Bedah Buku Belajar dari Universitas Kehidupan

5:30 AM 0 Comments A+ a-

Sumber : Tribun Kaltim




Cerita dari Bedah Buku Belajar dari Universitas Kehidupan *)
Oleh : Tri Wahyuni Zuhri, SP
(Koodinator IIDN KALTIM, STUDIO KATA)

Sumber belajar tidak harus di sekolah
Sumber belajar itu ada di kehidupan
Kehidupan adalah sumber belajar yang tak pernah kering

Begitulah sedikit dari paparan Syafruddin Pernyata saat Bedah Buku Belajar Dari Universitas Kehidupan. Bedah Buku yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 12 Januari 2012 bertempat di gedung Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur, merupakan acara yang di gagas oleh Komunitas Buku Etam bekerjasama dengan Badan Perpustakaan Provinsi Kaltim. Dalam acara tersebut hadir lebih 100 peserta yang berasal dari masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, dan akademika.
Belajar dari Universitas Kehidupan merupakan buku karya Syafruddin Pernyata yang berisi 30 kisah inspiratif yang diangkat dari kisah nyata yang biasa kita temui keseharian. Namun di tangan dingin seorang Syafruddin, kisah tersebut diramu menjadi kisah hebat yang mengandung banyak pelajaran yang bisa di petik. Maka tidak salah bila Syafruddin mengatakan sumber belajar tidak hanya di dapatkan dari sekolah, tetapi bisa dari kehidupan sehari-hari. Syafruddin mengibaratkan kehidupan sebagai sebuah universitas, alamater, perguruan tinggi bagi mereka yang menyadarinya.
Sebut saja kisah seorang ibu yang rela bekerja keras demi merawat keempat anaknya. Suaminya telah meninggal dunia, dan sang ibu harus bertahan untuk menghidupi anak-anaknya. Ia memilih pekerjaan yang halal walaupun harus mengurusi seorang nenek renta yang sering membuang (maaf) kotoran sembarang dan pikun.  Semua ia lakukan untuk memberikan nafkah halal untuk anak-anaknya.  Atau ada pula kisah seorang ibu yang  memilih membesarkan anaknya  sendiri karena  sering mengalami kekerasan fisik dari suaminya.  Berkat kerja keras tanpa menyerah, akhirnya ibu tersebut berhasil mengantarkan anaknya hingga wisuda dan meraih predikat cum laude.  Bahkan pada saat wisuda dan ketika namanya di panggil, sang anak langsung bersujud mencium sang ibu karena begitu terharu  atas penghorbanan sang ibu.
Cerita lain di buku tersebut mengisahkan seorang anak yang bernama Riska yang masih duduk di bangku SMP. Bagaimana Riska tanggap dengan berbagai pertanyaan yang sedang ngetrend saat ini. Sebut saja nama artis, nama penyanyi, atau nama band yang sedang laris manis. Hal ini karena pengaruh semakin majunya informasi teknologi melalui dunia elektronik dan dunia maya. Televisi, Facebook, twitter bahkan BB bukan barang baru untuk remaja sekarang. Sehingga mereka cepat menyerap informasi terbaru. Namun sayang, ketika ditanya siapa penulis Cracking Zone? Riska kesulitan menjawabnya. Terlebih pertanyaan-pertanyaan berbobot lainnya. Syafruddin seakan menyentil kita, dengan memperlihatkan bagaimana budaya membaca telah bergeser di masyarakat kita. Padahal membaca adalah jalan untuk mengasah hati nurani.  Serta banyak kisah-kisah lain di buku ini yang tidak hanya bisa membuat kita tersenyum, tetapi pula terharu bahkan menangis membacanya.
Dalam acara yang di pandu oleh Tri Wahyuni Zuhri, penulis sekaligus koordinator IIDN Kaltim. selaku moderator tersebut. Acara semakin menarik dengan menhadirkan pembedah yaitu Abdul Hakim. Hakim selain berprofesi sebagai guru dan penulis, Ia pun kerap meraih award atau penghargaan sebagai guru berprestasi di tingkat daerah dan nasional.  Banyak hal yang disampaikan Hakim saat membedah buku tersebut. Ia pun menyebutkan buku Belajar dari Universitas Kehidupan merupakan salah satu buku referensi yang baik untuk di baca. Selain menceritakan kisah kesehariaan dalam kehidupan sehari-hari, dengan bahasa dan tutur yang mudah di pahami. Hakim pun mengungkapkan buku tersebut bisa menjadi sumber belajar kehidupan bagi pembacanya.
Disela-sela tanya jawab, ada beberapa pertanyaan peserta yang cukup menarik, salah satunya mengenai bagaimana cara. Syafruddin membagi waktu dalam menulis dan pekerjaan. Seperti yang diketahui, Syafruddin Pernyata selain sebagai penulis, beliau juga berprofesi sebagai Kepala Diklat Provinsi Kaltim yang memiliki banyak aktfitas dan kegiatan. Namun ditengah kesibukan beliau tetap mampu menghasilkan karya tulisan yang menginspirasi. Kuncinya adalah tetap menulis walau di tengah kesibukan. Tentu saja jawaban ini menambah semangat peserta yang hadir untuk mengikuti jejak beliau untuk berkarya. Semoga kegiatan bedah buku dan penulisan seperti ini akan terus di laksanakan di Kaltim, sehingga dapat terus merangsang semangat membaca dan menulis menuju Kaltim Cerdas. Amin

Say No To KKN ! Berbagi Pengalaman Mengurus E KTP

4:52 AM 0 Comments A+ a-


Pelaksanaan E government di Indonesia khususnya di Kaltim memang sedang giat-giatnya dilaksanakan. Salah satu aplikasi dari pelaksanaan tersebut yaitu e - KTP. Terus terang, awalnya saya sempat bingung dengan e-KTP tersebut. Apalagi KTP yang saya miliki masih baru tanggal keluarnya dan tentu saja masih lama jatuh temponya.

Penulis siap-siap mau urus E -KTP
Namun, berhubung sebagai warga masyarakat yang taat peraturan, akhirnya saya pun turut beramai-ramai warga satu RT untuk pembuatan foto e KTP. Untuk jadwal pengurusan e. KTP diatur sedemikian rupa sesuai lokasi tempat domisili. Misalnya saja untuk kelurahan A yang terdiri dari beberapa RT, dilaksanakan pada Hari Senin, dan seterusnya. Mungkin hal ini dilakukan untuk menghindari membuldaknya antusias masyarakat untuk melakukan pembuatan e KTP. Termasuk saya sendiri yang antusias dan penasaran dengan pembuatan e KTP.
Berbekal surat panggilan yang telah dibagikan ketua RT dan telah tertulis tanggal, waktu serta tempat mengurus E KTP. Saya dan suami beserta anak kami menuju Kantor kecamatan tempat tinggal kami. Saya ingat sekali, saat itu saya sudah berangkat pagi-pagi dari rumah, karena berharap tidak banyak antrian. Ternyata dugaan saya salah, sesampai disana ternyata telah banyak kerumuman masyarakat yang telah antri untuk mengurus e KTP.
mau rekam sidik jari dulu
Banyak hal yang saya dapatkan hari itu. Selain bagaimana tata cara atau mekanisme e KTP. Saya pun dapat melihat respon masyarakat terhadap e KTP tersebut. Memang sebagian dari masyarakat merasa antusias dan bersemangat mengurus e KTP tersebut. 
Hal ini di karenakan begitu besar manfaat dari e KTP itu sendiri. Sebagai warga negara Indonesia, memiliki e KTP berarti kita memiliki nomor induk kependudukan (NIK) secara nasional. Karena data kita telah di rangkum dalam data base pusat. Walaupun kelak kita berpindah-pindah tempat tingga, data kita akan tetap valid dan tetap bisa di akses dimana pun.
Namun ternyata tidak semua masyarakat yang memahami tujuan dari e KTP tersebut. Ada sebagian malah terkesan ogah-ogahan ataupun tidak antusias. Penggurusan e KTP dianggap memakan waktu dan berbelit-belit.

Bagi saya hal itu wajar dalam masyarakat terjadi pro dan kontra. Toh, bila suatu pemerintah memberikan perubahan yang lebih baik termasuk pelayanan publik, tidak serta merta akan diterima oleh masyarakat. Karena bagaimana pun kultur yang terjadi dalam masyarakat yang berbeda-beda, demikian pula pemahaman mereka terhadap perubahan, khususnya dalam pemanfaatan teknologi, informasi dan komunikasi.

E KTP, E Government dan Good Governance
Apa hubungannya antara e KTP, e government dan good governance? Tentu saja erat berhubungan. E KTP merupakan salah satu bentuk empletansi dari e goverment. 
E goverment merupakan sendiri adalah bentuk pelayanan pemerintah secara elektronik terkait berbagai aplikasi pelayanan publik berbasis internet. Di harapkan dengan pelaksanaan e goverment akan mewujudkan good governance atau tata pemerintaan yang baik di Indonesia khusus di Kaltim.
E KTP Indonesia


Good governance merupakan praktek penerapan kewenangan pengelolaan berbagai urusan. Penyelenggaraan negara secara politik, ekonomi dan administratif di semua tingkatan. Dalam konsep di atas, ada tiga pilar good governance yang penting, yaitu: Kesejahteraan rakyat (economic governance). Proses pengambilan keputusan (political governance). Tata laksana pelaksanaan kebijakan (administrative governance) .  Walaupun masih banyak pesimis mengenai penerapan good governance di Indoensia, tetapi banyak pula yang masih berkeyakinan hal itu dapat di wujudkan.  Terlebih masyarakat kita sekarang lebih pintar secara pendidikan, maju dalam pemikiran, dan lebih cepat mengupdate teknologi, informatika serta komunikasi (TIK).  Saya pun optimis semua bisa di wujudkan.

Say No to KKN !
Mungkin kita masih ingat bagaimana pengurusan KTP model lama sebelum adanya e KTP tersebut. Pengurusan KTP tersebut terkadang rentan oleh KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme).
Hal ini rasanya sudah menjadi rahasia umum. Sebut saja ada seorang yang memiliki 2 KTP atau lebih dengan domisili yang berbeda. Bahkan ada pula yang memiliki beberapa KTP dengan menyamarkan identitas sesungguhnya. Tentu saja ini dilakukan dengan tujuan-tujuan tertentu. Salah satu kasus korupsi yang ramai dibicarakan belakangan yaitu kasus Melinda Dee, salah satu pejabat dari sebuah bank yang di duga melakukan pencucian uang. Hal yang menarik, ternyata suami Melinda memiliki beberapa KTP dengan nama berbeda.
Atau ada pula oknum yang memanfaatkan KTP ini untuk memalsukan identitas untuk hal-hal yang negatif, misalnya saja untuk menikah lagi. Nah, dengan KTP baru tersebut mereka dengan mudah mengganti identitas untuk menikah kembali. Atau ada pula buronan yang mempergunakan KTP palsu untuk melarikan diri dari kejaran pihak berwajib.  Serta banyak cerita tentang caruk maruk KTP ini.

Tentu saja tidak ada api bila tidak ada asap. Maksud saya tidak mungkin terjadi KTP ganda, apabila tidak ada oknum yang terlibat. Dengan praktek KKN, tentu saja hal itu bisa terjadi. Misalnya saja dengan menyuap, ataupun karena mempunyai hubungan dekat atau nepotisme. . Bahkan hal ini terjadi semacam budaya tersendiri bagi masyarakat. Sehingga rasanya tidak mungkin mewujudkan good governance atau tata pemerintahan yang baik apabila terus menerus terjadi budaya tersebut. Walaupun tidak menutup kemungkinan masih banyak orang pemerintahan yang tetap memegang janji untuk melayani masyarakat secara baik dan jujur.

kampanye anti KKN
Pelaksanaan e government khususnya penerapan e KTP merupakan saat satu cara untuk mewujudkan good governance tersebut. Karena masyarakat yang telah memiliki e KTP tidak memungkinkan memiliki KTP ganda. Sehingga meminimalisir kemungkinan proses KKN kembali. Saya tetap optimis hal itu bisa dilakukan. Asalkan ketiga aktor penting dalam menunjang good goverment, yaitu pemerintah, masyarakat, dan swasta dapat bekerja sama mewujudkannya. Ayo sebagai masyarakat, kita mulai mencegah KKN dari diri sendiri :) Semoga ... Amin..

Kaltim Pasti Bisa ! Pelaksanaan E Government, Salah satu Upaya Mewujudkan Good Governance di Kaltim

12:56 AM 1 Comments A+ a-



Kabar menggembirakan bagi masyarakat Kalimantan Timur. Pelaksanaan e Goverment atau yang biasa di singkat menjadi e gov, sedang giat-giatnya di laksanakan di Kalimantan Timur. Tentu saja hal ini diharapkan dapat membantu peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Terlebih memang tujuan dari e goverment ini untuk meningkatkan efisiensi, kenyamanan dan aksesibilitas pelayanan publik yang lebih baik dari sebelumnya.
e government
Diharapkan e government merupakan salah satu Upaya untuk menuju penerapan good governence di Indonesia, khususnya di Kalimantan Timur. E goverment sendiri mengandung pengertian penggunaan teknologi informasi oleh pemerintah untuk memberikan informasi dan pelayanan kepada masyarakat. Informasi dan pelayanaan tersebut terkait urusan bisnis, serta hal-hal lain yang berkenaan dengan pemerintahan. e-Government dapat diaplikasikan pada legislatif, yudikatif, atau administrasi publik, untuk meningkatkan efisiensi internal, menyampaikan pelayanan publik, atau proses kepemerintahan yang demokratis. Beberapa pelayanan e government yang telah dilakukan antara lain Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), Lelang Pengadaan Barang Secara Elektronik (LPSE),e KTP, SIMDA online, SIMBADA, termasuk pengembangan terkini e-Healty dan lainnya.

Dengan pelaksanaan E government ini diharapkan selain dapat meningkatkan pelayanan seperti yang di sebutkan diatas, juga dapat meminimalisasi dan memfilter hal-hal yang negatif. Antara lain pemanfaatan pelayanan untuk kepentingan politik, praktek KKN, peradilan yang tidak adil, bekerja di luar kewenangan, dan kurangnya integritas dan transparansi.

Optimis Pelaksanaan E Government Menuju Good Governance Kaltim.
Sebagai warga Kaltim, saya pribadi optimis dalam pelaksanaan e goverment di Kaltim. Walaupun memang banyak hal yang harus dilakukan dan di benahi, namun saya tetap berkeyakinan pelaksanaan e government bisa berjalan dengan baik.
Walaupun dalam pelaksanaan e goverment di Kaltim menimbulkan kesan tersendiri bagi masyarakat. Ada masyarakat yang merasa terbantu dengan e goverment karena lebih mudah, efisiensi dan cepat. Tapi tidak menutup kemungkinan ada masyarakat yang tidak terlalu nyaman dengan keberadaan e government, karena dianggap terlalu ribet, terlalu prosuder, dan banyak alasan lainnya.
Sebenarnya hal ini wajar dalam masyarakat, tidak hanya di Kaltim tetapi di seluruh Indonesia. Penerapan sistem pemerintahan yang lebih baik terlebih dengan memanfaatkan teknologi dan informasi komunikasi (TIK) terkini, salah satu contohnya mempergunakan e government. Memang tidak lantas diterima begitu saja oleh masyarakat, swasta dan mungkin oleh pelaku dalam hal ini pemerintah. Penyesuaian dan adaptasi program ini memang membutuhkan waktu, biaya dan tenaga yang tidak sedikit. Sehingga tidak jarang masih banyak yang menyangsikan keberhasilan e government ini.
Padahal e government ini merupakan impelementasi salah satu program prioritas di Kaltim. Terutama terkait dengan program reformasi birokrasi dan tata kelola pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Hal ini yang biasa di sebut dengan good governance. Good governance sendiri mengandung tiga terminologi yang masih rancu dengan istilah dan konsep good governance, yaitu: good governance (tata pemerintahan yang baik), good government (pemerintahan yang baik), dan clean governance (pemerintahan yang bersih). Menurut UNDP (United National Development Planning).  Good governance merupakan praktek penerapan kewenangan pengelolaan berbagai urusan. Penyelenggaraan negara secara politik, ekonomi dan administratif di semua tingkatan. Dalam konsep di atas, ada tiga pilar good governance yang penting, yaitu:  a. Kesejahteraan rakyat (economic governance) b.Proses pengambilan keputusan (political governance). c. Tata laksana pelaksanaan kebijakan (administrative governance) .
Sejatinya Indonesia sedang mengarah untuk mewujudkan good governance, sehingga dalam penerapannya di harapkan seluruh daerah dapat bersatu padu dalam bekerjasama mewujudkannya.  Dalam good governance sendiri telah di sebutkan akan ada 3 stake holder yang berperan yaitu pemerintah daerah, sektor swasta dan masyarakat.

3 Stake Holder atau Aktor dalam Good Governance
Interaksi antar ketiga stake holder dalam mewujudkan good governance harus dapat berjalan seiring sejalan.   Salah satu cara seperti yang di jelaskan sebelumnya yaitu melalui pelaksanaan e - government di Indonesia, khususnya di Kaltim.  Walaupun dalam pelaksanaan tersebut belum maksimal, tetapi saya berkeyakinan Kaltim Pasti Bisa mewujudkannya, asalkan Pelaksanaan E Government, Salah satu Upaya Mewujudkan Good Governence di Kaltim

Kaltim dan Penghargaan
Sejak dicanangkan oleh Gubernur Kaltim, Awang Farouk pada tahun 2009, penerapan e goverment, memang mengalami peningkatan. Hal ini terbukti, dengan program-program e goverment yang telah dilaksanakan dan mendapat penghargaan secara nasional. Sebut saja program Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) yang menduduki peringkat ketiga nasional setelah Kemendagri dan Jawa Barat. Begitu pula denga program Lelang Pengadaan Barang Secara Elektronik (LPSE) , Kalimantan Timur sebagai satu daerah yang berhasil menjalaninya.
LPSE Kaltim yang Mendapat Pengakuan Nasional.
Go Kaltim !

Tentu saja keberhasilan ini menjadi tolak ukur bagaimana pelaksanaan e goverment di Kaltim. Namun tidak lantas keberhasilan ini membuat Kaltim berdiam, karena masih banyak pembenahan-pembenahan yang tetap harus dilakukan. Mengingat kemajuan tekhnologi dari waktu kewaktu yang semakin mengalami peningkatan cukup pesat, demikian pula masyarakat Kaltim yang sudah terbuka pola pikir dan menginginkan transparansi serta pelayanan terbaik untuk publik.
Untuk tetap menjaga kinerja e goverment pada setiap instansi memang perlukan terus dilakukan pengawasan, evaluasi dan penilaian setiap saat. Dengan demikian setiap instansi akan terus berlomba-lomba dan menunjukkan prestasi dalam pelaksanaan e goverment dilingkungannya. Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim, selaku SKPD yang memfasilitasi e goverment di Kaltim harus bertindak lebih aktif untuk memberikan pengarahan, pemahaman, wawasan serta penilaian secara bijak kepada instansi-instansi tersebut. 
Terlebih memang misi dari Diskominfo yang memang selaras untuk sama-sama mewujudkan good governance di Kaltim.  Seperti yang saya kutip di website Diskominfo, mengenai misi dari Diskominfo tersebut antara lain Meningkatkan koordinasi operasional dan adminstratif dengan instansi vertikal dan horisontal sektor komunikasi dan informatika, Meningkatkan pembinaan dan pengawasan sektor komunikasi dan informatika, Mempertahankan dan meningkatkan sarana dan prasarana Komunikasi dan Informatika, Menyiapkan aturan hukum tentang pengelolaan dan pelaksanaan Komunikasi dan Informatika di Kalimantan Timur dan Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia. 
Semoga dengan bertambahannya usia Provinsi Kalimantan Timur ke 56 ini, akan menambah semangat pelaksanaan e goverment lebih maksimal dan bersih dari unsur-unsur KKN, sehinga menuju perwujudan good governance di Kaltim .  Hingga akhirnya  menjadikan Kaltim sebagai Zona Intergritas menuju Wilayah Bebas Korupsi.  Amin...


Resensi Novel Never Give Up Karya Inni Indarpuri

11:51 PM 0 Comments A+ a-


Selalu Ada Jalan di Tengah Kesulitan

Oleh : Tri  Wahyuni Zuhri, SP
(Koordinator IIDN Kaltim,
Macibaku Bontang, STUDIO KATA)
Novel Never Give Up


 Judul                  : Never Give Up
Penulis                : Inni Indarpuri
Jumlah halaman    : 232
Penerbit              : Kalika
Tahun                  : 2012

Satu lagi karya penulis asal Kalimantan Timur yang terbit awal tahun 2013 ini, yaitu Novel Never Give Up karya Inni Indarpuri. Novel ini merupakan novel ketiga dari Inni. Novel sebelumnya yang berjudul Diantara Dua Cinta dan Gampiran, mengusung setting lokalitas Kalimatan Timur yang khas. Hal berbeda dengan novel Never Give Up ini. Selain bergenre remaja yang penuh cerita, novel ini pun mengambil Kota Samarinda sebagai setting latarnya.
Dikisahkan tokoh utama dalam novel ini yaitu Puri, seorang gadis remaja yang masih duduk di bangku SMA. Awalnya kehidupan Puri dan keluarga sangat berkecukupan dari segi materi dan penuh kebahagiaan. Hingga ayahnya di vonis menderita penyakit kanker stadium lanjut, mengakibatkan perekonomian keluarga menurun drastis untuk pengobatan sang ayah. Namun hal itu tidak membuat Puri dan keluarga menyerah. Mamanya dengan penuh cinta turut berperan menopang perekonomian sekaligus menguatkan semangat keluarganya untuk terus berjuang hidup tanpa menyerah. Walaupun akhirnya jiwa ayah Puri tidak tertolong karena penyakitnya tersebut.
Masalah yang dihadapi Puri dan keluarga ternyata tidak berhenti begitu saja. Rehana, kakak perempuan Puri, di vonis terkena penyakit Lupus. Lupus merupakan penyakit yang cukup menakutkan. Selain lupus bisa merusak organ tubuh secara terstruktur, akibat yang ditimbulkan penyakit ini bisa menyerang kerusakan jaringan kulit, ginjal bocor, jantung, otak dan syaraf. Apa yang dialami Rehana, ternyata tidak lantas membuatnya putus asa. Disela-sela kenyataan dan perjuangannya menghadapi penyakit lupus, Rehana tetap berusaha menyelesaikan studi pendidikannya. Ia pun selalu berusaha memberikan semangat positif kepada Puri maupun orang-orang sekelilingnya.  Diceritakan pula di novel ini, bagaimana Ridwan sang suami Rehana, yang tetap tulus dan setia mendampingi, walaupun kondisi Rehana yang sudah sakit. Penulis mencoba menggambarkan bagaimana cinta Rehana dan Ridwan menjadi sumber
Kekuatan mereka menjalani hari-hari yang penuh rintangan dan air mata itu.
Tentu saja karena novel ini bergenre remaja, tidak lepas dari kisah remaja pada umumnya. Penulis cukup mahir melukiskan tokoh Puri yang berusia remaja dengan segala ceritanya. Termasuk bagaimana perasaan suka Puri dengan seorang teman sekolahnya bernama Fuad. Atau cerita mengenai persahabatan yang terjalin antara Puri dan kedua sahabatnya, Fifi dan Agustini. Bagaimana mereka bertiga menjalani masa-masa indah bersama di SMA. Termasuk ketika mereka memberi dukungan dan kekuatan saat Puri pun belakangan diketahui terkena penyakit Lupus.

Kolaborasi 3 Penulis Perempuan Kaltim

3:21 AM 0 Comments A+ a-




Bedah Buku & Talkshow Hari Ibu :
Kolaborasi 3 Penulis Perempuan Kaltim
*) Oleh : Tri Wahyuni Zuhri
(Trainner Penulisan, Koordinator IIDN Bontang,
Koordintor MACIBAKU Bontang, Studio Kata)

Ibu, merupakan sebutan mulia bagi seorang perempuan yang melahirkan dan membesarkan kita. Selama 9 bulan lebih, Ibu mengandung kita dalam rahimnya. Semua dilakukannya dengan penuh pengorbanan dan perjuangan hingga akhirnya melahirkan kita ke dunia ini. Tidak salah rasanya tanggal 22 Desember di abadikan sebagai hari Ibu. Hari Ibu dianggap sebagai penghargaan untuk kasih sayang dan jasa-jasa seorang ibu.
Tepat tanggal 22 Desember 2012,  bertempat di Gedung Perpustakaan Provinsi Kaltim, akan diadakan Talkshow dan Bedah Buku dengan Tema "Karya Para Ibu Untuk Kaum Ibu". Acara yang di gagas oleh Komunitas Buku Etam bekerja sama dengan Badan Perpustakaan Kalimantan Timur, memang di dedikasikan  untuk memperingati hari ibu. Diharapkan melalui acara tersebut dapat meningkatkan minat baca di kalangan kaum ibu dan membangun budaya gemar membaca bagi keluarga melalui ibu.
Hal lain yang menarik dari acara ini yaitu menghadirkan kolaborasi tiga penulis perempuan asal Kalimantan Timur yang karyanya sudah dipublikasikan secara nasional. Ketiga penulis itu adalah Inni Indarpuri dan Tri Wahyuni Zuhri sebagai pembicara, serta Sari Azis selaku moderator acara. Ketiga penulis perempuan ini memang sering bekerjasama untuk turut mendukung kampanye budaya menulis dan membaca di masyarakat, khususnya di Kalimantan Timur.

Pembicara  Tri wahyuni zuhri, inni Indarpuri
dan moderator Sari Azis

Sari Azis sendiri merupakan penulis Kaltim yang produktif menghasilkan karya. Novel perdananya Ssst. I'm playgirl pernah di terbitkan Gagas Media. Begitu pula dengan karya cerpen-cerpennya yang diterbitkan di majalah nasional maupun  berupa buku. Bahkan belakangan ini, Sari menjadi editor dari beberapa buku, dan menjadi contributor tetap di sebuah majalah nasional.

Catatan dari Talkshow Sastra dan Launching Buku Simfoni Bilqis

3:13 AM 0 Comments A+ a-




Catatan  dari Talkshow Sastra dan Launching Buku Simfoni Bilqis

Oleh : Tri Wahyuni Zuhri, SP
( Koordinator IIDN Bontang,
Koordintor MACIBAKU Bontang, Studio Kata)

Beberapa waktu yang lalu tepatnya tanggal 29 November 2012, saya berkesempatan menghadiri acara Talkshow sastra serta launching buku Simfoni Balqis. Acara tersebut digagas oleh Buku Etam, yaitu Komunitas Pencinta Buku dan Perpustakaan bekerjasama dengan Badan Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur serta PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) di Yaman.
Acara yang berlangsung di gedung Provinsi Perpustakaan Kaltim, menjadi sangat menarik karena menghadirkan tiga pembicara yang berkompeten dalam bidangnya. Pembicara pertama,  Korrie Layun Rampan, sastrawan asal Kaltim yang namanya sudah dikenal secara nasional. Pembicara kedua yaitu Erni Suparti Morgan, penulis yang juga berprofesi sebagai Dosen Fakultas Ilmu Bahasa,  serta Dhenok Pratiwi, jurnalis dan cerpenis Kaltim.  Sedangkan acara dipandu oleh moderator yaitu Amien Wangsitalaja, yang juga menjabat sebagai ketua Buku Etam.

para pembicara, moderator dan penulis buku simpony bilqis


Talkshow sastra tersebut mengangkat tema mengenai Fenomena Cerita Mini dalam Sastra Indonesia. Tema tersebut terkait dengan buku Antologi Simponi Balqis yang dilauncing pada hari tersebut. Buku Simponi Balqis sendiri merupakan buku yang di gagas oleh Persatuan Pelajar Indonesia di Yaman. PPI mengadakan sayembara Cerita Mini Internasional (SCMI) PPI Yaman periode 2011-2012. SCMI  merupakan ajang pena yang digelar untuk memperebutkan Master Of Writer Internation melalui jejaringan sosial.  Dari lomba tersebut, dipilih 100 kisah mini untuk dibukukan yang di bagi menjadi dua bagian buku.