Antara Mama, Aku dan Kanker

9:01 PM 7 Comments A+ a-

"Pasti dokter salah. Penyakitmu bukan kanker!"kata mama masih tidak percaya. Air mata mulai membasahi pipi mama yang sudah mulai keriput.

Aku hanya terdiam tanpa bisa berkata apa-apa. Hari itu merupakan hari bersejarah sekaligus terberat bagi aku. Dengan menghimpun segala kekuatan, aku berani jujur pada mama dan bapak tentang sebuah penyakit yang terus menerus menggerogoti tubuhku.

Kanker, penyakit yang merenggut nyawa orang-orang yang kukenal, akhirnya harus lapang dada kuterima dalam tubuh.   Mama masih menangis.  Beliau sangat terpukul dengan sebuah kenyataan kalau aku, anak perempuan satu-satunya, terkena kanker yang sudah stadium lanjut.  Ya, kankerku sudah menyebar ke tulang belakang, yang membuatku selalu kesakitan setiap saat.

Lambat laun, mama dan bapak bisa menerima kondisiku.  Semua memang tidak mudah. Tetapi aku berusaha tetap tegar dan kuat melawan sakit kanker ini.  Aku tidak ingin melihat mama bersedih dan menangis, saat aku menahan sakit yang tidak terkira.  Atau saat aku harus terbaring lemah dan berdaya di atas tempat tidur.  Atau saat jarum-jarum infus menempel di tubuhku dan berbagai jenis obat harus aku minum.



"Mama sudah memasak untukmu. Kamu harus makan banyak. Biar tubuh tidak kurus sepert ini," kata mama kepadaku kala itu.  Di meja makan kulihat berbagai menu makanan telah susah payah mama siapkan dengan tangan dan tenaga yang semakin tua.

Aku memaksakan makan secara pelan-pelan. Walaupun perutku terasa di aduk-aduk tidak karuan, dan lidahku kelu tidak berasa. Belum lagi kepalaku pusing dan badanku serasa tidak bertenaga. Semua demi mama, aku harus makan masakan yang disajikannya dengan penuh doa dan cinta.

"Mama, aku tambah makan lagi ya,"ujarku sambil mengambil beberapa lauk dan menambahkan ke atas piringku. Kulihat sorot mama berbinar dan ia tersenyum melihat aku makan begitu lahap.

Kanker itu tanpa permisi mengambil selera makan dan kekuatan tubuhku. Tapi aku tidak mau kalah dengan si kanker ini.  Aku tetap berusaha menghabiskan isi makananku. Aku harus punya tenaga untuk melawan kanker itu.  Masakan buatan mama adalah salah satu modal kekuatanku melawan kanker.

Jujur, kadang aku merasa bahagia sekaligus sedih.  Bahagia karena Allah telah begitu baik memberikanku seorang mama yang luar biasa dan menyayangiku.  Sedih, karena aku merasa sampai sekarang sering membuat repot dan menyusahkan mama. Di usiaku seperti ini, aku seharusnya bisa membahagiakan mama, bukan menambah beban pikirannya dengan penyakit kankerku.

Mama selalu ada saat aku dalam keadaan down dan sedih.  Mama selalu ada saat aku mulai menahan sakit dan nyeri akibat kanker ini.  Mama pun selalu ada bersama anak-anakku dan sangat bahagia bersama mereka.

"Ketika punya anak, kamu akan tahu mengapa ibu akan melakukan apa saja demi anaknya.  Setiap saat mama berdoa untuk kesembuhanmu,"begitu kata mama suatu hari saat kami sedang berbagi cerita.  Ya, aku mulai mengerti apa maksud mama setelah menjadi seorang ibu dengan anak-anak yang super lincah.  Ah, seorang ibu memang seluas samudera.

Satu pintaku kepada Allah yang sering kupanjatkan dalam doa dan sholatku. Ijinkan aku terus bertahan dan berjuang penyakit kanker ini, agar aku bisa membalas semua kasih sayang mama yang tidak pernah terbatas...

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Hati Ibu Seluas Samudera



7 komentar

Write komentar
Pakde Cholik
AUTHOR
9:18 PM delete

Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan : Hati Ibu Seluas Samudera
Segera didaftar
Salam hangat dari Surabaya

Reply
avatar
Pakde Cholik
AUTHOR
9:19 PM delete

Sahabat tercinta,
Saya mengucapkan terima kasih kepada para sahabat yang telah mengikuti Kontes Unggulan Hati Ibu Seluas Samudera di BlogCamp. Setelah membaca artikel peserta saya bermaksud menerbitkan seluruh artikel peserta menjadi buku.

Untuk melengkapi naskah buku tersebut saya mohon bantuan sahabat untuk

1. Mengirimkan profil Anda dalam bentuk narasi satu paragraf saja. Profil dapat dikirim melalui inbox di Facebook saya atau via email.
2. Memberikan ijin kepada saya untuk mengumpulkan artikel peserta dan menerbitkannya menjadi buku. Cek email dari saya tentang permintaan ijin ini dan silahkan dibalas.
3. Bergabung dengan Grup Penulis Naskah Buku Hati Ibu Seluas Samudera di Facebook. (https://www.facebook.com/groups/669571076492059/)

Terima kasih.

Reply
avatar
3:38 PM delete

Mba Yuni...saat saya pertama kali divonis pun saya langsung telpon mama...semoga kita selalu dikuatkan ya mbaa...salam hormat untuk mama..

Reply
avatar
Bung Eko
AUTHOR
10:20 AM delete

Halo, Mbak Yuni. Kisahnya sangat menginspirasi sekali. Dukungan keluarga memang lebih ampuh dari apapun juga ya. Salam hangat dari Pemalang, Mbak.

Reply
avatar
Anonymous
AUTHOR
7:37 PM delete

Semoga mbak Yuni diberi kesembuhan, agar bisa teruuus bahagiakan Ibu ya. Salam hormatku juga buat Ibu Ya mbak

Reply
avatar
8:08 AM delete

Mbak Yuni... kita semua tetap semangat ya.... Always Bismillah.... :)

Reply
avatar
sri rahayu
AUTHOR
8:01 PM delete

selalu semangat... udah tutup ini ya pakdhe

Reply
avatar