukur akhirnya bapak merantau ke Kalimantan dan menikah dengan ibu, hingga lahirlah saya di muka bumi ini hehehe..

Menu Bebejk Bakar Madu yang Mengugah Selera


Bebek Bakar Madu
Bila ke Madura, jangan pernah lewatkan menikmati kulinernya yang terkenal, yaitu Bebek Bakar Rasa maknyos Bebek Bakar yang luar biasa mengugah selera selalu teringat di benak saya.
Saat berkunjung kembali ke Madura, kami pun menyempatkan diri menikmati kuliner bebek bakar ini. Kalau dulu, saya hanya sempat menikmati bebek bakar saja, maka kali ini menunya di tambah dengan madu, alias bebek bakar madu.
Sebenarnya saya memang agak ketat menjaga pola makan agar si sel-sel kanker tidak nyaman dan tidak betah dalam tubuh saya Namun, dalam perjalanan selama hampir dua minggu berkeliling Surabaya, Malang hingga Madura, sepertinya saya banyak melanggar pantangan makan hahahah..
Bayangkan, berangkat ke Jawa saja, saya perlu perjuangan luar biasa dengan berbekal obat nyeri, dan petuah bijak dari dokter yang wanti-wanti agar saya tetap jaga kondisi tubuh. Tentu saja ketika berhadapan dengan kuliner yang jarang-jarang saya temuin di Kaltim, tidak akan di lewatkan begitu saja heheheh..
Bicara mengenai bebek bakar madu yang rasanya tidak terkirakan. Harganya pun tidak terlalu mahal-mahal amat kok, sesuailah dengan citarasa yang di berikan hehehe... Saya sempat bilang sama bapak saya, bila suatu saat saya diberi kesehatan, kekuatan dan umur panjang sama Allah bisa ke Madura kembali, tentu saja tidak akan melewatkan menu bebek bakar madu


Bersama Arie, sahabat saat sekolah dulu

Bertemu sahabat lama
Kebiasaan saya sejak dulu hingga sekarang, apabila berpergian keluar kota atau daerah, saya selalu berusaha bersilaturahmi dengan keluarga atau teman-teman yang ada di sana. Dan di Madura ini, akhirnya saya bisa bertemu dengan Arie Krisnamurti, sahabat saya sejak SD
Pertemuan kami terakhir ketika duduk di bangku SMA. Berarti sudah belasan tahun kami tidak bertemu. Sebelum bertemu, kami sempat saling bertelpon. Saya sudah wanti-wanti padanya, agar nanti tidak usah sedih melihat kondisi saya. Soalnya sering sekali teman-teman yang ketemu saya kembali, langsung sedih dan menangis memeluk saya. Berita saya sakit rupanya telah mereka dengar pula. Kalau sudah begitu, biasanya saya ikut-ikutan lebay dan menangis
Dan pertemuan kami setelah belasan tahun berpisah akhirnya terjadi. Seperti sepasang sahabat yang meluapkan rindu terpendam, kami pun saling berpelukan dan bercerita satu sama lain. Aihhh.. Akhirnya kami pun menangis bombay berdua. Bertahun-tahun tidak bertemu ternyata tidak dapat menghilangkan banyak memori antara kami berdua. Kisah-kisah lucu, sedih dan bahagia jaman SD sampai SMA terulang dengan penuh makna. Sayang pertemuan itu hanya sebentar,tetapi sangat berarti bagi saya. Semoga kelak masih ada waktu dan umur bisa bertemu kembali amin..