Catatan Perjalanan : Sekolah Perempuan, Wujudkan Impian Perempuan Untuk Menulis

6:35 PM 0 Comments A+ a-

tribun kaltim, 18 Mei 2014

Awal bulan Mei ini menjadi perjalanan istimewa bagi saya ke Bandung. Saya mempergunakan kesempatan bersilaturahmi dengan beberapa perempuan yang luar biasa selama disana. Salah satunya Indari Mastuti, founder Sekolah Perempuan sekaligus founder Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) Pusat. Sebenarnya, saya sudah cukup lama mengenal Indari, terlebih kami memang menggeluti bidang yang sama yaitu penulisan. Namun baru kali ini saya berkesempatan untuk berkunjung di Sekolah Perempuan yang beliau dirikan. Apalagi hari kedatangan saya untuk silaturahmi itu bertepatan dengan pertemuan pertama kelas Sekolah Perempuan angkatan ke 4. Tentu saja, rasa ingin tahu saya mengenai sekolah perempuan ini akan terpenuhi. 

Pembicaraan kami berdua di awali dengan diskusi seru mengenai penulisan dan disuguhi menu sarapan pagi khas kota Bandung. Sekolah Perempuan sendiri diresmikan oleh founder Indari Mastuti pada 17 Agustus 2013 lalu. Sekolah Perempuan telah mendapatkan penghargaan sebagai juara 1 IDE BISNIS dari Sekar Womenpreneur pada tahun 2012 lalu. Diharapkan melalui Sekolah Perempuan akan menjadi wadah positif bagi para perempuan, khususnya ibu rumah tangga untuk mengembangkan kemampuannya melalui menulis. 

Kegiatan Sekolah Perempuan ini dilakukan selama 3 bulan untuk tiap angkatan. Dimana dalam waktu 3 bulan dilakukan sebanyak 12 pertemuan baik secara offline atau tatap muka secara langsung maupun melalui internet. Selain itu, Sekolah Perempuan menyelenggarakan kelas tunggal dan kelas khusus yang bisa di lakukan secara online. Mengingat banyaknya peminat Sekolah Perempuan dari berbagai daerah di Indonesia maupun dari luar negeri, Indari sekarang membuka kelas baru melalui kelas Online. Kelas Online ini memiliki kurikulum, pengajar, dan waktu pertemuan yang sama dengan kelas Offline. Yang membedakannya, kelas online bisa dilakukan dimana pun peserta berada tanpa perlu tatap muka secara langsung. Informasi mengenai Sekolah Perempuan bisa dibuka melalui website www.sekolahperempuan.com 

Tentu saja hal ini sangat memudahkan bagi para perempuan yang ingin belajar menulis tanpa perlu jauh-jauh datang ke Bandung. Cukup belajar dengan mempergunakan fasilitas internet di rumah dan menyesuaikan waktu pertemuan belajar yang telah di tentukan. Para pengajar di Sekolah memiliki latar belakang penulis dan editor, yaitu Anna Farida (Bandung), Julie Nava (Amerika), Nurul Asmayani (Kalimantan), Ida Fauziah (Malaysia), dan tentu saja Indari Mastuti. 

Selain sebagai penulis yang telah menulis lebih dari 50 judul buku, Indari Mastuti sendiri merupakan entrepreneur di bidang jasa copywriting dengan brand Indscript Creative. Indari kerap mendapatkan berbagai penghargaan bergengsi di Indonesia, seperti Perempuan Inspiratif Nova (2010),Finalis Kusala Swadaya (2011), Juara 2 Wirausaha Muda Mandiri (2012), Perempuan Terinspiratif Indonesia Majalah Kartini (2012), Finalis Wanita Wirausaha Femina(2012), Juara 3 Kartini Awards (2012), Finalis Kartini Next Generation (2012),100 Perempuan Pilihan Indonesia Mengubah Dengan Cinta SunLight (2013), Juara I Sekar Womenpreneur (2012), hingga Superwoman Indonesia (2014). 



Silaturahmi kami pun berlanjut dengan pembukaan kelas angkatan ke 4 Sekolah Perempuan. Saya terkesan dengan para peserta yang hadir dalam kelas terdiri ibu rumah tangga dengan ragam kegiatan. Mereka semua terlihat sangat antusias mengikuti kelas Sekolah Perempuan. Sebagian besar dari mereka bahkan memang baru memulai belajar untuk menulis. Rasa kekeluargaan dan saling mendukung satu sama lain sangat jelas terlihat pada pertemuan tersebut. 

 Saya sangat tersanjung ketika Indari meminta saya berbagi pengalaman sekaligus motivasi menulis kepada para peserta. Bagi saya, kegiatan menulis mengajarkan banyak hal positif kepada saya. Setiap orang, termasuk ibu rumah tangga bisa menulis, asal ada kemauan dan terus berlatih. Bisa saja, menulis awalnya sebagai penyaluran hobbi atau bentuk esistensi diri yang positif. Namun seiring berjalannya waktu, menulis bisa saja menambah pemasukan bagi ibu rumah tangga. Bahkan, menulis bisa menjadi terapi jiwa dan kesembuhan bagi seseorang. Hal itu pula yang saya rasakan sebagai survivor kanker. 

Sekolah Perempuan yang di dirikan Indari Mastuti ini merupakan salah satu wadah yang positif bagi kaum perempuan untuk berkarya. Terlebih saat ini internet sangat mudah di akses oleh siapapun, tak terkecuali ibu rumah tangga. Mereka bisa belajar melalui online untuk mengikuti kelas menulis Sekolah Perempuan. Dari beberapa angkatan yang di selenggarakan Sekolah Perempuan, karya-karya peserta sekolah ini sudah berhasil menarik perhatian penerbit dan media. 

Tentu saja ini merupakan keberhasilan yang sangat menggembirakan bagi peserta maupun mentor Sekolah Perempuan. Silaturahmi saya dan Indari memang harus terbatas waktu hari itu. Namun, begitu banyak pengalaman dan pelajaran berharga yang bisa saya dapatkan dari pertemuan kami. Salah satunya mengenai bagaimana para perempuan Indonesia bisa lebih menggali potensi dan mengembangkan eksistensi dalam dirinya. Tentu saja tanpa melupakan kodratnya sebagai seorang istri dan seorang ibu. Semua itu tidak lepas dari dukungan dan semangat sesama perempuan agar terus bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Semoga akan terus bermunculan perempuan-perempuan luar biasa yang bisa memberikan manfaat positif bagi Indonesia. Amin..

Resensi Novel Hati Kedua karya Achi TM & Novel Mata Kedua karya Ramaditya Adikara

5:11 PM 0 Comments A+ a-

Saya percaya, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua jalan pasti di skenario kan oleh Allah. Termasuk suatu ketika saya melihat 2 buah novel berwarna merah yang muncul dari status fb di wall saya . Sekilas dua novel itu tampak sama, apalagi dengan warna merah yang sama dengan gambar kedua belah tangan di depannya. 

 Tapi, eitss.. Ada yang berbeda. Ternyata kedua novel itu berbeda! Dari judul, gambar posisi kedua tangan, dan tentu saja penulisnya. Novel yang pertama saya perhatikan karya mba Achi TM, dengan judul Hati Kedua, dan gambar kedua telapak kanan menyatu mengisyaratkan lambang cinta. Novel kedua ditulis Ramaditya Adikara, dengan judul Mata Kedua, dengan gambar kedua tangan saling menyatu seperti membentuk dua belah kelopak mata. Kedua novel ini langsung mengugah hati saya untuk mengetahui isi di dalamnya. Apa ada hubungannya dengan kedua novel ini? Mengapa penerbit buku menerbitkan buku dengan warna sama dan judul nyaris sama, walaupun penulis berbeda? 

Entah banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam kepala saya. Membuat saya semakin penasaran untuk membaca novel ini. Apalagi kedua penulis novel ini yang bagi saya tidak begitu asing. Achi TM penulis novel Hati Kedua, merupakan penulis yang produktif, dan salah satu bukunya bersama sahabat saya Irni Fatma yang berjudul Keseimbangan Hidup Perempuan, pernah saya resensi di salah satu media cetak. Saya paham betul bagaimana kualitas menulis mbak Achi TM yang keren. Begitu pula Ramaditya Adikara, dengan keterbatasan pengelihatan, namun tetap mampu menunjukkan prestasi dan kemampuannya luar biasa. 

Ya, saya langsung memesan kedua buku itu dari mas Rama via facebook. Cukuplah sudah, saya terpenjara dalam rasa penasaran saya. Saatnya menuntaskan rasa penasaran itu dengan membaca kedua novel itu secara langsung. Tentu saja disini saya mengungkapkan rasa salut atas ide kedua novel yang tidak biasa ini. Saya sering menemukan novel yang memiliki hubungan satu sama lain. Namun biasanya itu itu berkelanjutan dan ditulis oleh penulis yang sama, sebut saja novel Harry potter, Tetralogi Laskar Pelangi, dan lain sebagainya. Atau sebuah novel yang ditulis dua atau lebih dari satu penulis. 

Namun berbeda dengan kedua novel ini. Dua novel yang ditulis oleh dua penulis berbeda, namun memiliki koneksi yang begitu kuat satu sama lain. Novel pertama yang saya baca yaitu Hati kedua, yang ditulis mba Achi TM. Dari pengantar yang ditulis mba Achi TM di novel itu membuat saya paham mengapa hadir kedua novel itu. Kedua novel itu memang memiliki kisah yang saling terkoneksi satu sama lain. Membaca novel Hati kedua, tidak akan lengkap bila tidak membaca Mata Kedua, begitu pula dengan sebaliknya. Kedua novel itu memiliki hubungan sangat erat, dimana Hati kedua mengambil Rara, sebagai tokoh utama yang memiliki hubungan persahabatan dengan Rama. 


****** 
 Judul Buku Hati kedua 
Penulis. :Achi TM 
Penerbit : Sheila 
Halaman : 338 
Tahun : 2013 




 Di novel Hati Kedua, Achi TM berusaha menghidupkan tokoh Rara dengan segala kehidupan berhubungan dengan Rara. Sedangkan di novel Mata Kedua, Rama menyelami dirinya sediri sebagai tokoh utama serta menceritakan hidupnya dan persahabatan yang terjalin indah dengan Rara. Ya , jadi memang kedua novel ini saling bertautan satu sama lain. Rara adalah seorang gadis remaja yang memiliki hobi mengutak atik benda elektronik. Walaupun kedua orang tua nya super sibuk, ternyata tidak berpengaruh pada Rara. Ia selalu tampil menjadi anak yang baik hati dan selalu berusaha menolong orang lain. Di sekolah, ia memiliki seorang sahabat yang berbeda sifat dengannya, yaitu Niki. 

Persahabatan pun terjalin hingga mereka kelak memasuki sekolah SMA. Rara merasa terpuruk saat tahu dirinya terkena penyakit tumor otak. Beruntung ia memiliki kedua orang tua yang terus menerus menyupport Rara. Apalagi akhirnya tanpa sengaja Rara bertemu dengan Syifa, seorang remaja SMA yang memiliki kesamaan hobi dengan Rara. Sama-sama suka elektronik dan games. Syifa pun sering menceritakan perihal Eko, saudara sepupunya yang memiliki hobbi main games seperti Rara. 

Syifa yakin suatu saat Rara akan bertemu dengan Eko. Persahabatan mereka semakin erat, terlebih saat Syifa mengungkapkan dirinya pun menderita sakit kanker otak. Walaupun sakit, Syifa selalu menunjukkan semangat kepada Rara. Rara pun menjadi semangat untuk terus mengisi hidupnya dengan hal-hal positif. Ternyata persahabatan Rara dan Syifa tidak berlangsung lama, karena Syifa meninggal dunia karena sakit yang di deritanya. Walaupun di dera perasaan sedih atas kepergian Syifa, Rara berusaha terus bangkit dan mewujudkan cita-citanya. Salah satunya bersekolah di salah satu SMA idamannya. Terlebih sahabatnya, juga bersekolah di SMA yang sama. 

Kisah Rara semakin menarik saat ia bertemu dengan Rama, seorang siswa baru tuna netra yang sekelas dengannya. Pertemanan mereka semakin menarik saat tahu memiliki hobbi yang sama yaitu suka main games. Apalagi mereka memiliki teman-teman yang turut meramaikan suasana pertemanan ala anak SMA, ada Niki yang tomboi, Ardan yang baik, Elis yang ramah dan cantik, Cindy yang suka rese. Persahabatan keduanya membuat Rara banyak belajar dari Rama. Keterbatasan yang dimiliki Rama, tidak membuat Rama menjadi patah semangat dan menyerah. Hal itulah yang membuat Rara menjadi simpatik kepada Rama. Walau begitu, Rara masih menyimpan rahasia sakitnya pada teman-teman sekolahnya. Rara akhirnya sadar, Rama ternyata adalah Eko, saudara sepupu Syifa.


 ****** 
 Judul Buku : Mata kedua 
 Penulis. :Ramaditya Adikara 
Penerbit : Sheila 
Halaman : 368 
Tahun : 2013 




 Cerita yang berbeda saat membaca novel Mata Kedua yang ditulis oleh Ramaditya. Di novel ini, penulis mengangkat Rama sebagai tokoh utamanya. Rama sendiri adalah sebagai seorang siswa tunanetra sejak lahir. Namun begitu, ia tetap menjalani kehidupan normal seperti remaja SMA lainnya. Dukungan dari keluarga dan semangat yang ia miliki, membuat Rama bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya. Bahkan ia memiliki banyak teman baru yang terus mendukung dan memberikan semangat, salah satunya adalah Rara. Kisah Rama di novel ini pun di ceritakan banyak menghadapi tantangan. 

Sebagai tuna netra, ada saja orang yang menganggunya. Misalnya Cindy, siswi yang secara terang terangan tidak menyukainya. Atau ada guru yang bernada tidak simpatik bila mengajar Rama di kelas. Belum lagi masalah patah hati karena cintanya di tolak. Tapi Rama tetap berusaha menganggap semua tantangan itu sebagai bagian dari perjalanan hidupnya. Ia memandang positif dengan apa yang di alaminya. Terlebih dengan dukungan Rara yang selalu hadir menyupportnya, serta sahabat-sahabat lainnya seperti Ardan, Elis, Niki dan lainnya. 

 Kesamaan hobbi main games membuat keduanya menjadi dekat. Terlebih Rara memang selalu hadir membantu Rama bila dibutuhkan. Kebersamaan itu menumbuhkan rasa cinta antar keduanya. Kedua novel ini memang terkoneksi satu sama lain. Membaca kedua novel ini, banyak menguras perasaan saya. Terkadang saya tertawa membaca persahabatan dan percintaan para tokoh novel khususnya Rama dan Rara yang penuh cerita di masa SMA. Ataupun saya menangis saat membaca kisah Rama dan Rara saat berjuang menghadapi tantangan yg mereka hadapi. 

Ternyata tidak mudah hidup yang harus di jalani seorang remaja tuna netra seperti Rama. Terkadang ia merasakan gejolak batin tersendiri saat menjalani hari-hari nya. Namun Rama berhasil melaluinya dengan semangat, optimis dan dukungan orang orang terdekatnya. Begitu pula dengan Rara, perjuangannya menghadapi penyakit tumor di kepala, tidak menjadi halangannya untuk tetap menjalani masa normal remajanya. Padahal, di awal-awal sekolah, ia bisa menutupi penyakitnya dari teman-temannya. Hingga akhirnya teman-teman tahu penyakitnya dan terus mendukung kesembuhannya.

 Kisah Rara dan Syifa di kedua novel ini sempat membuat saya menangis. Saya mengerti betul bagaimana perasaan seseorang yang di vonis kanker otak seperti Syifa dan tumor otak seperti Rara, berusaha bersikap kehidupan harus di jalani dengan baik. Ya, mungkin karena saya seorang survivor kanker juga, jadi emosi saya terkuras membaca kisah keduanya. Dari tokoh Rama pun saya banyak mengambil hikmah di dalamnya. Dengan keterbatasan yang dimilikinya, ia tetap mampu menunjukkan semangat dan rasa optimis dalam menjalani hidup. Bagaimana kisah Rara dan Rama selanjutnya? Penasaran kan? Ada baiknya segera ke toko buku untuk memiliki kedua novel cantik ini. Teman-teman pasti akan menemukan hal luar biasa dari kedua novel yang tidak biasa ini

Curhat (Sangat) Penting : Semua Tentang IIDN

5:06 PM 0 Comments A+ a-



Tidak terasa IIDN sebentar lagi akan memasuki usia 4 tahun. Umur yang tidak muda bagi sebuah komunitas online bisa bertahan dan tumbuh berkembang sampai seusia ini. Apalagi setiap saat IIDN memberikan berbagai kegiatan online maupun offline, bukan hanya di pusat tetapi di berbagai daerah. Anggotanya pun semakin bertambah dan memberikan banyak warna di IIDN. Semua membuat saya merasa bahagia menjadi bagian dari IIDN selama 4 tahun belakangan ini. 

 Saya teringat kembali masa-masa dulu, saat pertama kali mengenal IIDN sekitar 3 tahunan yang lalu. Saat itu seorang teman FB, yaitu mba Echa Kare, memasukkan saya dalam group IIDN ini.. (Mba Echa.. Apa kabarmu ?? ) Awalnya saya cukup terkejut dengan group IIDN ini. Pertama, dari nama IIDN yang merupakan singkatan Ibu-Ibu Doyan Nulis. Dibenak saya berfikir, kok namanya agak berbeda ya? Kedua, saya lihat memang anggota komunitasnya notabene perempuan semua ! Tentu saja saya merasa lebih nyaman berada dalam sebuah group yang isinya perempuan semua. Kisah saya dengan group IIDN ini terus berlanjut. Setiap ada waktu membuka facebook, tentu saja saya langsung mengunjungi group IIDN ini. 

Dari IIDN ini saya tidak hanya menemukan berbagai pelajaran, tips, cara, serta pengalaman mengenai menulis. Ada beberapa kelas online IIDN yang bisa diikuti anggota IIDN pada waktu dan hari yang sudah terjadwal. Tentu saja hal ini hanya sebagian dari manfaat yang saya dapatkan dari IIDN. Hal lain yang menarik, saya menemukan teman-teman baru di IIDN yang begitu baik dan bersahabat. Bersama-sama kita belajar dan berbagi di group ini, tanpa ada perbedaan satu sama lain. Kalaupun ada sedikit perselisihan, itu merupakan hal yang wajar dalam sebuah pertemanan. Tidak perlu diributkan menjadi lebih besar. Toh setelah itu tetap bisa di selesaikan dan berjalan seperti biasa . Semuanya menjadi warna warni tersendiri dalam perjalanan saya bersama IIDN. 

 Terus terang, kegiatan yang paling saya senangin adalah saat Kopdar alias Kopi darat. Hehehe.. Ketika kopdar, kita akan bertemu secara tatap muka dengan anggota IIDN lainnya. Biasanya saya melakukan Kopdar dengan teman-teman satu daerah atau wilayah dengan saya. Kebetulan saya berada dalam wilayah IIDN Kaltim. Jangan ditanya bagaimana perasaan saya kalau bertemu dengan para ibu lainnya. Selalu penuh keceriaan dan kebahagiaan. Rasanya waktu kopdar tidak cukup untuk berbagi cerita hehehe... Begitu pula kalau saya sedang keluar daerah. Sebisa mungkin saya kopdar dengan teman-teman IIDN di daerah itu. Selain menambah silaturahmi, sekaligus menambah semangat saya untuk terus menulis. Apalagi bila bertemu dengan anggota IIDN yang sudah menghasilkan karya buku atau yang tulisannya sering 'nongol' di media. Duh.. Rasanya jadi pengen terus ketularan semangat nulisnya. Sepertinya apa yang saya rasakan, dirasakan juga oleh sebagian anggota IIDN disini kali ya ? Hehehe ... 



 Hhhmmm.. Mau curhat apalagi ya? Eh, ada lagi curhat yang sangat penting mengenai IIDN. Sering kali saya membaca postingan tulisan dari teman-teman IIDN khususnya mengenai motivasi menulis. Salah satunya dari bu founder IIDN cantik, mba Indari Mastuti. Untuk menjadi penulis, maka yang harus dilakukan yaitu 3 M. Menulis, Menulis dan Menulis. Ya, kalau ini saya sangat setuju. Menulis bisa dilakukan dengan cara terus berlatih, menulis menulis dan menulis. 

Banyak penulis terkenal memulai menulis dari nol, alias tanpa bakat menulis sama sekali. Ketekunannya untuk terus menulis, menulis, dan menulis, membuat karya-karya semakin baik dan menjadi best seller di antero jagat hehehe.. Bahkan nasib baik pun bisa berpihak, kala tulisan atau buku karya milik penulis itu akhirnya di filmkan Saya sendiri merasakan manfaat bagaimana bisa menelurkan beberapa karya selama menjadi anggota IIDN, antara lain For The Love Of Mom, Storycake For Mompreneur, Curhat Bisnis, dll, serta berbagai tulisan yang di muat di media cetak. Saya banyak belajar di IIDN, bagaimana menulis yang baik, tips menembus media, bahkan pengalaman dari anggota IIDN yang berbaik hati berbagi cerita yang sukses menghasilkan karya-karya. 

Menulis sebagai Terapi Jiwa 

 Apa hubungannya Menulis sebagai terapi jiwa dan IIDN? Tentu saja ada hubungannya bagi saya secara pribadi. Ketika suatu hari, saya menerima vonis penyakit kanker, yang nyaris membuat saya menjadi down dan terpuruk. Di saat-saat itulah, saya berbicara pada diri saya sendiri. Kanker boleh berusaha menggerogoti fisik dan mental saya. Namun tidak demikian dengan semangat dan pikiran saya, termasuk kecintaan saya untuk menulis, menulis dan menulis. Karena menulis adalah salah satu kebahagiaan yang membuat saya merasa lebih berarti. Karena menulis menjadi terapi jiwa saat saya merasa lelah, sedih, bahkan saat bahagia dan gembira saya. 

Dengan menulis saya menemukan banyak teman dan sahabat yang sama~sama memberikan arti tersendiri dalam hidup kami. Entah berbagai banyak alasan mengenai menulis yang sampai saat ini terus saya lakukan. Di IIDN lah saya menemukan banyak teman dan sahabat yang terus mendukung saya untuk terus menulis. Mereka terus memompakan semangat dan terus mendukung saya untuk menulis di tengah perjuangan saya melawan kanker. Saya menemukan arti persahabatan yang tulus dari teman-teman IIDN. Sebenarnya banyak cerita yang ingin saya ceritakan mengenai IIDN, tapi rasanya tidak memungkinkan saya ceritakan disini Bisa-bisa curhatnya sangat panjaaannnggg... Heheheh.. Semoga dengan bertambah usia, IIDN akan terus semakin maju dan berkembang. Serta bisa menjadi wadah positif bagi perempuan Indonesia untuk menggali potensi dan mengembangkan diri. Amin..

note : Tulisan ini pernah di muat di group FB IIDN