Saling Menguatkan Sesama Survivor Kanker

11:56 PM 0 Comments A+ a-

Aktifitas tiap pagi, menyapa dan berbagi cerita dan semangat dengan teman teman sesama survivor di beberapa group. Selalu ada kehangatan dan semangat yang tercipta bila menjalin komunikasi dengan mereka.

Walaupun kami dipertemukan karena sebuah vonis sakit yang sama, namun hal itu tidak membuat kami menjadi lemah dan merenungi nasib. Yang terjadi malah sebaliknya, kami semakin saling menguatkan dan support satu sama lain.

Dalam buku Kanker Bukan Akhir Dunia terbitan PT. Elex Media yang saya tulis, ada salah satu bab yang berkenaan dengan pentingnya saling mendukung bagi sesama survivor. Dengan begitu, survivor tidak akan merasa sendiri dalam menghadapi sakit.

Bahkan bisa saling memberikan kekuatan dan support untuk bisa semangat menaklukkan penyakit. Tidak hanya itu, berbagi pun bisa dilakukan kepada siapa saja. Hal itu akan berdampak positif bagi survivor sendiri.

Salah satu komunitas Support Kanker yang saya kenal sejak awal saya tervonis kanker yaitu CISC atau Cancer Information.and Support Center. CISC memang berbasis pusat di Jakarta, namun sekarang telah tersebar di berbagai kota di Indonesia. Ingin tahu lebih banyak tentang CISC, bisa buka link di bawah ini .

Yuk, mari sama sama peduli kesehatan, khususnya penyakit kanker

https://cancerclubcisc.wordpress.com/

Resensi Buku : Mila si Ikan Gabus Mahakam

11:17 PM 0 Comments A+ a-


Judul : Mila si Tempakul
Penulis : Hesti Daisy
Penerbit : Andi Publishing
Halaman : 26 hal
Tahun : 2014
ISBN : 978-979-29-4266-8

Mila, si ikan Tempakul, bersama tinggal di rimbunan akar bakau sungai Mahakam.  Mila memiliki tempat sepermainan bernama Geor.  Walaupun Geor lebih jago berenang, namun Geor sangat usil pada Mila.

Suatu hari, saat Mila sedang mengerjakan PR Matematika dari sekolah, Geor kembali membuat ulah. Geor memutar musik begitu keras sehingga membuat Mila tidak dapat belajar. Mila pun sangat kesal, lalu ia berteriak meminta Geor mengecilkan suara musiknya. Tetapi Geor tidak peduli, malah terus mendengarkan musik. 

Mila lalu mengadukan tingkah Goer pada ibunya. Ibu menasehati Mila agar berbicara baik-baik kepada Geor, bukan membalasnya dengan marah-marah.  Mila mengikuti saran ibu, dan ternyata Geor mau mendengarkannya.

Cerita Mila si Timpakul yang ditulis Hesti Daisy, memang mengandung nilai moral untuk di baca dan diberi ilustrasi menarik. Kisah Mila ini mengajarkan anak untuk belajar menyelesaikan masalah secara baik-baik dan bersikap lembut serta toleransi kepada orang lain.

Ikan Tempakul sering disebut pula dengan ikan gabus laut. Biasanya hidup di rimbunan akar bakau terbagus di delta sungai Mahakam. Ikan ini pandai memanjat akar-akar pohon bakau dan sangat suka melompat-lompat di lumpur.  Makanan ikan tempakul ini antara lain udang, kerang, cumi-cumi, semur rangrang, lalat, dan beberapa jenis tumbuhan.

Peresensi :
Tri Wahyuni Zuhri
(Penulis & Blogger)
Aktif di IIDN Kaltim, Perempuan Penulis Kaltim (PPK), Studio Kata

Note : Resensi ini dimuat di Tribun Kaltim

Ketika Para Blogger Bercerita Kasih Ibu

12:10 AM 11 Comments A+ a-

                                           Di muat di Tribun Kaltim, 11 Januari 2015

Judul : Hati Ibu Seluas Samudera
Penulis : Susan, Abdul Cholik, dkk
Penerbit : Sixmidad, Bogor
Halaman : xii + 624 Hal
Tahun : Desember 2014
ISBN : 978-602-0997-02-5

Apa yang terjadi, apabila 125 blogger berkolaborasi dalam satu buku yang berkisah tentang kasih seorang ibu? Tentunya akan menghasilkan sebuah buku yang menarik dan penuh inspiratif. Buku Hati Ibu Seluas Samudera yang berisi kisah-kisah inspiratif tentang ibu ini, di terbitkan oleh penerbit Sixmidad.

Awal ide buku ini terbit merupakan inisiatif dari Abdul Cholik, blogger asal Surabaya yang sudah malang melintang di dunia blogger dan penulisan.  Buku dengan tebal 624 halaman ini memang menyajikan kisah yang berbeda dengan buku-buku sejenis. Para blogger ini mampu mengolah kisah yang menyentuh tentang sosok ibu yang hadir dalam kehidupan mereka.

Kisahku Bersama Ibu yang di tulis oleh Susan, menjadi cerita pembuka dalam buku Hati Ibu Seluas Samudera. Dalam tulisan ini, Susan berceritakan tentang kehidupannya sejak kecil bersama kedua orang tuannya. Suatu ketika, sang ibu melakukan sebuah kesalahan yang nyaris membuat keluarga mereka hancur, hal itu membuat Susan menjauh dari sang ibu. Namun lambat laun, Susan mulai memaafkan dan memperbaiki hubungannya dengan ibu, terlebih saat Ibunya tervonis kanker.

Cerita lain datang dari Ira Indiana, blogger asal Balikpapan. Dala m kisah Aku Rindu Mama, Ira bercerita mengenai kerinduannya kepada mama yang tinggal terpisahkan jarak. Kerinduan itu semakin menguat kala Ira mengurai satu persatu kisah saat masih kecil hingga beranjak dewasa bersama sang mama. Seiring bertambah umur dan kemudian menikah, membuat Ira semakin sadar akan arti mama dalam hidupnya selama ini.

Nanang Henanto, blogger yang sekaligus seorang praktisi dalam pelatihan dan pengembangan, turut bertutur tentang sang ibu dalam buku ini. Lewat tulisan yang berjudul Ibuku Guru, ia bercerita bagaimana sang ibu yang berprofesi seorang guru mengajarkan perilaku dan contoh teladan padanya.  Ada tiga hal yang selalu diingatnya hingga sekarang, yaitu arti kerelaan, kemandirian dan kejujuran. Tiga hal tersebut yang di ajarkan sang ibu, selalu ia coba terapkan dalam kehidupan saat ini .

Antara Mama, Aku dan Kanker, merupakan tulisan dari Tri Wahyuni Zuhri.  Blogger yang juga seorang survivor kanker ini, bercerita tentang bagaimana sang mama selalu ada menemani, baik saat bahagia maupun terberat dalam hidupnya.  Salah satunya saat ia harus melewati hari-hari sulit melawan vonis kanker. Sang Mama dengan penuh kasih terus memberikan semangat dan mendukungnya untuk terus bangkit melawan kanker.

Hal yang menarik dalam buku ini, dari 125 penulis yang juga para blogger, terdiri dari rentang usia yang beragam.  Baik dari yang masih usia muda maupun ada yang memasuki usia senja.  Sebut saja Yati Rachmat, blogger perempuan kelahiran tahun1939. Walaupun telah usia senja, namun hal itu tidak mengurangi semangat Yati untuk menulis dan berbagi kisah tentang ibu.  Yati pun menyelipkan kisahnya sendiri sebagai seorang ibu saat harus mengurus dan merawat putranya yang kala itu berjuang melawan sakit.

Abdul Cholik sang inisiator buku ini, menghadirkan tulisan berjudul Hati Emak Tetap Lapang Walau Anak Lanang Jarang Pulang. Tulisan ini berkisah pengalaman hidupnya bersama dengan emak.  Purnawirawan Jendral Bintang Satu ini pun bercerita berbagai pemogokan saat masih kecil turut mewarnai sebagai bentuk protes kepada sang emak.  Kesibukannya dalam masa tugas  dan mengharuskan berada di penempatan yang sangat jauh dari tempat tinggal emak, tidak membuat Abdul Cholik melupakan sang ibu. Komunikasi saat itu terus berjalan melalui telpon atau surat.

Kisah-kisah dalam buku ini sangat inspiratif dan membuat pembaca bisa menangis haru setelah membaca.  Cinta kasih seorang ibu memang begitu luas seperti samudera, sehingga tidak ada balasan yang sebanding dari kita untuk membalasnya.  Buku ini memcoba membuka mata pembaca, tentang pengorbanan dan perjuangan para ibu demi kebaikan anak-anaknya.

Peresensi :
Tri Wahyuni Zuhri
(Blogger & penulis Buku Kanker Bukan Akhir Dunia)
Aktif di Studio Kata, IIDN Kaltim, Perempuan Penulis Kaltim (PPK)
Email : triwahyunizuhri@yahoo.com



Rumah Singgah Kanker

12:22 PM 0 Comments A+ a-

Beberapa hari lalu, saat saya kembali melakukan terapi pengobatan di rumah sakit, saya bertemu dengan beberapa teman baru sesama survivor kanker. Ya, saya memang sering sekali mengisi waktu dengan mengajak ngobrol sesama survivor di sela sela pengobatan saya. Bagi saya, bertemu dan berbicara dengan mereka, merupakan sesuatu hal yang menarik.

Kami tidak hanya berbicara tentang perihal penyakit masing masing, lebih dari itu. Tanpa sadar, kami pun saling menguatkan dan memberi semangat satu sama lain. Bahkan terkadang, kami berbagi tips dan trik untuk mengatasi rasa tidak nyaman atau nyeri akibat sakit tersebut.

salah satu survivor kanker yang kebetulan satu kamar dengan saya, yaitu seorang ibu dengan CA. Mammae atau kanker payudara. Ibu itu berasal dari satu daerah yang cukup jauh letaknya. Bayangkan saja, untuk sampai ke RS Umum Samarinda, ia harus menempuh perjalanan darat selama sehari semalam.

Keterbatasan fasilitas dan dokter khusus yang menangani masalah kanker di tempat tinggalnya, membuat si ibu harus di rujuk ke RS umum di ibu kota provinsi. Tentu saja hal itu cukup memberatkan sang ibu, selain biaya dan tenaga yang dikeluarkan cukup besar, ia pun harus sementara berpisah dari keluarga. Semua dilakukan demi kesembuhan dan memulihkan kondisi tubuh.

Terapi yang dilakukan si ibu yaitu kemotrapi dengan siklus 20 hari sekali selama 6 x. Jadi selama akan menjalankan terapi tersebut, si ibu memutuskan untuk mencari tempat tinggal sementara di Samarinda agar tidak perlu bolak balik ke tempat tinggalnya yang cukup jauh.

apa yang dialami ibu ini pun ternyata di alami oleh banyak pasien dari luar daerah Samarinda. Mereka akhirnya terpaksa tinggal sementara di Samarinda karena melakukan terapi yang memakan waktu cukup panjang. Pertimbangan menjaga fisik serta menghemat biaya, menjadi salah satu alasannya.

Memang, biaya pengobatan di cover sepenuhnya oleh BPJS. Tetapi tetap saja untuk biaya hidup, tempat tinggal dan akomodasi lainnya di tanggung sendiri. Lain ceritanya apabila ada keluarga atau teman yang bisa membantu menyediakan tempat tinggal. Namun bila tidak ada sanak saudara sama sekali, berarti harus siap siap menyisihkan budget khusus untuk biaya tempat tinggal.

Salah satu impian saya yang pernah saya tuliskan di blog adalah membuat rumah singgah kanker. Saya berharap, dengan keberadaan rumah singgah tersebut, banyak survivor kanker yang bisa terbantu untuk mengakomidir masalah tempat tinggal selagi dalam masa pengobatan. Selain itu, rumah singgah ini bisa dijadikan wadah atau tempat bagi para survivor untuk berkumpul dan sumber berbagi informasi serta pengetahuan tentang kanker.

mungkin keinginan ini masih jauh dari jangkauan saya, mengingat biaya membuat rumah singgah tidaklah sedikit. Namun seperti sahabat saya Sri Rahayu sering bilang pada saya, untuk selalu coba raih dan wujudkan impian tersebut.

Walaupun keinginan itu belum terwujud, saya pun tetap berdoa dan berharap, ada pihak pihak lain yang bisa mewujudkan rumah singgah kanker di daerah ini. Kalaupun memang itu mereka wujudkan, saya akan dengam senang hati membantu apa pun yang bisa saya lakukan untuk saling mendukung dan menguatkan sesama survivor. Semoga terwujud. Aminnn..

http://www.yunisukses.com/2014/08/mimpiku-wujudkan-rumah-singgah-kanker.html