Cerpen : Dari Balik Jendela Anya

10:42 PM 0 Comments A+ a-


Anya memandang jam dinding yang terpanjang di dinding kamarnya. Sepuluh menit lagi menuju pukul setengah tujuh pagi.
"Pasti sebentar lagi lelaki  itu akan keluar dari rumah untuk berangkat kerja,"guman Anya sendiri sembari mengalihkan 
pandangan ke luar jendela kamarnya.

Benar saja. Sosok lelaki muda keluar dari pintu rumah depan, tepat di berhadapan dengan rumah Anya.  Anya menahan nafas sejenak, berharap lelaki muda itu tidak mengetahui kalau ia sedang di perhatikan. 

Tapi terlambat! Lelaki itu tersenyum ke arah  Anya, tepat menembus kaca jendela kamar Anya.  Anya gelagapan dan spontan menutup tirai jendela kamarnya.

"Oh, Tuhan!" Desah Anya perlahan sembari memegang dadanya yang berdegup tidak karuan. Rutinitas tiap pagi mengintip lelaki itu akhirnya ketahuan juga.

*****
Anya tidak ingat sejak kapan suka memandangi keadaan dari balik jendela kamarnya.  Mungkin dua atau tiga bulan yang lalu tepatnya.  Ia betah berlama-lama memandangi luar jendela sembari mencari inspirasi menulis.

Semua bermula dari sakit syaraf tulang belakang yang di derita Anya. Rasa sakit dan nyeri itu membuat Anya lebih banyak melakukan aktifitas di atas ranjang. Kemungkinan untuk sembuh pun perlu waktu dan proses lama. 

Sebenarnya dokter syaraf yang menangani Anya,  menyarankan Anya di rawat di rumah sakit agar lebih di rawat intensif.  Namun, Anya menolaknya.
Anya  lebih memilih istirahat di rumah. Walaupun dengan konsekwensi membawa sekantong penuh obat dari resep dokter.
Kedua orang tua Anya pun tidak mau memaksa Anya.  Mereka sudah sangat bersyukur, Anya tetap tenang dan tidak stress dengan kondisi fisiknya sekarang.  Bahkan Anya masih terus melakukan aktifitasnya menulis.
"Ayah, Anya  mau ranjang tidur Anya di pindah ke dekat jendela kamar," kata Anya kepada ayahnya.
"Mengapa dipindah?" Tanya Ayah sambil mengernyitkan dahi tidak mengerti.
"Biar Anya tidak bosan. Jadi Anya bisa memandang keadaan di luar rumah. Siapa tahu semakin banyak ilham untuk menulis ,"sahut Anya tersenyum.
Ayah Anya hanya terdiam.  Sebagai seorang ayah, ia tahu bagaimana perasaan hati anak gadisnya.  Tidak mudah menerima kondisi fisik  yang mengharuskan Anya berbaring terus di tempat tidur. Namun Anya selalu bersikap kuat dan ceria di hadapan siapa saja.
"Nanti ayah minta mang Ujang untuk membantu memindahkan ranjang Anya, ya,"kata ayah di
iringi senyuman Anya.

****

Ketika Jujur tentang Kanker kepada Anak

6:05 PM 2 Comments A+ a-

Saya acap kali mendapat pertanyaan dari orang lain mengenai anak-anak saya. Khususnya pertanyaan yang terkait bagaimana keterbukaan dan kejujuran saya mengenai penyakit kanker yang saya derita kepada anak-anak.
Kalau mau saya list, mungkin berikut ini pertanyaan-pertanyaan yang sering di tanyakan :
- Apakah anak-anak tahu kalau saya terkena kanker?
- Apakah anak-anak tahu penyakit kanker itu apa?
- Bagaimana perasaan mereka saat tahu saya terkena kanker?
- Bagaimana keadaan sehari-hari di lalui bersama anak-anak setelah tervonis kanker?
- Apakah mereka tahu tentang pengobatan kanker yang saya lakukan?
- Bagaimana perasaan mereka bila melihat saya sedang drop atau lagi down?
- Seberapa pentingnya mereka tahu mengenai kanker yang saya derita?
- ...... dan banyak lagi pertanyaan
Jujur, memberitahu dan menjelaskan kondisi saya kepada anak-anak merupakan hal yang terberat di banding saya menerima vonis kanker pertama kalinya.  Bila dulu saat menerima vonis kanker, saya harus berperang dengan diri sendiri dalam.proses penerimaan.  Namun, akan jauh berbeda saat berhadapan dengan anak-anak tercinta.
Saya menghargai pilihan dari sebagian teman-teman survivor kanker yang lebih memilih menyimpan rapat-rapat kondisi mereka dari anak anak atau keluarga.  Begitu pula saya menghargai pilihan mereka untuk lebih terbuka kepada anak-anak dan keluarga.
Saya sendiri adalah seorang survivor sekaligus seorang ibu yang memilih bersikap terbuka kepada  anak-anak.  Semuanya itu tentu saja dengan berbagai macam pertimbangan dan alasan yang cukup dalam. 
Berbagai alasan itu antara lain saya ingin anak-anak lebih memahami kondisi saya saat ini. Dengan begitu saya bisa mengajarkan arti perjuangan, dukungan dan semangat kepada mereka.  Dengan mengetahui lebih mengenai kanker langsung dari saya, mereka akan lebih paham mengenai kanker itu sendiri. Bahwa kanker bukan akhir dunia. Saya sebagai ibu mereka tetap bisa memberikan kasih sayang dan kekuatan kepada mereka.  Dan tentu saja berbagai alasan lainnya.
Kalau ada pula yang bertanya, apakah saya sedih ketika anak anak harus melihat kondisi saya sakit seperti ini? Jujur, saya jawab kadang hal itu terlintas dalam pikiran saya.  Kalo boleh terbuka saya bertanya, seandainya ada orang yang berada di posisi saya, tentu akan merasakan hal yang sama seperti saya.
Tetapi..
Sekali lagi saya katakan.. hidup ini adalah pilihan. Okelah kalau saya memang tidak bisa memilih untuk menghindari tervonis kanker.  Tetapi setidaknya saya bisa memilih bagaimana mengisi dan menjalani hari-hari saya bersama anak-anak. 
Selagi allah memberikan nafas untuk saya, berarti allah pun memberikan kesempatan kepada saya untuk terus berbagi dan berbuat baik.  Allah pun memberikan kesempatan kepada saya untuk mengisi hari-hari saya yang penuh keceriaan dan kebahagiaan bersama anak-anak.
Hingga terus dalam hati mereka terparti rasa betapa besar cinta dan kasih sayang saya kepada mereka.......
Samarinda, 23 Oktober 2015

Share to Care #1 - PITA TOSCA

10:30 PM 0 Comments A+ a-

Yuk, Ikutan acara PITA TOSCA

Share to Care #1 : Kenali Tiroidmu !

Hari : Sabtu, 24 Oktober 2015
Pukul : 10.00 - 13.00
Tempat : Meeting Room - Menara Cardig
Jl. Halim Perdana Kusuma Cawang, Jakarta Timur

Pembicara : dr. Dwi Hari Susilo, SpB (K) Onk - Konsultasi Bedah Onkologi RS Onkologi Surabaya

Menulis Untuk Amal Ibadah, Dunia pun Mengikuti

12:19 AM 0 Comments A+ a-

Beberapa waktu lalu saat saya berselancar cantik di facebook, saya  membaca info mba Winda yang ngadain Give Away (GA) di blognya Emak Gaoel . GA yang bertajuk Go For It berhadiah keren banget yaitu Smartfren Andromax 4G LTE buat pembaca Blog Emak Gaoel!

Wah, tentu saja hadiahnya langsung membuat saya termehek-mehek pengen ikutan :) Apalagi kita sebagai peserta hanya diminta untuk menuliskan  apa yang sedang di kejar dalam kegiatan blogging.
Saya langsung saja ingat dengan blog saya dan alasan terpenting mengapa saya terus ngeblog hingga hari ini.  Apa sesungguhnya saya kejar dalam ngeblog. Usia blog saya termasuk lama, tetapi saya baru aktif ngeblog lagi di tahun 2013. Semua itu bermula karena sebuah kejadian yang mengubah hidup saya.

Saya tidak akan pernah lupa hari itu.  Hari bersejarah dimana dokter terbuka menjelaskan vonis sakit yang saya derita. Hari bersejarah di awal tahun 2013.  Tidak tanggung-tanggung, vonis kanker tiroid stadium 4 , dimana kanker tersebut sudah menyebar ke tulang belakang dan paru-paru saya.

Stress?  pasti...
Sedih?  apalagi..
Nangis? Jangan di tanya lagi...
Marah? Galau? Kecewa? Menyesal? 

Sepertinya semua aneka rasa membaur jadi satu.
Hingga saya merasa berada dalam sebuah titik terendah hidup saya. Apalagi saya merasakan rasa nyeri dan sakit luar biasa akibat kanker dalam tubuh saya. Saya sadar, kanker stadium 4 yang sudah menyebar bukan penyakit sembarangan. Bahkan banyak yang mengatakan apabila seseorang di vonis  stadium 4, berarti kemungkinan bertahan  hidup hanya sekian persen saja.

Dunia saya sempat terasa berhenti saat itu.  Di tengah kegalauan luar biasa, saya sempat mengurangi akses bertemu dengan orang lain. Ini karena perasaan tidak siap saya menerima kanker. Saya memilih tenggelam dalam dunia saya sendiri.

Saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk menulis.  Saat itu saya berfikir, hidup saya tidak akan lama lagi.  Paling tidak saya harus mengejar sisa umur hidup saya untuk melakukan hal-hal terbaik.  Saya sadar kondisi fisik saya tidak memungkinkan untuk melakukan berbagai kegiatan. Karena itu saya memilih menulis di blog sebagai salah satu bentuk kegiatan positif saya. 

Saya saat menjalani pengobatan radiasi nuklir

Selama aktif menulis dan berselancar di dunia maya, saya sadar sekali informasi penyakit kanker tiroid dan pengobatannya tidak terlalu banyak bisa di dapatkan.  Apalagi pengobatan kanker tiroid yang salah satunya menggunakan ablasi radiasi nuklir 131 memang masih awan di ketahui. Padahal ablasi ini cukup efektif untuk terapi penyakit kanker tiroid.

Resensi Buku It's Me di Tribun Kaltim

5:13 PM 0 Comments A+ a-


Alhamdulillah, salah satu tulisan resensiku di muat di Harian Tribun Kaltim edisi Minggu, 4 Oktober 2015.  Resensi buku It's Me, merupakan buku karya Mba Dya Lorreta.  Buku ini mengupas habis tentang Personal Branding.  Ingin tahu resensi buku ini, silahkan baca ya :

------------
Judul : It's Me!
(SUPERBRAND DIRI UNTUK JADI BEDA)
Penulis : Dya Loretta, SE., M.IKom
Penerbit : Lintas Kata
Tebal : 96 Halaman
Tahun : 2015

Tidak banyak buku yang mengupas lengkap mengenai personal branding yang beredar belakangan ini. Apalagi buku personal branding yang tidak hanya berkutat dengan materi persoal branding saja, tetapi juga berbagai macam pengetahuan dan praktek seiring perkembangan jaman saat ini.

Buku It's Me! Superbrand Diri Untuk Jadi Beda merupakan buku yang tanpa sengaja saya baca.  Waktu itu salah seorang sahabat saya, merekomendasikan buku ini untuk saya baca.  Rupanya dia mengerti, belakangan ini saya sedang belajar dalam personal branding.  Aktifitas saya sebagai penulis sekaligus survivor kanker yang aktif mengedukasi kanker, memang sangat terkait dengan personal branding.

Dya Loretta, SE., M.IKom selaku penulis buku It's Me!  Saya akui memang cukup jeli menangkap keinginan pembaca yang ingin tahu lebih jelas mengenai personal branding.  Buku yang di terbitkan Lintas Kata dan setebal 96 halaman ini, memang sudah membuat penasaran saya untuk membacanya sejak halaman pertama.


Dalam buku ini di bagi menjadi 6 Part, dimana masing-masing part memiliki kekuatan sehingga membuat buku ini menjadi lebih asyik untuk di baca.  Apalagi buku ini tidak monoton seperti buku-buku lain.  Penulis banyak menampilkan gambar menarik ataupun skema untuk lebih memperjelas pembahasan di Buku.

Dalam part 1, penulis membahas mengenai Now & Know! Kini dan Perkembangannya .  Saya langsung tertarik membaca buku ini saat penulis membahas fenomena selfie di masyarakat. Menurut penulis, selfie juga  bisa mendeteksi karakter personal seseorang, meski kedalamannya tentu perlu ditelaah lebih lanjut.

Lebih lanjut berbicara mengenai image atau citra diri seseorang. Jadi rasanya wajar saja, ada saja orang  yang selalu menjaga image agar selalu terlihat baik dan positif di mata masyarakat. Tentu saja hal itu dengan tujuan tertentu, antara lain agar bisa di hargai, dapat menginspirasi atau menjadi panutan orang lain.

Penulis juga menjelaskan bagaimana faktor situasional seseorang berpengaruh besar pada perilaku manusia. Ia mencoba mengutip buku Psikologi Komunikasi yang di jelaskan oleh Drs. Riswandi, M.Si. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain faktor ekologis,  faktor rancangan dan arsitektural,  faktor temporal, suasana perilaku, tekhnologi, dan lain lain.

Pada part 2 mengenai Kenali dan Pahami Diri Sendiri, penulis mengajak pembaca untuk lebih mengenali dan memahami keadaan dan kemampuan diri sendiri.  Di part ini, saya coba menyelaraskan dengan pengalaman saya pribadi. 
Saya sendiri memang perlu waktu untuk bisa mengenali dan memahami diri sendiri. Khususnya mengenai kemampuan dan kekuatan yang saya miliki yang tidak hanya bisa bisa bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

Saat awal saya tervonis kanker, saya benar benar merasa down dan terpukul.  Namun seiring berjalannya waktu, saya berusaha bangkit dan menemukan apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Selain berobat, saya mencoba menggabungkan kemampuan saya menulis dan berbicara untuk mengedukasi masalah kanker kepada masyarakat.  Dari sana pula, akhirnya perlahan demi perlahan menciptakan personal branding saya sendiri.

Selaras dengan yang di tulis penulis dalam buku It's Me, bahwa setiap manusia memiliki hasrat, keinginan, dan kebutuhan yang merupakan landasan dari tujuan setiap langkah kita. Tujuan tersebut tentulah diharapkan memberikan hasil positif bagi diri dan orang lain.

Salah satu part lain yang menarik dalam buku ini yaitu Build Personal Brand, Membangun Personal Brand dengan Kekuatan dan Keunikan Diri.  Saya rasa part ini merupakan part ini dalam buku ini.  Penulis tidak hanya mengupas habis personal brand, tetapi juga memberikan bagaimana tips dan cara membangun personal brand dengan apa yang kita miliki.

Selain itu, penulis juga menampilkan part Story of Personal Brand.  Pada part ini terdapat beberapa kisah inspirasi dari orang yang sukses membangun personal brandnya. 

Aisyah Laila atau yang akrab di panggil dengan Icha adalah seorang gadis yang masih berusia 13 tahun.  Walaupun masih sangat muda, namun Icha sudah memiliki personal brand yang dikenal masyarakat. 

Aisyah Lalila yang terkenal dengan make up artist juga telah melauncing produk brand Aisyah Laila Professional False Eyelashes.  Icha pun kerap di liput berbagai media cetak, elektronik maupun televisi terkait kegiatan dan aktifitas yang ia jalani.

Kisah sukses lain dari Dya Lorreta dengan brandingnya ‘The Project Of Dlo’s'.  The Project Of Dlo's mengandung arti proyekan Dya Loretta.
Aktifitas Dya sebagai pengajar tidak mengurangi kegiatannya di luar jam pekerjaaan.  Ia sering berbagi dalam kumpul-kumpul, dari membuat miniseminar sampai berbagi mengenai keilmuan yang di miliki.  Dya berbagi untuk berbagai medi cetak dan media online.

Selain itu ia berbagi keunikan lainnya di  media TV,  dari sebagai penghobby sepatu boots hingga sebagai penghobby salah satu merek mobil. Hingga saat ini ia terus  berbagi dengan teman-teman dalam komunitas marketing komunikasi dan advertising— marcommads community—terbuka untuk siapa saja yang ingin bergabung.

Dari kisah-kisah sukses di atas, memang tidak mudah membangun sebuah personal brand sehingga orang bisa mengenal kita.  Namun semua tidak ada yang tidak mungkin bila kita mau berusaha dan mencoba.  Di buku It's Me! Superbrand Untuk Jadi Beda, kita akan mendapatkan ilmu dan pengetahuan mengenai personal branding secara lebih lengkap dan tuntas.  Jadi tidak salah, bila saya rekomendasikan buku ini untuk di miliki dan di baca ^_^.

Kisah Inspirasiku di Majalah Kartini edisi Oktober 2015

5:28 AM 2 Comments A+ a-


Alhamdulillah, Awal Bulan Oktober 2015 ini membawa berita sangat berkesan bagi saya.  Salah satu majalah nasional yaitu majalah Kartini edisi bulan Oktober 2015, memuat kisah saya dalam menghadapi kanker.

Saya berharap agar kisah saya ini bisa menginspirasi para pembaca, khususnya para survivor kanker agar terus semangat dan berjuang.

Pentingnya Support Group Untuk Survivor Kanker

1:18 AM 0 Comments A+ a-


Beberapa teman di FB , instagram, maupun pembaca blog saya, tertarik untuk bergabung di komunitas kanker yang saya ikuti. Alhamdulillah sudah teman-teman akhirnya bergabungnya.

Memiliki teman-teman yang positif ataupun bergabung dalam sebuah komunitas support group akan sangat bermanfaat bagi seorang pasien kanker. Tidak hanya itu, komunitas support juga terbuka bagi keluarga pasien kanker atau masyarakat umum yang ingin sama sama bergabung di dalamnya.

Saya pernah membahas hal ini di bab khusus di buku Kanker Bukan Akhir Dunia terbitan PT. Elex Media yang saya tulis. Bergabung dengan lingkaran positif tidak hanya membuat pasien tidak lagi sendiri menghadapi kanker. Kita bisa saling berbagi informasi, dukungan dan kekuatan serta semangat.

Bagi teman-teman yang tertarik mengetahui informasi mengenai group support kanker, bisa pula bergabung langsung pada CISC (cancer information and support center) atau Pita Tosca (support group khusus tiroid). Bagi yang ingin tanya-tanya, bisa japri saya ya.. 

●Email :
triwahyunizuhri@yahoo.com
triwahyunizuhri@gmail.com

●Facebook :
Tri Wahyuni Zuhri

●Twitter :
@triwahyunizuhri

●Instagram :
Tri Wahyuni Zuhri

●Website :
www.yunisukses.com
www.triwahyunizuhri.blogspot.com

●Whatsapp / SMS :
081348193451