Perjuangan Melawan Penyakit Langka


Judul :  Perjuangan dr. Meyliana Primavita Asharie Melawan Penyakit Langka
Penulis : Inni Indarpuri
Penerbit  : Kalika
Tebal : 160 Halaman
Tahun : 2016

Mungkin belum banyak masyarakat yang mengenal penyakit Primary Amoebic Meningoencephalitis  atau yang biasa di sebut PAM.  Primary Amoebic Meningoencephalitis  sendiri merupakan Penyakit langka yang di sebabkan oleh amoeba.

Buku Perjuangan dr. Meyliana Primavita Asharie Melawan Penyakit Langka yang di terbitkan Kalika ini, bercerita mengenai perjalanan hidup almarhum dr. Meyliana. Terutama bagaimana kisah keseharian beliau hingga perjuangannya menghadapi penyakit Primary Amoebic Meningoencephalitis,   penyakit langka  yang akhirnya baru terdiagnosis penyebabnya, menjelang akhir hidup dr. Meyliana.

Bahkan apa yang terjadi pada dr. Meyliana Primavita Asharie, di anggap  merupakan kasus langka di Indonesia. Kasus yang terjadi pada dr. Meyliana merupakan kasus pertama yang dilaporkan di Indonesia dan akan dibawa ke seminar Parasit Internasional. Di perkirakan, sejak tahun 1965, hanya ada 440 kasus penyakit ini yang di temukan di dunia.

Dokter  Melly merupakan dokter muda lulusan dari Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman.  Bagi Melly yang merupakan putri dari bapak  Hartono Hanan dan Ibu Asnah Hanan, menjadi dokter adalah sebuah impian dan cita-cita yang sangat mulia.  Terlebih dari kecil, dia di kenal sebagai anak yang cerdas dan pintar di sekolahnya. 

Selain itu,  Melly memiliki kepribadian baik dan hangat  yang membuatnya sangat di sayangi dan di cintai oleh keluarga dan teman-temannya.  Ia pun merupakan sosok yang mandiri dan pemberani.  Ada berbagai kisah indah dan menarik yang di ungkapkan cerita dari kedua orang tua, keluarga dan teman-temannya mengenai Dokter Melly di buku ini.

Setelah menyelesaikan pendidikan coass dokter di RS Umum A Wahab Syahranie Samarinda, dokter Melly melanjutkan intership di Puskesmas Sepinggan Balikpapan.  Dokter Melly merupakan dokter yang berdedikasi tinggi, terutama ketika melayani pasien. Hal itu pula yang di sampaikan oleh rekan-rekan sejawatnya selama menjalani intership di Balikpapan. 

Dokter Melly dengan tulus mengobati pasien dan bahkan mendengarkan keluh kesan pasien yang sedang berobat. Selain itu, pernah pula ia meluangkan waktu untuk turut dalam kegiatan sosial di luar intership. Semua di lakukannya dengan iklas tanpa imbalan apapun.

Ketika menyelesaikan masa coass dan menunggu panggilan intership, Dokter Melly memiliki berbagai kegiatan antara lain membantu teman-temannya yang coass dan mengisi kegiatan di group Fokus.  Selain itu, ia pun mempunyai agenda  berenang bersama teman-temannya. Kegiatan berenang ini ternyata terus berlanjut ketika Dokter Melly melakukan intership di Balikpapan. 

Tepat pada masa tugas 4 bulan pertama masa intership di Puskesmas Sepinggan Balikpapan, Dokter Melly merasakan kesehatannya mulai terganggu.  Ia merasakan sakit kepala berbeda dan berkepanjangan, yang tidak bisa reda dengan obat penahan nyeri. Walaupun begitu, Dokter Melly tetap berusaha melaksanakan tugasnya dengan baik sebagai dokter untuk melayani para pasien.

Ketika rasa sakit yang di rasakan dokter Melly sudah mulai tidak tertahankan,  akhirnya ia kontrol ke dokter Syaraf.  Pengobatan yang di berikan pun ternyata belum menunjukkan hasilnya, sehingga dokter Melly di rujuk untuk opname di rumah sakit.  Dengan berbagai pertimbangan,  kedua orang tua memutuskan untuk membawa dokter Melly pulang ke Samarinda dan opname di RS Umum A Wahab Syahranie Samarinda.

Dokter Melly pun harus menjalani serangkaian pemeriksaan dan perawatan, tetapi di sisi lain kondisi fisiknya belum menunjukkan kemajuan berarti. Tim dokter terus berupaya mencari tahu penyebab dari sakit yang di derita dokter Melly.  Di sela-sela menjalani perawatan di rumah sakit maupun di rumah, dokter Melly tetap menunjukkan keceriaan dan perhatiannya kepada keluarga dan teman-temannya.  Ia masih sempat meluangkan waktu  mengobrol dan memberikan semangat kepada mereka.

Seiring berjalannya waktu, ternyata kondisi dokter Melly belum membaik. Tim Dokter masih terus berupaya mencari penyebab dari penyakit yang di alami dokter Melly. Titik terang penyakit Primary Amoebic Meningoencephalitis  yang di derita dokter Melly baru di dapatkan dalam pemeriksaan tim dokter pada 8 Maret 2016.   Saat itu itu kondisi Melly sudah dalam keadaan kritis dan panas tinggi, walaupun masih ada pergerakan kaki dan tangannya.  Baik pihak keluarga dan tim dokter tetap mengupayakan untuk mendapatkan obat Amphotericin B untuk melawan penyakit Primary Amoebic Meningoencephalitis  .

Sempat menjadi pertanyaan besar, apakah karena   hobby berenangnya yang mengakibatkan dokter Melly terpapar amoeba?  Padahal ia selalu mengajak teman-temannya ketika berenang.  Ada banyak dugaan yang menjadi penyebab hingga dokter Melly bisa terpapar amoeba.  Salah satu yang memungkinkan adalah karena di saat berenang, kondisi tubuhnya tidak fit, di tambah ia telah terjangkiti penyakit lain yang membuat kondisi tubuhnya semakin rentan  bila terpapar amoeba.

Tim dokter terus berusaha semaksimal mungkin mendapatkan obat Amphotericin B tersebut yang memang sangat sulit di dapatkan,  kondisi dokter Melly semakin tidak menentu.  Selama masa penantian tersebut, baik keluarga maupun teman-teman dokter Melly selalu berdatangan memberikan support dan doa untuknya. 

 Upaya terakhir mendapatkan obat tersebut berbuah hasil, namun bersamaan dengan kondisi dokter Melly yang kritis dan tidak memungkinkan untuk di berikan obat tersebut. Hingga akhirnya dokter Melly meninggal dunia di tengah perjuangannya melawan penyakit Primary Amoebic Meningoencephalitis .

Kisah perjuangan dokter Melly melawan penyakit Primary Amoebic Meningoencephalitis   memberikan banyak pelajaran berharga dan hikmah bagi kita semua. Sosok dokter Melly yang tidak hanya memiliki kepribadian hangat dan juga sangat di cintai oleh orang-orang yang mengenalnya.  

Tetapi juga kita bisa belajar dari perjuangan beliau   untuk lebih mengetahui apa sebenarnya penyakit Primary Amoebic Meningoencephalitis   yang di sebabkan oleh amoeba ini.  Selain itu, kita bisa melakukan upaya preventif sejak dini untuk menghindari penyakit ini.  Sehingga kasus serupa yang di alami dokter Melly bisa dapat di cegah ataupun bisa di tangani dengan segera.

Catatan : Resensi ini di muat di Tribun Kaltim, Minggu 28 Agustus 2016

Kiat-kiat dalam Menjalani Kemoterapi Kanker


Dalam beberapa postingan saya sebelumnya, saya pernah membahas pengalaman menjalani kemotrapi.  Seperti yang sudah pernah saya jelaskan juga, bahwa penyakit kanker yang saya derita yaitu kanker tiroid.  Sebenarnya, pengobatan kanker tiroid biasanya dengan cara operasi dan di lanjutkan dengan ablasi atau radiasi nuklir dengan menggunakan iodine 131.


Pengobatan radiasi nuklir iodine 131 ini hanya bisa di laksanakan di beberapa rumah sakit yang memiliki instalasi kedokteran nuklir, antara lain RS Dharmais, RS Hasan Sadikin, RS MRCCC Siloam, dan beberapa rumah sakit lainnya.  Dan tentu saja dengan catatan, pasien di utamakan yang bisa mampu atau mandiri secara fisik.  Mengingat pada saat ablasi, pasien akan di isolasi selama beberapa hari di dalam ruang isolasi khusus.


Di pertengahan tahun 2015, kondisi saya tidak memungkin untuk berpergian keluar kota untuk melanjutkan pengobatan radiasi nuklir. Hal ini di sebabkan karena metastase kanker di tulang belakang yang cukup menganggu mobilitas saya. Sehingga dengan berbagai pertimbangan, dokter akhirnya memutuskan untuk melakukan kemoterapi.


Apa sih Kemoterapi Itu?

Kemoterapi adalah bagian dari terapi pengobatan yang biasanya di lakukan untuk pasien kanker.  Dalam buku saya “Kanker Bukan Akhir Dunia”, saya menjelaskan mengenai kemoterapi ini. Kemotrapi sendiri di lakukan dengan cara memasukkan obat-obatan ke dalam tubuh pasien.  Tujuan dari kemoterapi ini adalah untuk menghancurkan atau mem perlambat  pertumbuhan sel-sel kanker. Obat-obatan tersebut biasanya akan di masukkan melalui cairan infus ataupun ada pula yang di berikan dalam bentuk tablet di minum.

Sebelum menjalani kemoterapi, biasanya untuk tahap awal, pasien harus menjalani prosedur tertentu. Dokter yang menangani pasien, biasanya akan menentukan berbagai pemeriksaan yang harus di jalani pasien.  Saya sendiri sebelum menjalani kemoterapi, harus menjalani pemeriksaan cek EKG Jantung, Rontagen paru-paru, hingga pemeriksaan hasil laboratorium  yang biasanya melihat Darah rutin, lab SPOG SPGT, lab fungsi ginjal, dan lain-lain.  Karena saya sendiri merupakan pasien Ca. Tiroid, dokter meminta saya memeriksakan cek laboratorium terkait tiroid, yaitu T3 T4, TSHs, Tiroglublin dan anti tiroglubin.  (Beruntung semuanya di cover langsung oleh BPJS.  Terima kasih BPJS J ) Yang jelas, ketika akan kemoterapi, harus memastikan tubuh kita benar-benar fit dan sehat

Setelah melakukan pemeriksaan yang di butuhkan dalam prosedur kemoterapi, maka dokter akan menentukan obat kemoterapi yang di berikan serta berapa kali siklus kemoterapi.  Masing- masing pasien  tentu saja akan berbeda obat dan siklus kemoterapi yang di berikan oleh dokter.  Saya sendiri waktu itu di berikan obat kemoterapi doxorubicin dengan siklus 6 kali kemo, di mana di lakukan selama per 3 minggu sekali. 

Untuk pelaksanaan kemoterapi sendiri biasanya di lakukan di ruang kemoterapi khusus di rumah sakit. Saya sendiri melakukan kemoterapi di ruangan kemoterapi rumah sakit Umum A Wahab Syahranie Samarinda. Nah, sebelum melakukan kemoterapi, biasanya dari pihak petugas kemoterapi akan menjelaskan prosedur kemoterapi yang di lakukan.  Bahkan mereka juga akan menjelaskan kemungkinan-kemungkinan dari efek kemoterapi yang akan di laksanakan pasien.  

Tapi jangan kuatir, biasanya kita akan di berikan berbagai obat yang di butuhkan baik saat kemoterapi maupun obat untuk di bawa pulang kerumah.  Biasanya sih, obat yang di bawa pulang ke rumah itu berupa obat mual, obat anti muntah, dan vitamin hehehehe.   

Selain itu juga, perlu saya jelaskan, dalam menjalani kemoterapi memang tidak sama tiap obat yang di berikan kepada pasien kemo.  Demikian juga dengan waktu rawat inap di ruang kemoterapi rumah sakit.  Ada yang cukup satu hari kemoterapi, dan ada pula yang memerlukan waktu berhari-hari untuk kemoterapi. Ini bisa jadi dilihat dari sedikit atau banyaknya jenis obat kemoterapi yang di berikan. Hal lain yang jadi pertimbangan yaitu kondisi pasien saat menjalani kemoterapi tersebut.


Efek Samping Kemoterapi

Sebelum berlanjut mengenai efek samping kemoterapi, biasanya ada saja yang bertanya pada saya bagaimana sih suasana kemoterapi itu? Menyakitkan kah? Menakutkan kah? Atau bagaimana.

Dulu, waktu belum pernah tahu mengenai kemoterapi, saya sendiri sempat was-was dan kuatir dengan pengobatan kemoterapi.  Tapi beruntung saja, teman-teman survivor kanker banyak yang membagi pengalaman mereka menghadapi kemoterapi.  Tentu saja hal ini sangat membantu sekali membuka wawasan dan pengetahuan saya mengenai kemoterapi.

Dan benar saja, saat saya menjalani kemoterapi, semua rasa was-was dan kuatir itu tidak  beralasan lagi.  Di ruang kemoterapi sebenarnya sama saja dengan ruangan di rumah sakit lainnya.  Hanya saja di ruangan kemoterapi, memang di khususkan untuk pasien yang menjalankan kemoterapi hehehe. Suasananya pun tidak seseram dan menakutkan seperti yang di pikirkan.  Biasanya pasien akan di sediakan ranjang rumah sakit  saat menjalani kemoterapi. Oh ya, bahkan di rumah sakit tertentu, pasien malah di berikan tempat duduk khusus kemoterapi. Jadi tidak berupa ranjang rumah sakit yang saya alami.  Sepertinya sih memang tergantung dari rumah sakitnya masing-masing.

Selain itu juga selama kemoterapi, kita masih bisa melakukan aktifitas lainnya.  Misalnya saja main hape (ahahahhaha... ini saya banget deh), baca buku, nonton tv (kalo di ruangannya tersedia tv ya), trus bisa juga sambil ngobrol dan gosip sesama pasien  (hihihi.. ini juga saya benget).  Pokoknya ada banyak hal-hal yang menarik bisa di lakukan di rumah sakit. 

Ini juga salah satu tips saya untuk teman-teman yang menjalani kemoterapi ya. Pokoknya selama kemoterapi, usahakan hati tetap tenang dan bahagia.  Itu bermanfaat banget lho untuk menyukseskan proses kemoterapi kita hihihi.


Nah, sekarang kita bicarakan mengenai efek kemoterapi  ya. Perlu di ketahui juga, untuk efek kemoterapi masing-masing pasien itu kadang berbeda-beda lho.  Bisa jadi dari pengaruh obat kemoterapi yang diberikan, atau bisa juga dari kondisi fisik pasien kemoterapi.  Karena itu, seperti yang saya sampaikan sebelumnya, ada baiknya kita terus menjaga kondisi tubuh selama menjalani kemoterapi.
Berikut ini, ada berbagai efek kemoterapi yang mungkin di rasakan.

1.  Mual dan muntah
Biasanya memang efek kemoterapi yang sering terjadi adalah mual dan muntah.  Tapi jangan kuatir ya, karena sebelum dan sesudah pemberian obat kemoterapi akan di berikan obat mual dan obat anti muntah untuk mengurangi efek tersebut.  Seandainya saja mual dan muntahnya tetap mengganggu setelah menjalani kemoterapi, maka tidak ada salahnya langsung di konsultasikan kembali ke dokter ya.

2.Susah makan
Kalau susah makan ini ,biasanya pengaruh karena perut yang tidak nyaman karena perasaan mual atau pengen muntah, atau bisa jadi karena hilangnya selera makan.  Hal ini juga saya alami lho.  Saya merasakan sekali bagaimana susahnya untuk menelan makanan, di sebabkan perut yang tidak berkompromi.  Dalam masalah ini, kita jangan menuruti rasa susah makan ini. Bagaimanapun juga, kita butuh asupan makanan dan gizi dalam menjalani kemoterapi. Kita bisa menyiasatinya dengan makanan yang lembut seperti bubur hangat, sup dll. Selain itu juga, jangan di paksa makan langsung dengan porsi besar sekaligus. Kita bisa saja makan porsi sedikit namun sering.


Bagi pasien , sangat dianjurkan untuk makan bergizi dan biasanya di utamakan makanan yang banyak mengandung protein.  Selain itu, sangat harus di perhatikan kebutuhan cairan bagi pasien, bisa dengan banyak mengkonsumsi air putih, minum juise buah.

Oh ya, sekarang sudah ada juga lho susu khusus untuk pasien kanker yang sedang menjalani terapi.  Meminum susu khusus itu sangat membantu bagi pasien yang menjalani terapi. Sedikit cerita ya, di rs umum tempat saya menjalani kemoterapi, pihak rumah sakit menyediakan segelas susu khusus bagi pasien kanker yang sedang menjalani kemo di ruangan kemoterapi.  Terima kasih rumah sakit AWS 

3. Hasil Pemeriksaan Darah tidak signifikan
Dalam pengobatan kemoterapi, memang biasanya berpengaruh pada hasil pemeriksaan darah pasien, khususnya Hemagloblin (HB) dan Leukosit.  Perlu di ketahui juga, dalam setiap siklus kemoterapi, biasanya kita akan di evaluasi kembali terutama terkait laboratorium darah rutin terutama HB dan Leukosit. 

Bila HB dan Leukosit kita tidak sesuai dan di bawah dengan angka rujukan, bisa di pastikan kita harus menjalani transfusi darah dulu untuk menaikan HB.  Atau di bantu dengan suntik khusus untuk menaikan Leukosit.  Ketika angka pemeriksaan darah yang di butuhkan sudah sesuai rujukan, baru akan dilaksanakan kemoterapi lanjutan  Sebenarnya, sebagai pasien kanker, kita bisa menyiasati agar kondisi pemeriksaan darah rutin bisa tetap normal.  Tentu saja dengan cara menjaga gizi dan asupan makanan selama menjalani kemoterapi.

4. Gangguan pencernaan
Salah satu efek kemoterapi yang mungkin terjadi adalah gangguan percernaan .  gangguan pencernaan ini bisa sembelit atau susah buang air besar, serta diare.  Saya sendiri selama kemoterapi beberapa kali sering mengalami sembelit.  Sebenarnya sembelit bisa di atasi dengan cara lebih banyak mengkonsumsi makanan berserat dan buah buahan.  Untuk kondisi diare, kita bisa menyiasatinya dengan berusaha menghindari makanan yang memicu untuk diare, misalnya makanan pedas, asam.

Bila rasa sembelit ataupun diare sangat mengganggu sekali bagi pasien kemoterapi, maka ada baiknya segera menghubungi  dokter.  Biasanya dokter akan memberikan obat untuk mengatasi gangguan pencernaan tersebut.

5. Sariawan
Biasanya, efek kemoterapi terkadang mengundang sariawan.  Cara mengatasinya bisa dengan cara menjaga kebersihan mulut, sikat gigi teratur, minum air putih yang banyak, berkumur-kumur. Bila memang mengganggu sekali, bisa di diskusikan dengan dokter yang menangani kita.

6. Rambut rontok
Rambut rontok akibat kemoterapi memang sering di alami pasien yang menjalani kemoterapi. Saya sendiri merasakan bagaimana rambut harus rontok dan akhirnya botak plontos heheheh. Tapi jangan kuatir, hal itu hanya sementara kok. Nanti rambut kita akan tumbuh kembali dan mungkin bisa jadi lebat dari sebelumnya.  Hal itu berdasarkan pengalaman pribadi saya sendiri lho.

dan berbagai efek kemoterapi lainnya.  Perlu saya jelaskan lagi, efek samping yang di timbulkan dari kemoterapi pada setiap pasien belum tentu sama.  Reaksi dan periode siklus kemoterapi pun berbeda-beda pada tiap pasien. Seandainya dalam masa pengobatan kemoterapi, ada efek kemoterapi atau hal-hal yang tidak bisa di atasi, maka ada baiknya segera berkonsultasi dan berdiskusi dengan dokter yang merawat kita.


Dukungan Orang-orang terdekat

Saya sengaja menggaris bawahi mengenai dukungan orang-orang terdekat dalam hal ini keluarga, kerabat dan bisa jadi sahabat dari pasien kemoterapi. Dukungan ini juga bisa berupa macam-macam bentuknya, bisa berbentuk dukungan morill maupun dukungan material.

Dukungan dan support dari orang-orang terdekat sangat di butuhkan bagi pasien.  Pasien yang menjalani kemoterapi akan merasa di dukung dan lebih semangat menjalani pengobatan kemoterapi yang bisa jadi cukup menyita tenaga dan pikirannya.



Pengalaman Menjalani Radioterapi Sinar


Perjalanan pengobatan yang saya lakukan untuk berhadapan dengan kanker, akhirnya di mulai lagi dengan radioterapi sinar.  Seperti yang saya cerita sebelumnya di postingan  sebelumnya, bahwa sebelum dilakukan radioterapi sinar, saya harus melakukan CT Scan Simulator.  CT Scan Simulator ini berguna untuk menentukan titik titik tanda di bagian tubuh yang akan di radioterapi sinar nanti. Akhirnya, di putuskan untuk radioterapi sinar yang saya lakukan sebanyak 15 kali, dimana di lakukan setiap hari yaitu Senin – Jumat. 

Baca : Konsultasi dan Persiapan Menuju Radioterapi Sinar

Mengenal Radioterapi  atau Radiasi Sinar

Radioterapi  atau yang sering di sebut radiasi sinar atau  penyinaran sendiri merupakan salah satu terapi atau pengobatan bagi penyakit kanker. Seperti yang pernah saya jelaskan dalam buku saya, Kanker Bukan Akhir Dunia terbitan PT. Elex Media,  dalam  pengobatan kanker di perlukan berbagai jenis penanganan kanker.  Hal itu bisa meliputi, operasi, kemoterapi, sinar, hormon.  Terkadang dalam kasus-kasus tertentu, pengobatan kanker memerlukan kombinasi dengan berbagai pengobatan tersebut. Misalnya, Operasi di lanjutkan kemoterapi, operasi di lanjukan radiasi, operasi di lanjutkan kemoterapi dan radiasi, dan lain-lain. 

Dalam kasus saya, dimana kanker tiroid saya dari awal telat terdeteksi dan sudah menyebar ke tulang belakang dan paru, rupanya memang di butuhkan berbagai kombinasi pengobatan, yaitu operasi, radiasi nuklir, kemoterapi hingga radiasi sinar.  Nah, jangan di tanya deh bagaimana rasanya, yang jelas saya bersyukur sekali masih di berikan kekuatan oleh Allah untuk menjalani semuanya.  Termasuk juga merasa bersyukur selalu di dukung serta di support keluarga dan teman-teman .


Terapi raditerapi atau radiasi sinar ini adalah jenis pengobatan dengan menggunakan sinar khusus yang berfungsi untuk mematikan sel-sel kanker pada tempat-tempat yang sudah di tentukan .  Dalam pengobatan radioterapi sinar yang saya lakukan, di laksanakan pada klinik radioterapi yang di kepalai oleh Dokter Spesialis Radioterapi Onkologi berserta tim radioterapi.

Sebelum di lakukan radioterapi, sudah saya jelaskan sebelumnya, saya harus membawa semua berkas yang di tujukan kepada radioterapi, baik foto rontagen, foto MRI, hasil pemeriksaan patologi dan laboratorium yang sudah saya lakukan.

Setelah itu, Dokter akan menentukan waktu untuk CT Scan Sinulator yang berfungsi untuk melakukan penggambaran lokasi penyinaran . Setelah pengaturan dan ukuran target penggambaran sudah di tentukan, maka akan di buatlah tanda khusus dengan tinta dengan kulit.  Usahakan tanda itu tidak boleh di hapus selama radiasi di berikan.  Kemudian , kita akan mendapatkan jadwal radiasi bisa dilakukan.

Saya sendiri sudah merasakan melewati tahapan-tahapan dalam persiapan radiasi sinar.  Pada waktu pelaksanaa hari pertama radiasi, saya di berikan baju khusus radiasi untuk memudahkan pada saat di lakukan radiasi.  Saya pun di bawa ke ruangan radiasi dan di tempatkan khusus pada alat radiasi sinar.  Setelah itu, perawat  radiasi  akan membantu mengatur posisi tubuh saya, agar sesuai dengan tanda-tanda yang di berikan pada saat penandaan awal di CT Simulator.

Umumnya sekali radiasi membutuhkan waktu kurang lebih 15-30 menit mulai saya masuk ke ruang radiasi, saat penyinaran, sampai pasien kembali ke luar ruang radiasi.   Pada saat radiasi, saya tidak bisa melihat atau merasakan adanya sinar ke tubuh saya.  Saya hanya bisa melihat, alat radioterapi itu berputar secara perlahan sesuai dengan titik-titik di tubuh saya . Jadi jangan kuatir, karena kita tidak akan merasakan rasa sakit atau tidak nyaman pada saat radiasi dilakukan.

Oh ya, perlu di ketahui juga.  Untuk selama radiasi, biasanya setiap 5 kali radiasi, kita di wajibkan untuk cek darah di laboratorium dan kemudian mengkonsultasikan dengan dokter.  Biasanya yang di cek darah yaitu Darah lengkap dan Gula Darah.  Hal ini juga memantau kondisi tubuh kita. Seandainya kadar darah kita turun atau tidak sesuai dengan aturan yang di perbolehkan untuk radiasi, maka biasanya pasien diharuskan untuk melakukan transfusi darah.

Alhamdulillah, selama menjalani 15 x radioterapi sinar, kondisi darah dan gula saya dalam keadan normal, dan tidak memerlukan tambahan transfusi darah.  Hal ini di sebabkan, karena selama pengobatan radiasi, saya berusaha  untuk tetap menjaga pola makan dan istirahat yang cukup.  Usahakan ketika kita melakukan radiasi sinar,  kita harus memperhatikan betul  pemenuhan gizi makanan yang di asup.  Dengan begitu, kita dapat menjalani pengobatan radiasi sinar dengan semangat dan nyaman.

Efek samping dari radiasi sinar yang di lakukan bisa saya rasakan sendiri. Yang pertama, dilihat dari daerah yang mendapatkan radiasi, bisanya akan terjadi perubahan kulit di area radiasi tersebut .  Hehehee..  Kebetulan posisi area radiasi saya terletak di daerah perut, daerah tulang belakang , serta bawah ketiak kanan dan kiri . Tapi jangan kuatir, itu hanya perubahan kulit yang nantinya bisa pulih kembali setelah terapi selesai.  Namun, efek samping radiasi sinar itu juga berbeda beda setiap pasien, tergantung area radiasinya. 

Efek samping lainnya yang saya rasakan, antara lain kelelahan, terkadang demam, pusing, mual, muntah.  Tetapi itu hanya terjadi pada awal-awal radiasi.  Bisa jadi karena tubuh saya kaget karena baru pertama kali radiasi dan kondisi tubuh juga masih menyesuaikan diri.  Alhamdulillah, setelah beberapa kali radiasi, saya sudah bisa menyesuaikan diri.  Dokter radioterapi yang merawatnya juga memberikan berbagai tips dan saran untuk menghadapi efek radiasi.  Beliau berpesan agar saya selalu semangat, menjaga nutrisi dan gizi makan minum, minum banyak air putih, konsumsi buah-buahan dll.

Begitu pula keluarga dan para sahabat yang terus mendukung saya.  Mama saya bahkan bela-belain untuk membawakan makanan kesukaan saya berupa nasi kuning atau lontong sayur, bila beliau datang kerumah.  Begitu pula dengan para sahabat yang tiba-tiba datang kerumah membawakan buah-buahan, makanan, hingga cemilan khusus buat saya.  Bahkan ada yang   sengaja mengirimkan jilbab dan gamis cantik untuk saya dan Raisyah supaya kami tetap semangat dan ceria .

Ada pula,  sahabat sesama survivor dan caregiver yang tiba-tiba mengirimkan  obat anti mual muntah mujarab  yang dikirim via ekspedisi.  Begitu pula saat saya melakukan radiasi, ada saja sahabat yang sengaja meluangkan waktu untuk menemani saya saat melakukan radiasi.  Sungguh benar-benar kebahagiaan  yang tidak bisa di ukur dengan apapun.  Semoga Allah membalas kebaikan mereka.

Alhamdulillah, saya sudah menjalankan 15 x radiasi sinar. Rencananya hari Selasa nanti, saya akan menjalani evaluasi dan Scan ulang untuk mengetahui sejauh mana hasil dari radiasi sinar yang telah di lakukan.  Doakan ya teman-teman, agar semua berjalan dengan baik dan hasilnya banyak kemajuan. amin






Sabtu Bersama Blogger Samarinda

Alhamdulillaah, Sabtu siang kemarin, asih di beri kesempatan oleh Allah, bertemu dengan teman-teman dari Blogger Samarinda.  Walaupun tidak banyak yang hadir  di karenakan kesibukan masing-masing, namun tidak mengurangi keseruan pertemuan sekaligus tetap memperkuat tali silataurahmi. 

Kami juga membahas berbagai hal terkait dunia blogging, kepenulisan hingga banyak hal lainnya. Saya jadi banyak belajar ilmu blogger dari teman-teman blogger Samarinda.  Terima kasih Aldisa, Kukuh, Macit, dan mas Wawan.

Insya Allah, kegiatan teman-teman Blogger Samarinda akan terus berjalan dan bermanfaat. sukses selalu buat teman-teman.


Pertemuan Perdana Komunitas Support Kanker Kaltim


Alhamdulillah, hari Jumat, 5 Agustus 2016 , saya berkesempatan untuk berkumpul bersama para suvivor kanker, keluarga survivor dan teman teman relawan Yayasan Sadari. Kami berkumpul bersana di ruang instalasi radioterapi RS Umum A. Wahab Syahranie.

Acara ini juga di hadir oleh dokter Samuel Kelvin, kepala Radioterapi RS umum AWS yang sekaligus membuka dan mengisi acara.  Tujuan di adakan pertemuan ini, selain untuk pembentukan komunitas support kanker di Kaltim, sekaligus membahas  kerjasama dan koordinasi di bidang kanker.  Termasuk di dalamnya bagaimana edukasi kanker, penjelasan pengobatan kanker, paliatif kanker, dan lain sebagainya.

Ada banyak hal menarik dan bermanfaat yang di sampaikan dokter Samuel untuk di perhatikan. Antara lain bagaimana daya dukung keluarga dan orang -orag terdekat kepada pasien kanker. Pasien kanker dalam hal ini tidak hanya menghadapi bagaimana menjalani pengobatan kanker saja, tetapi juga terkait masalah psikis dalam dirinya. 

Karena itu,sangat pentig sekali bagaimana peranan keluarga dan orang terdekat kepada pasien kanker.
Hal lain yang cukup menarik perhatian saya, ada cerita mengenai sebuah kasus pasien kanker. Pasien tersebut menganggap kanker itu hadir dalam dirinya sebagai  kesempatan hidup kedua. 

Dimana pasien menganggap kanker hadir untuk peningat dirinya.  Dia terus berjuang melawan kanker dan  memilih melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat dan berguna. Ya, ia merasa di beri kesempatan hidup kedua dan mengisinya dengan lebih berarti dan bermanfaat.

Di dunia ini, ada banyak ragam orang yang menyikapi kehadiran kanker dalam hidupnya secara berbeda. Kalau saya pribadi, lebih menyikapinya sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada saya.

Dengan kanker dalam tubuh saya dan membuat saya harus betah lebih banyak berbaring, ternyata memberikan banyak hikmah dalam diri saya. Di sisa hidup yang di berikan Allah kepada saya, setidaknya saya merasa Allah memberikan kesempatan kedua untuk terus belajar menjadi pribadi yang lebih  baik dan bermanfaat bagi orang lain.

Demikian pula yang mungkin di rasakan oleh teman teman survivor lainnya. Kami tidak hanya berusaha saling mendukung dan menyemangati satu sama lain. Tetapi kami juga berusaha berbagi dan memcoba melakukan berbagai hal yang berguna dan bermanfaat bagi orang lain.

Mohon doanya ya teman teman, agar komunitas support kanker Kaltim yang terbentuk ini, bisa menjadi komunitas bermanfaat bagi para survivor, keluarga survivor serta bagi masyarakat. Amin