Serunya Radiasi Nuklir Untuk Pengobatan Kanker Tyroid (bagian 1)

11:14 PM 0 Comments A+ a-

mejeng bentar di depan Kedokteran Nuklir RSHS Bandung


Sebenarnya mau nulis pengalaman ini sejak lama. Tapi kenapa terlupa terus. Heheheh.. Jadi berhubung inget dan ada waktu nulisnya, jadi saya harus nunaikan janji mau nuliskan ini.
Biar ngga bosan dan ikutan ngeri bacanya (pasti pengaruh judul diatas hihihi), bahasa tulisan ini saya buat agak santai. Nah, sebelum lanjut bisa baca pengalaman saya ikut terapi radiasi nuklir yang pertama ya... Ehm Ehm.. tulisannya di buat 4 seri dan pernah di muat di Tabloid My Mommy.

Seperti yang diketahui, ada beberapa metode pengobatan dan terapi pada kanker. Untuk kasus kanker tyroid yang saya alami, dokter melakukan beberapa tahapan, yaitu operasi, radiasi nuklir, minum obat hormon tyrax tiap hari dan kemo tulang. Cukup banyak sih, mengingat jenis kanker saya udah stadium lanjut dan metase ke tulang belakang.

Memang ada beberapa jenis kanker yang pada jenis tertentu atau tahapan stadium lanjut tidak memungkinkan di operasi. Namun untuk jenis kanker saya, masih memungkinkan untuk operasi yaitu pengangkatan kanker tyroid yang ada di leher.

Untuk mengantisipasi si kanker tyroid mengganas lagi, yaitu dengan radiasi nuklir menggunakan iodine 131. Bahan radioaktif iodine 131 ini memang khusus untuk kanker tyroid. Prinsipnya, iodine ini akan bekerja mencari sel sel kanker tyroid yang menyebar di dalam tubuh. Nah, selama proses radiasi nuklir berlangsung, saya harus dipinggit dulu di ruangan isolasi selama beberapa hari.

Radiasi Nuklir yang saya lakukan bulan Mei lalu merupakan radiasi nuklir yang kedua. Radiasi pertama saya lakukan di Jakarta, tepatnya di MRCCC Siloam, bulan Oktober tahun lalu. Hmm.. sebenarnya saya pengen cukup sekali saja melakukan radiasi nuklir. Tapi ternyata ngga bisa, mengingat nilai rapot 6 bulan pasca radiasi nukir pertama yang tidak cukup bagus hehehehe...

Akhirnya, terpaksa dengan iklas melakukan radiasi nuklir yang kedua. Pokoknya yang di benak saya, bagaimana melakukan ikhtiar, usaha dan terus berdoa buat melawan si kanker ini. Apalagi anak anak pendukung utama saya untuk terus semangat. Seperti kata dokter saya pernah bilang. Kesembuhan untuk sakit kanker ini semua tergantung kuasa Allah. Yang penting lakukan terbaik dan terus berdoa. Semoga bisa diberikan kesempatan untuk dampingi anak anak sampai besar.

Hari Pertama Persiapan Observasi
Pagi itu saya sudah siap siap berada di RS. Hasan Sadikin Bandung. Saya sudah adakan janjian sebelumnya dengan Dokter Basuki serta Dokter Ayu untuk konsultasi. Kebetulan Dokter Basuki merupakan dokter yang menangani saya pada radiasi pertama di Jakarta. Jadi, beliau sudah mengerti riwayat medis saya dari awal.
Rencananya memang saya akan di observasi dulu setelah 6 bulan pasca radiasi nuklir pertama. Sebelum berangkat ke RS, saya di minta untuk melakukan puasa sejak jam 6 pagi. Fungsinya untuk diberikan iodine 131 dosis rendah, agar mudahkan observasi saat dilakukan pencitraan dengan alat khusus.

Nah, saking semangatny, saya lupa minum obat pain killler. Kebayangkan rasa ngilu dan sakitnya yang harus saya tahan. (hik hik hik). Jadwal saya bertemu dokter Basuki dan Dokter Ayu sekitar jam 12 siang.
Saya bertemu kedua dokter tersebut sembari membawa dokumen hasil pemeriksaan medis saya selama ini, termasuk data lab terakhir. Setelah berdiskusi dengan kedua dokter, saya akan melakukan observasi hari kedua. Namun pada hari pertama itu, saya hanya diminumkan iodine 131 dosis kecil untuk memudahkan observasi besok harinya.

Mau tahu rasanya minum cairan nuklir? aduh.. rasanya agak agak gimana sih. Apalagi mba perawat yang memberikan cairan tersebut memakai baju lengkap anti radiasi. Udah gitu pemberian diruangan khusus dan dengan tindakan khusus. Sampai detik ini, saya kagum sama mba perawat yang memiliki keberanian tinggi untuk memberikan cairan nuklir bagi pasien seperti saya. Resikonya tentu besar berhadapan setiap hari dengan bahan nuklir seperti itu.

Setelah abis disuruh minum cairan iodine 131, saya di perkenankan untuk pulang dulu, dengan janji dilakukan observasi hari kedua. Berhubung pemberian cairan nuklir tersebut dosis kecil. Jadi dianggap aman untuk berinteraksi dengan orang lain. Namun tetap diusahakan jauh-jauh dari anak kecil atau ibu hamil
Walau begitu, tetap berefek juga pada tubuh saya. Saya sontak kehilangan selera makan, lemes, mual, dan badan tambah ngilu. hehehh.. tapi tetap masih memiliki semangat 45 untuk terus menjalani rangkaian terapi
.
Hari Kedua Observasi
Pagi itu saya sudah berada di instalasi kedokteran nuklir di rs hasan sadikin. Saya bersiap di ruangan pemeriksaan yang terdapat alat SPEC Scan untuk observasi. Oleh perawat, saya diminta mengenakan baju khusus dan melepas barang yang terbuat dari emas atau logam di tubuh saya.

Saya kemudian berbaring di tempat tidur khusus di Alat tersebut. Sekilas alat tersebut mirip dengan CT Scan. Namun ternyata lebih canggih dan mahal. Saya melalui pemeriksaan dengan mengunakan alat tersebut kurang lebih 45 menit. Alat tersebut memang sudah diatur terlebih dahulu oleh petugas. Sehingga proses observasi dilakukan dari ujung kepala sampai kaki. Dokter yang menangani saya telah siap di belakang ruangan kontrol untuk mengatur jalannya observasi melalui komputer.

Sembari menunggu observasi dan alat bergerak, posisi saya diusahakan tidak bergerak sama sekali. Jadi yang saya lakukan adalah berdoa sekaligus berzikir yang khusus. Apalagi suasana ruangan dingin karena AC, membuat saya benar benar terbuai ngantuk hehehhe

Setelah selesai melakukan observasi, saya diminta bertemu dokter. Dokter menjelaskan hasil observasi tersebut belum terlalu jelas. Sehingga belum bisa dipastikan sejauh mana evaluasi perkembangan kanker dalam tubuh saya.

"Besok kita observasi ulang ya, bu. Kami akan menambahkan alat lagi agar observasinya lebih jelas,"begitu kata dokter.

Sebenarnya sempat sedih sih harus ulang kembali observasi. Tapi mau bagaimana lagi, semua ini bagian dari proses pengobatan yang harus dilakukan. Jadi.... Semangat terussss...

Hari Ketiga Observasi
Setelah semalaman berdoa yang kencang, pagi harinya saya sudah berada di rumah sakit hasan sadikin. Prosedurnya tetap sama seperti kemarin. Hanya saja kali ini ada penambahan alat kontras dam memakan waktu agak lebih lama.

Walau Begitu, saya tetap menjalaninya dengan semangat. Bismillah sajalah.. yang penting tetap berusaha maksimal. Dan benar saja, dari hasil observasi kedua ini bisa terlihat kondisi perkembangan kanker di tubuh saya.

hmmm.. Cukup kaget juga dengan hasilnya. Dari hasil observasi itu, dokter segera menjadwalkan radiasi nuklir atau ablasi saya beberapa hari setelahnya. Sempat sedih juga akhirnnya harus masuk kamar isolasi lagi. Tapi gimana pun juga, kanker dalam tubuh ini harus diperangi dengan gagah berani. :)

Bersambung....

Klik kesini yaa... :

Serunya Radiasi Nuklir Untuk Pengobatan Kanker Tyroid (bagian 1)
Serunya Radiasi Nuklir Untuk Pengobatan Kanker Tyroid (bagian 2)
Serunya Radiasi Nuklir Untuk Pengobatan Kanker Tyroid (bagian 3)