Resensi Buku : Ketika Ibu Ganti Kulit

11:28 PM 0 Comments A+ a-


Judul Buku:  Ketika Ibu Ganti Kulit
Penulis : Irmayana
Penerbit : Andi Publishing
Halaman : 26 halaman
Tahun : 2014

Apa yang dirasakan seorang anak apabila melihat ibunya tiba-tiba terlihat sakit?  Tentu saja si anak akan merasa sedih, seperti yang di alami Lea, si ular cincin emas.  Lea merasa sedih ketika meliha ibu seperti lemah, tidak berselera makan.  Tidak hanya itu, warna kulit ibu tidak secerah biasanya, begitu pula dengan matanya yang berubah tidak bening.

Ibu Lea seorang ibu yang sangat sayang serta perhatian pada Lea.  Perubahan sikap dan fisik yang di alami ibu, membuat Lea menjadi kuatir.  Namun Lea tidak berani bertanya kepada sang Ibu.

Lea mencurahkan isi hatinya kepada Phila, sahabatnya. Phia lalu menyarankan Lea agar bertanya langsung kepada ibu.  Karena bagaimana pun  juga, lebih baik bertanya langsung kepada ibu, dari pada Lea merasa sedih dan bingung sendiri.

Rupanya ibu sedang dalam proses berganti kulit.  Hal itu membuat ibu mengalami perubahan fisik, warna kulitnya memudar, dan matanya tidak bening.  Selain itu,  ibu kerap menggesekkan tubuhnya ke kayu besar yang kasar. Semua merupakan proses berganti kulit.

Setelah sang ibu menjelaskan panjang lebar dengan penuh kasih sayang, Lea menjadi mengerti apa yang terjadi pada ibunya.   Ia tidak merasa kuatir lagi dengan perubahan pada ibu.

Lea dan ibunya merupakan Ular cincin emas  yang biasa di sebut Boiga dendrophila.  Tubuh Lea dan ibunya. berwarna hitam berbelang kuning, tapi warna kuningnya lebih sempit dan perutnya berwarna hitam.   Ular Cincin emas ini dapat di jumpai di wilayah-wilayah perbatasan antara hutan-hutan, dataran rendah, hutan-hutan pegunungan, semak belukar, rawa-rawa, daerah pertanian, perkebunan dan persawahan. Sering juga ada di sekitar rumah,  jalan raya atau sungai.

Ular cincin emas ini sebagian jinak, namun ada sebagian pula berbahaya karena gigitan racunnya bisa mengancam jiwa manusia.  Jenis makanan yang di makannya berupa jenis ular lainnya, katak, telur dan ikan.

Dalam cerita ini, Irmayana sebagai penulis mencoba mengambil hikmah moral mengenai hubungan antara seorang ibu dan anak.  Alangkah lebih baik bila sejak dini, anak-anak bersikap terbuka kepada orang tua.  Termasuk bertanya apabila tidak mengerti sesuatu hal, seperti yang di lakukan oleh Lea dan ibunya.

Peresensi :
Tri Wahyuni Zuhri
(penulis & Blogger)
Aktif di IIDN Kaltim, Perempuan Penulis Kaltim (PPK) dan Studio Kata
Email : triwahyunizuhri@yahoo.com

Notes :
Resensi ini dimuat di Tribun Kaltim, Minggu, 1 Maret 2015