Perjuangan Melawan Penyakit Langka

7:00 PM 3 Comments A+ a-



Judul :  Perjuangan dr. Meyliana Primavita Asharie Melawan Penyakit Langka
Penulis : Inni Indarpuri
Penerbit  : Kalika
Tebal : 160 Halaman
Tahun : 2016

Mungkin belum banyak masyarakat yang mengenal penyakit Primary Amoebic Meningoencephalitis  atau yang biasa di sebut PAM.  Primary Amoebic Meningoencephalitis  sendiri merupakan Penyakit langka yang di sebabkan oleh amoeba.

Buku Perjuangan dr. Meyliana Primavita Asharie Melawan Penyakit Langka yang di terbitkan Kalika ini, bercerita mengenai perjalanan hidup almarhum dr. Meyliana. Terutama bagaimana kisah keseharian beliau hingga perjuangannya menghadapi penyakit Primary Amoebic Meningoencephalitis,   penyakit langka  yang akhirnya baru terdiagnosis penyebabnya, menjelang akhir hidup dr. Meyliana.

Bahkan apa yang terjadi pada dr. Meyliana Primavita Asharie, di anggap  merupakan kasus langka di Indonesia. Kasus yang terjadi pada dr. Meyliana merupakan kasus pertama yang dilaporkan di Indonesia dan akan dibawa ke seminar Parasit Internasional. Di perkirakan, sejak tahun 1965, hanya ada 440 kasus penyakit ini yang di temukan di dunia.

Dokter  Melly merupakan dokter muda lulusan dari Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman.  Bagi Melly yang merupakan putri dari bapak  Hartono Hanan dan Ibu Asnah Hanan, menjadi dokter adalah sebuah impian dan cita-cita yang sangat mulia.  Terlebih dari kecil, dia di kenal sebagai anak yang cerdas dan pintar di sekolahnya. 

Selain itu,  Melly memiliki kepribadian baik dan hangat  yang membuatnya sangat di sayangi dan di cintai oleh keluarga dan teman-temannya.  Ia pun merupakan sosok yang mandiri dan pemberani.  Ada berbagai kisah indah dan menarik yang di ungkapkan cerita dari kedua orang tua, keluarga dan teman-temannya mengenai Dokter Melly di buku ini.

Setelah menyelesaikan pendidikan coass dokter di RS Umum A Wahab Syahranie Samarinda, dokter Melly melanjutkan intership di Puskesmas Sepinggan Balikpapan.  Dokter Melly merupakan dokter yang berdedikasi tinggi, terutama ketika melayani pasien. Hal itu pula yang di sampaikan oleh rekan-rekan sejawatnya selama menjalani intership di Balikpapan. 

Dokter Melly dengan tulus mengobati pasien dan bahkan mendengarkan keluh kesan pasien yang sedang berobat. Selain itu, pernah pula ia meluangkan waktu untuk turut dalam kegiatan sosial di luar intership. Semua di lakukannya dengan iklas tanpa imbalan apapun.

Ketika menyelesaikan masa coass dan menunggu panggilan intership, Dokter Melly memiliki berbagai kegiatan antara lain membantu teman-temannya yang coass dan mengisi kegiatan di group Fokus.  Selain itu, ia pun mempunyai agenda  berenang bersama teman-temannya. Kegiatan berenang ini ternyata terus berlanjut ketika Dokter Melly melakukan intership di Balikpapan. 

Tepat pada masa tugas 4 bulan pertama masa intership di Puskesmas Sepinggan Balikpapan, Dokter Melly merasakan kesehatannya mulai terganggu.  Ia merasakan sakit kepala berbeda dan berkepanjangan, yang tidak bisa reda dengan obat penahan nyeri. Walaupun begitu, Dokter Melly tetap berusaha melaksanakan tugasnya dengan baik sebagai dokter untuk melayani para pasien.

Ketika rasa sakit yang di rasakan dokter Melly sudah mulai tidak tertahankan,  akhirnya ia kontrol ke dokter Syaraf.  Pengobatan yang di berikan pun ternyata belum menunjukkan hasilnya, sehingga dokter Melly di rujuk untuk opname di rumah sakit.  Dengan berbagai pertimbangan,  kedua orang tua memutuskan untuk membawa dokter Melly pulang ke Samarinda dan opname di RS Umum A Wahab Syahranie Samarinda.

Dokter Melly pun harus menjalani serangkaian pemeriksaan dan perawatan, tetapi di sisi lain kondisi fisiknya belum menunjukkan kemajuan berarti. Tim dokter terus berupaya mencari tahu penyebab dari sakit yang di derita dokter Melly.  Di sela-sela menjalani perawatan di rumah sakit maupun di rumah, dokter Melly tetap menunjukkan keceriaan dan perhatiannya kepada keluarga dan teman-temannya.  Ia masih sempat meluangkan waktu  mengobrol dan memberikan semangat kepada mereka.

Seiring berjalannya waktu, ternyata kondisi dokter Melly belum membaik. Tim Dokter masih terus berupaya mencari penyebab dari penyakit yang di alami dokter Melly. Titik terang penyakit Primary Amoebic Meningoencephalitis  yang di derita dokter Melly baru di dapatkan dalam pemeriksaan tim dokter pada 8 Maret 2016.   Saat itu itu kondisi Melly sudah dalam keadaan kritis dan panas tinggi, walaupun masih ada pergerakan kaki dan tangannya.  Baik pihak keluarga dan tim dokter tetap mengupayakan untuk mendapatkan obat Amphotericin B untuk melawan penyakit Primary Amoebic Meningoencephalitis  .

Sempat menjadi pertanyaan besar, apakah karena   hobby berenangnya yang mengakibatkan dokter Melly terpapar amoeba?  Padahal ia selalu mengajak teman-temannya ketika berenang.  Ada banyak dugaan yang menjadi penyebab hingga dokter Melly bisa terpapar amoeba.  Salah satu yang memungkinkan adalah karena di saat berenang, kondisi tubuhnya tidak fit, di tambah ia telah terjangkiti penyakit lain yang membuat kondisi tubuhnya semakin rentan  bila terpapar amoeba.

Tim dokter terus berusaha semaksimal mungkin mendapatkan obat Amphotericin B tersebut yang memang sangat sulit di dapatkan,  kondisi dokter Melly semakin tidak menentu.  Selama masa penantian tersebut, baik keluarga maupun teman-teman dokter Melly selalu berdatangan memberikan support dan doa untuknya. 

 Upaya terakhir mendapatkan obat tersebut berbuah hasil, namun bersamaan dengan kondisi dokter Melly yang kritis dan tidak memungkinkan untuk di berikan obat tersebut. Hingga akhirnya dokter Melly meninggal dunia di tengah perjuangannya melawan penyakit Primary Amoebic Meningoencephalitis .

Kisah perjuangan dokter Melly melawan penyakit Primary Amoebic Meningoencephalitis   memberikan banyak pelajaran berharga dan hikmah bagi kita semua. Sosok dokter Melly yang tidak hanya memiliki kepribadian hangat dan juga sangat di cintai oleh orang-orang yang mengenalnya.  

Tetapi juga kita bisa belajar dari perjuangan beliau   untuk lebih mengetahui apa sebenarnya penyakit Primary Amoebic Meningoencephalitis   yang di sebabkan oleh amoeba ini.  Selain itu, kita bisa melakukan upaya preventif sejak dini untuk menghindari penyakit ini.  Sehingga kasus serupa yang di alami dokter Melly bisa dapat di cegah ataupun bisa di tangani dengan segera.

Catatan : Resensi ini di muat di Tribun Kaltim, Minggu 28 Agustus 2016

3 komentar

Write komentar
Rina
AUTHOR
5:35 PM delete

kebetulan banget, saya baru buat tulisan tentang protista dan efeknya ke penyakit. saya pikir saya gak akan ketemu kasusnya, eh ternyata ada bukunya bahkan..

Reply
avatar
10:56 PM delete

Wah syukurlah bisa ada buku ini yang busa membantu mba. Salam kenal ya mba

Reply
avatar
7:11 PM delete

sangat inspirasi sekali mba.

Reply
avatar