Ketika Kankerku Bermetastasis Kembali

5:31 PM 89 Comments A+ a-


Sebenarnya sejak lama saya ingin menuliskan mengenai hal ini. Namun, saya baru sempat merealisasikan tulisan ini sekarang. Mengingat begitu banyak pertanyaan dari teman-teman dan pembaca blog serta buku "Kanker Bukan Akhir Dunia" .

Sedikit bercerita pada sejarah awal ketika saya menerima vonis kanker tiroid.   Saya akui, memang saya terlambat mendeteksi kanker dalam tubuh saya. Di awal tahun 2013, saya langsung menerima vonis kanker tiroid stadium lanjut yang sudah bermetasis atau menyebar ke tulang belakang. Ya, bukan lagi vonis stadium awal, tetapi langsung stadium lanjut yang sudah bermetastasis.

Tidak hanya syok dan kaget dengan vonis kanker tersebut, saya juga harus menerima kondisi fisik saya yang semakin melemah dan merasakan sakit nyeri setiap saat.  Tentu saja hal ini membuat saya semakin terpuruk, terlebih saya merasa kematian begitu dekat menghampiri.

Saya bersyukur memiliki, suami, orang tua, anak anak yang sangat menyupport dan mendukung saya. Belum lagi dukungan dari keluarga besar dan teman-teman. Dukungan yang luar biasa yang tidak pernah saya duga sama sekali. Akhirnya saya memutuskan untuk terus berjuang menghadapi kanker. 

Saya juga bersyukur bertemu dengan dokter onkologi yang baik dan berkompeten di bidangnya. Dokter onkologi pun menjelaskan berbagai rencana pengobatan dan terapi untuk menghadapi kanker tiroid. 

Serangkaian pengobatan dan terapi akhirnya saya lakukan. Yang pertama yaitu operasi pengangkatan benjolan tiroid di leher. Kemudian di lanjutkan dengan radiasi interna atau ablasi nuklir iodine 131 di  Jakarta.  Serta rutin meminum obat hormon tyrax setiap hari. Fungsi obat hormon ini sebagai pengganti fungsi tiroid pada tubuh kita. Biasanya di anjurkan untuk meminum obat tyrax, 2 jam sebelum makan pagi.  ( cerita pengobatan saya bisa di baca di sini

Berhubung kondisi saya yang sudah metastasis yang cukup berdampak pada kondisi tulang belakang. Akhirnya dokter menambahkan terapi tambahan,  yaitu kemo tulang dengan obat tulang  Bondronate sebulan sekali. Obat Bondronate ini sangat bermanfaat bagi pasien kanker yang sudah bermetasis ke tulang belakang seperti saya. Salah satu fungsinya untuk mempertahankan kondisi tulang belakang yang kurang cantik (hehehe) karena serangan kanker tiroid.

Banyak pertanyaan masuk ke saya, bagaimana sebenarnya pengobatan kanker tiroid sebenarnya.  Seperti yang pernah saya jelaskan di blog saya mengenai kanker tiroid ( bisa baca  http://yunirahmat.blogspot.co.id/2014/01/kanker-tiroid.html?m=1), sebenarnya kanker tiroid memang pengobatannya yang umum yaitu operasi pengangkatan tiroid. Kemudian di lanjutkan untuk radiasi interna atau ablasi nuklir iodine 131, serta wajib rutin meminum obat hormon tyrax setiap hari.

TETAPI, ternyata tidak semua kasus kanker tiroid bisa di samakan. Kasus dan kondisi saya memang BERBEDA dengan pasien kanker tiroid lainnya. Selain saya memang terlambat mendeteksi kanker yang juga berpengaruh akhirnya terlambat pengobatan kanker.  Selain itu, kanker saya termasuk agresif dan sudah bermetastasis atau menyebar ke organ lain yaitu tulang belakang dan belakangan ketahuan ada penyebaran juga di paru paru.  Karena itulah, penanganan pengobatan dan terapi saya agak berbeda dengan pasien kanker tiroid lainnya.

Saya sendiri tidak terlalu menyesali apa yang terjadi pada diri sekarang. Apapun yang saya alami sekarang, saya yakin kalau Allah mempunyai maksud baik untuk hidup saya. Saya tinggal menjalani dan berusaha sebaik baiknya, termasuk terus berusaha, berobat dan terus berdoa.

Ketika Kanker Kembali bermetastasis

Pada perjalanan pengobatan kanker tiroid yang saya alami sejak tahun 2013 sampai pertengahan tahun 2015, memang menunjukkan hasil yang signifikan.  Namun, di bulan Juli 2015, saya mengalami perubahan dalam tubuh saya.   Tanpa saya sadari, ternyata muncul  kembali metastasis baru di tulang belakang. Hal ini di perkuat dengan hasil pemeriksaan MRI tulang belakang. Kondisi inilah yang menyebabkan saya tidak bisa melakukan berbagai aktifitas, hanya banyak istirahat di tempat tidur.

Banyak yang bertanya kepada saya, mengapa sampai terjadi metasis kembali, padahal saya sudah menjalani berbagai pengobatan. Termasuk juga mengapa saya sampai berkali kali melakukan operasi pengangkatan benjolan di leher. Untuk menjawab hal ini, sebelumnya saya perlu memberikan berbagai penjelasan. 
Saya di jenguk para sahabat
Pada kenyataan setiap kasus kanker pada seseorang tersebut bisa jadi berbeda dengan orang lainnya. Padahal bisa jadi mereka memiliki jenis kanker yang sama. Begitu pula yang terjadi pada saya dan mungkin dengan orang yang memiliki jenis kanker yang sama dengan saya.  Ada banyak hal yang bisa mempengaruhi perbedaan tersebut, misalnya saja perbedaan stadium kanker tersebut. Atau bisa jadi karena tingkat ke agresifan dari si kanker yang berbeda.

Dalam kasus saya, memang dari awal sudah terlambat mendeteksi kanker. Sehingga bisa di katakan terlambat berobat.  Apalagi dokter mengakui memang kanker tiroid saya sangat agresif perkembangannya, sehingga beberapa kali mengalami kekambuhan.  Namun, bagaimana pun juga saya terus berusaha untuk menjalani pengobatan.  Tidak ada kata menyerah dalam hidup saya.

Untuk kasus kanker saya yang kembali bermetastasis ke tulang belakang,  memang membuat saya kesulitan untuk berjalan.  Padahal saya sendiri masih harus melakukan lanjutan radiasi nuklir atau ablasi di Jakarta. Sedangkan posisi tempat tinggal saya di Samarinda, Kalimantan Timur.

Mengingat kondisi metastasis atau penyebaran kanker ke tulang belakang yang cepat serta adanya penyebaran di paru-paru, namun kondisi fisik saya yang tidak memungkinkan untuk berangkat ke Jakarta.  Akhirnya dokter onkologi memutuskan untuk melakukan terapi  kemoterapi doxorubicin sebanyak 6 x (bisa di baca  http://yunirahmat.blogspot.co.id/2015/12/ketika-harus-kemoterapi.html?m=0 ).   Maksud diberikan terapi kemo doxorubicin ini adalah untuk menghambat penyebaran kanker lebih banyak lagi.

Memang dalam kondisi kanker tiroid, pengobatan radiasi interna atau ablasi nuklir ioidine 131 adalah yang efektif di banding terapi lainnya.  Namun,  kondisi saya tidak memungkinkan berangkat ke Jakarta untuk pengobatan radiasi. Sehingga di putuskan untuk melakukan kemoterapi di Samarinda dulu.  Saya harap penjelasan di atas bisa menjawab banyak pertanyaan kepada saya, mengapa saya harus di kemoterapi beberapa waktu yang lalu.

Saat ini kondisi saya masih terus stabil.  Hanya saja, metastase kanker di tulang belakang masih terus ada. Hal ini di perkuat dengan hasil MRI terbaru bulan Juni 2016 tadi.  (Bisa di baca  http://yunirahmat.blogspot.co.id/2016/06/ketika-harus-mri-lagi.html?m=1 dan  bisa di baca di  http://yunirahmat.blogspot.co.id/2016/06/perjuangan-belum-berakhir-lanjutan-dari.html?m=1 ya).  
Sedangkan kondisi fisik saya masih tidak memungkinkan untuk melakukan pengobatan radiasi nuklir iodine 131 di Jakarta.

Dokter onkologi saya pun kembali berdiskusi dengan tim dokter  onkologi berserta tim dokter radioterapi. Akhirnya di putuskan untuk di lakukan radiasi sinar pada daerah metastasis di tulang belakang. Harapannya agar, massa dari metatasis penyebaran di tulang belakang bisa mengecil.  Dan bila memungkinkan saya  melanjutkan untuk radiasi nuklir ioidine 131 di Jakarta.  Mudah mudahan bisa terwujud. Aminnn..

Alhamdulillah juga, terhitung sejak bulan Mei 2016 ini, RS Umum A Wahab Syahranie tempat saya berobat sekarang, telah beroperasi Radioterapi sinar.  Tentu saja ini kabar mengembirakan bagi saya serta pasien kanker lainnya.

Dengan adanya Radioterapi RS Umum A Wahab Syahranie, sangat bermanfaat sekali untuk pasien kanker melakukan terapi sinar di sini. Karena sebelumnya, pasien kanker yang harus melakukan radioterapi sinar, harus jauh jauh berangkat ke Luar daerah seperti Jakarta atau Surabaya berobat.
 
Semoga saja, pemerintah dan pihak.rumah sakit bisa terus memperbaiki fasilitas rumah sakit menjadi lebih baik. Harapannya saya pribadi, semoga juga kedepannya akan hadir kedokteran nuklir di Samarinda. Sehingga memudahkan kami para pasien kanker tiroid untuk melakukan pengobatan radiasi nuklir iodine 131 di Samarinda saja. Amin amin..

Saya juga berharap agar teman teman sesama survivor kanker khususnya kanker tiroid untuk terus semangat dan tidak menyerah.  Bagaimana pun juga, harapan dan keajaiban selalu ada, bila kita terus berusaha dan berdoa. Amin.

Bersahabat dengan Cetaphil Gentle Skin Cleanser

7:04 AM 5 Comments A+ a-



Semenjak memutuskan untuk tinggal kembali di Kota Samarinda, saya sudah  memaklumi bagaimana kondisi dan cuaca di kota ini.  Kota Samarinda sendiri terletak di wilayah tropis dan beriklim tropis basah.  Sehingga saya sendiri tidak terlalu kaget dengan cuaca di Samarinda yang  memiliki temperature udara cukup tinggi. 

Seringkali saya bertemu dengan cuaca yang  panas karena terik matahari, serta debu yang cukup tebal menempel di wajah.  Atau bisa juga cuaca berubah dengan tiba-tiba dengan hujan selama berhari-hari.  Tentu saja, dengan adanya perubahan cuaca sedemikian tiba-tiba, ternyata berpengaruh untuk kebersihan wajah.

Apabila saya tidak sering-sering memperhatikan kebersihan wajah, maka bisa di jamin, selain wajah tampak kusam, kotor, berminyak, bahkan bisa memberikan ruang untuk tumbuhnya jerawat di wajah saya.  Untuk urusan perawatan wajah sendiri, sebenarnya saya inginnya memakai produk yang bagus dan serba praktis. Hal ini juga mengingat saya tidak cukup banyak waktu untuk lebih memperhatikan kesehatan dan kebersihan wajah. Apalagi jenis kulit wajah saya termasuk jenis sensitive yang tidak bisa sembarangan menggunakan produk pembersih wajah,
           
Sebagai seorang ibu dengan tiga anak  bertanggung jawab untuk mengatur urusan rumah tangga dan pekerjaan sebagai penulis, tentu waktu saya cukup tersita mengurusi semua.   Rasanya memang tidak memungkinkan bila saya harus menggunakan waktu berjam-jam untuk urusan merawat wajah.

Hingga suatu saat, saya  mengobrol dengan teman  mengenai produk pembersih wajah.  Ia kemudian menceritakan mengenai produk Cetaphil Gentle Skin Cleanser kepada saya.  Teman saya tersebut bercerita mengenai kelebihan produk ini dan ternyata produk ini sangat di kenal tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di luar negeri.  Bahkan saya bisa menemukan banyak review dan video terkait produk Cetaphil Gentle Skin Cleanser. Tentu saja, produk ini langsung menarik perhatian sekaligus rasa penasaran saya.

Akhirnya rasa penasaran saya terhadap produk ini terjawab, setelah saya mendapatkan kiriman produk Cetaphil Gentle Skin Cleanser.  Cetaphil  ini sendiri merupakan produk perawatan kulit  yang telah mendapatkan pengakuan dari berbagai lembaga kecantikan dan kesehatan dunia. Selain itu, produk ini juga telah memenangkan berbagai penghargaan.  Hal itu sudah menjadi jaminan bagi saya untuk tidak ragu-ragu menggunakan Cetaphil Skin Cleanser.

Cetaphil baik digunakan untuk segala jenis kulit lho.  Tidak hanya bisa di gunakan untuk wajah saya yang sensitive ini, bahkan bisa di gunakan segala jenis kulit lain maupun kulit bayi sekalipun.  Bagi saya, berarti produk ini memang aman dan berkualitas, terbukti bisa di gunakan untuk kulit bayi juga. Tahu aja kan, kulit anak atau bayi itu benar-benar sangat sensitive dan tidak boleh sembarangan menggunakan produk perawatan.  Hanya produk terbaik dan aman yang bisa di gunakan, dan Cetaphil yang bisa menjawab itu semua.

Mengenal Lebih Dekat Blogger Fauzia Subhan

12:58 PM 25 Comments A+ a-


Rasanya senang sekali saya bisa berkenalan lebih dekat dengan teman-teman blogger dan menuliskan kisah mereka di blog saya.  Selalu ada cerita dan manfaat yang saya dapatkan dari teman-teman blogger tersebut.

Nah, kali ini saya akan menuliskan mengenai salah satu sosok mom blogger yang tidak kalah kerennya.  Sosok mom blogger tersebut adalah Fauziah Subhan  atau yang akrab saya  panggil dengan mba Zia Subhan.  Saya mengenal mba Zia, selain beberapa kali mengunjungi blog beliau, juga karena kami sama-sama bergabung dalam komunitas blogger yang sama.

Selain sebagai blogger, mba Zia juga seorang guru private. Tentu saja berbagai aktifitas tersebut tidak melupakan tugas utama mba Zia sebagai ibu rumah tangga dari ibunda dari Vito, putranya. Dalam blog mba Zia, saya membaca tulisan mba Zia mengenai putranya tersebut. Saya langsung bisa membayangkan bagaimana kehadiran Vito membuat kebahagiaan dan kekuatan tersendiri bagi mba Zia.  Apalagi melihat foto-foto kebersamaan dengan Vito di berbagai akun sosmed mba Zia.

Dalam bagian about Me di blognya, mba Zia menjelaskan kalau ia sangat menyukai dunia penulisan. Baik sebagai penulis lepas, blogger, maupun citizen journalist. Ada banyak hal yang bisa ia dapatkan dengan menulis. Dan yang lebih menarik lagi, selain suka mendengarkan musik, ia juga bisa memainkan beberapa alat musik seperti gitar, piano dan biola. Benar-benar multi talenta banget ya.

Oh ya, kita lanjut bicarain mengenai blog mba Zia ya. Ada banyak hal yang membuat saya tertarik mengenal lebih dekat dengan mba Zia. Salah satunya karena mba Zia punya blog khusus berbahasa Inggris yaitu www.zeelhouette.com. Terus terang saja, saya agak jarang menemukan blogger Indonesia yang menuliskan isi blognya dengan bahasa Inggris. Mba Zia merupakan  salah satunya. 

Tentu saja, menulis dengan bahasa Inggris di blog bukanlah perkara yang mudah. Selain harus memperhatikan bagaimana tata bahasa inggris yang benar, penulis juga harus bisa membuat tulisan di blognya tetap enak di baca. Dan mba Zia bisa melakukannya dengan baik, sehingga menjadikan blognya juga menarik untuk di baca.

Perjuangan Belum Berakhir (Lanjutan dari Ketika Harus MRI Lagi)

12:29 PM 25 Comments A+ a-


Perjuangan saya menghadapi kanker ternyata belum berakhir. Bahkan saya harus menambah berbagai amunisi dan kekuatan agar bisa bertahan dari serangan kanker :) 

Ibarat sebuah medan pertempuran dari kedua kubu yang berlangsung terus menerus. Mereka berusaha menunjukkan kekuatan masing-masing. Demikian juga perjuangan dan pertempuran saya berhadapan dengan kanker.

Setelah menjalani MRI beberapa waktu yang lalu (bisa di baca di sini) , akhirnya saya mendapatkan hasil MRI dan mengkonsulkan ke dokter onkologi saya.

Sebenarnya saya sempat melihat hasil MRI itu sendiri sebelum bertemu dengan dokter.  Felling saya sudah mengatakan ada hal yang tidak beres dengan hasil MRI tersebut. Bukan hanya dari membaca dari laporan hasil MRI yang terlihat, tetapi juga melihat langsung foto MRI tersebut. 

Tampak ada massa yang cukup besar di bagian bawah tulang belakang. Saya langsung menebak, kalau massa itu pula yang bisa teraba dari luar belakang badan belakangan ini.

Saat bertemu dengan dokter onkologi, beliau langsung menanyakan kabar saya seperti biasanya. Nah, inilah yang saya membuat saya dan pasien lain merasa di senang dan di hargai.  Saya jadi agak lebih tenang dan tidak terlalu tegang menunggu hasil MRI. Tahu aja kan, kalo pasien kanker itu kadang sudah mumet sendiri dan kadang suka deg-degan menunggu hasil pemeriksaan hehehe.

Dokter onkologi lalu mulai membuka amplop besar hasil MRI saya.  Ia pun membaca lembaran hasil MRI dan di lanjutkan melihat foto-foto MRI pada tempat khusus membaca hasil foto.  Tampak sekali beliau begitu teliti memperhatikan foto demi foto hasil MRI saya. Dan bersamaan itu pula, saya merasakan jantung saya berdetak tidak karuan menanti hasil MRI.

Ternyata..
Memang benar, masih ada metastase tulang belakang akibat kanker tiroid di tempat sebelumnya. Nah, yang membuat kaget, ada sebuah massa benjolan baru di tulang belakang bagian bawah. Massa itu bahkan seperti menyelubungi tulang pada bagian tersebut.   Untuk lebih memastikan apa massa benjolan tersebut, dokter onkologi lalu merujuk saya ke dokter bedah syaraf. 

Dokter onkologi meminta agar bisa di biopsi benjolan tersebut dan dilanjutkan tindakan yang akan di lakukan oleh dokter bedah syaraf.
Sedangkan saya? Saya hanya bisa mengangguk angguk sambil mencoba mencerna kembali apa yang di katakan dokter onkologi. Yang jelas, saya bisa lebih jelas bahwa ternyata masih ada metastase di tulang belakang.  Dan hebohnya lagi, ternyata munculnya benjolan baru di tulang belakang, belum bisa di ketahui penyebabnya.  Ehmmm.. ternyata, perjuangan saya masih panjang.


Oh iya, saat di rumah sakit, saya sempat di jenguk sama mba Inni Indarpuri, sahabat sekaligus rekan penulis. Kami memang sengaja janjian di rumah sakit untuk bertemu.  Kehadiran mba Inni sangat membuat semangat saya kembali yang sempat galau gara-gara hasil MRI hehhee. Terima kasih ya mba Inni.

Bertemu dengan Dokter Bedah Syaraf

Pertemuan dengan dokter Bedah Syaraf merupakan pertemuan yang paling saya nantikan. Bahkan rencana pertemuan ini hampir membuat saya nyaris tidak bisa tidur beberapa hari heheheh.

Pagi itu, saya ke rumah sakit di jemput oleh ambulan rumah sakit. Bolak balik ke rumah sakit dengan menggunakan ambulan, membuat saya hapal betul dengan para perawat ambulan. Bahkan kami sering sekali berbagi cerita di dalam ambulan tersebut. Ehh, sebenarnya saya sih yang banyak cerita. Mereka lebih banyak mendengarkan dan menimpali ocehan saya hahahaha.

Sesampainya di rumah sakit, sudah ada keluarga saya yang menunggu disana.  Mereka sudah mengurus pendaftaran sedari pagi di rumah sakit. Berhubung, kondisi tulang belakang saya yang tidak cukup baik, Saya pun tetap berbaring cantik di ranjang milik ambulan.  Ranjang saya pun akhirnya di bawa menuju ruang poli bedah syaraf.

Syukur alhamdulillah, tak lama akhirnya nama saya di panggil oleh perawat poli.  Saya pun segera bertemu dengan dokter bedah syaraf. Dokter bedah syaraf yang saya temui, merupakan dokter senior di rumah sakit. Saya juga banyak mendengar bagaimana keramahan dan sekaligus prestasi beliau menangani pasien bedah syaraf.

Beliau lalu membaca hasil pemeriksaan MRI saya, kemudian mengamati foto-foto MRI dengan teliti.  Karena posisi ranjang saya di letakkan di samping tempat duduk beliau, jadi saya bisa mudah mendengarkan apa yang beliau katakan.

Beliau lalu menjelaskan bagaimana kondisi tulang belakang saya sesungguhnya. Sebenarnya penjelasan beliau kurang lebih dengan penjelasan dokter onkologi. Hanya saja beliau lebih detiil lagi ketika menjelaskan bagaimana proses tindakan operasi yang bisa di lakukan untuk mengangkat benjolan tersebut .

Beliau menjelaskan, kalau seandainya di lakukan operasi, maka jenis operasi itu operasi besar. Di samping membutuhkan tindakan medis serius, ternyata operasi ini juga bisa  memiliki dampak atau efek bagi saya. Hal ini mengingat kasus penyakit saya sendiri yang bukan kasus biasa, apalagi dengan kondisi tulang belakang yang sudah termetastase kanker.  Saya langsung membayangkan betapa rumit dan beresikonya bila operasi itu di lakukan.

Biopsi Benjolan di Tulang Belakang

Untuk lebih memastikan benjolan di tulang belakang, dokter bedah syaraf tetap merujuk saya untuk di biopsi. Biopsi tersebut di lakukan oleh dokter patologi. 

Saya bersama keluarga segera bergerak menuju ruangan patologi rumah sakit. Saat itu telah ada beberapa pasien yang menunggu giliran biopsi. Saya pun akhirnya menunggu di ruang tunggu pasien patologi.

Sekitar 1 jam menunggu, akhirnya nama saya di panggil juga. Dokter patologi yang menangani saya sekarang ternyata  dokter patologi yang sebelumnya biopsi saya beberapa waktu lalu. Tentu saja beliau cukup familiar dengan saya. Mungkin juga karena saya terkenal sebagai pasien yang suka banyak ngobrol ya hehehe..

Proses biopsi benjolan tulang belakang ternyata tidak serumit yang saya bayangkan. Berhubung benjolan tersebut bisa teraba dari luar bagian belakang tubuh saya, sehingga dokter patologi lebih memudahkan melakukan biopsi. Proses biopsi biasanya menggunakan jarum kecil untuk mengambil sampel cairan dari benjolan tersebut.

Bagaimana rasanya biopsi? Rasanya sebenarnya tidak terlalu sakit. Sama hal seperti sakit sedikit di gigit semut. Yang penting, usahakan kita tidak terlalu tegang saat di lakukan biopsi. Kalau masih merasa takut dan tegang, maka bisa juga menutup mata sembari berdoa dalam hati :D Insya allah rasa takut dan tegang tersebut jauh berkurang.

Akhirnya setelah menunggu cukup lama. Hasil biopsi berhasil saya dapatkan. Dari hasil biopsi dapat di simpulkan kalau benjolan baru di tulang belakang tersebut bersumber dari metastase kanker tiroid.  Hasil biopsi itu lalu saya bawa kembali ke dokter bedah syaraf.

Lalu Bagaimana Selanjutnya?
Setelah mendapatkan hasil biopsi benjolan tulang belakang, dokter bedah syaraf merujuk saya kembali ke dokter bedah onkologi. Tindakan operasi benjolan tersebut memang tidak memungkinkan untuk di lakukan.

Saat ini, saya masih menunggu jadwal kontrol bertemu dengan dokter onkologi.  Semoga saja bisa di dapatkan solusi terbaik untuk kelanjutan pengobatan saya ini. Amin

Ketika Harus MRI Lagi

12:50 PM 38 Comments A+ a-

Bulan Juni ini menjadi bulan yang penuh perasaan deg-degan bagi saya. Sebab bagaimana tidak, saya harus menjalani lagi pemeriksaan MRI  yang ke tiga kalinya.

Pada pemeriksaan kali ini, dokter onkologi saya meminta pemeriksaan MRI tulang belakang, leher dan thorax.  Untuk pemeriksaan MRI tulang belakang, memang harus dilakukan di karenakan kanker sudah menyebar di tulang belakang.

Apalagi belakangan ini muncul lagi benjolan di area tulang belakang yang teraba dari luar tubuh. MRI bagian leher untuk melihat sejauh mana perkembangan keadaan kanker tiroid di daerah tersebut. Saya sih berharap kalau daerah leher itu udah bersih heheheh.. Amin amin.

Nah, sedangkan MRI thorax untuk melihat sejauh mana perkembangan metastase atau penyebaran kanker di paru-paru.  Terakhir sih, saya sempat rontagen thorax bulan Januari kemarin, sewaktu mau operasi tiroid yang ke 5.  Hasilnya? Memang ada beberapa titik penyebaran di paru-paru.

Terkadang saya mikir juga, kenapa ya pakai di borong semua penyakit ini heheheh. Belum lagi tiap hari berjibaku dengan rasa nyeri dan sakit. Benar-benar klop rasanya. Tapi saya biasanya buru-buru coba alihkan pikiran. Mudah-mudahan rasa sakit ini bisa menjadi penebus dosa-dosa saya sebelumnya. Amin amin amin. Bantu mendoakan ya teman-teman :)

Ketika Mahasiswa Menulis Mengenai LGBT, Kesetaraan dan "Bubuhannya"

1:21 PM 2 Comments A+ a-

Sumber foto : Facebook Mahasiswa Penulis

Saat pertama kali melihat launcing buku "(Bukan) Cangkir yang Menganga" ini di wall facebook Mba Unis Sagena, saya langsung tertarik sekaligus penasaran dengan buku ini. 

Ada beberapa alasan yang membuat saya tertarik. Pertama, tentu saja dari judul buku (Bukan) Cangkir yang Menganga". Di benak saya berfikir, atas dasar apa hingga muncul judul buku ini? Membuat saya benar-benar penasaran untuk membaca langsung isi buku tersebut.

Alasan kedua karena topik tema yang diangkat mengenai LGBT, Kesetaraan, dan "Bubuhannya" di mata Mahasiswa.  Seperti yang kita tahu, kalau topik tersebut khususnya masalah LGBT, belakangan ini memang santer sekali di bicarakan dan di perdebatan.  Demikian pula topik kesetaraan dan "bubuhannya", yang selalu menjadi bahasan menarik sepanjang waktu.

Alasan ketiga, yaitu para penulis buku ini merupakan para mahasiswa Universitas Mulawarman yang menuliskan berbagai tulisan tersebut dengan sudut pemikiran dan gaya mereka. Walaupun di dalam buku ini juga terdapat beberapa penulis tamu lain, tetap saja tulisan-tulisan para mahasiswa ini menjadi inti kekuatan dari buku ini.  
Saya bersama dua orang penulis buku, Aliyah dan Melisa

Lebih Dekat dan Belajar Ilmu Kecantikan Bersama Blogger Roosvansia

5:00 AM 18 Comments A+ a-

Saya suka happy banget kalau berkunjung ke blog yang cantik dan isinya menarik perhatian saya.   Salah satu kategori blog yang membuat saya tertarik mengunjungi, yaitu blog beauty yang isinya  tentang kecantikan, make up, skincare, dan sejenisnya.
Sumber : foto pribadi Roosvansia
Nah, saya bersyukur bisa bergabung dengan group arisan link kelompok 6 yang di adakah komunitas Blogger Perempuan. Di group ini, saya banyak bertemu dengan para blogger perempuan yang blognya keren-keren. Salah satunya mba Roosvansia, blogger beauty yang cantik dengan blognya www.roosvansia.com .