Mengenangmu, Sahabatku yang tangguh dan Luar Biasa.

5:04 PM 4 Comments A+ a-


Aku masih terkenang percakapan kita hari itu, sahabat.

"Nggak kerasa sebentar lagi puasa ya, mba. Alhamdulillah, kita masih dapat kesempatan ketemu bulan puasa lagi, " Chattku padamu lewat whats app 


"Insya allah kita akan ketemu bulan puasa lagi, mba," jawabmu kala itu.

Aku tersenyum membaca jawaban Whatsappmu itu. Aku merasakan dadaku berdesir hangat.  Insya  Allah, Allah masih memberikan kesempatan kita untuk bisa bertemu bulan puasa lagi.

"Semoga mba Yuni nanti sudah biasa beraktifitas dan jalan lagi ya mba," lanjutmu.

"Amin amin ya robballalamin.." jawabku seraya mengaminkan doamu.



###



Ah.. air mataku kembali menetes semua kenangan bersamamu.


Aku teringat awal perkenalan kita. Kita saling mengenal melalui instagram. Kala itu kau bertanya mengenai buku Kanker Bukan Akhir Dunia yang aku posting di Instagram. Perkenalan kita berlanjut dengan saling chatt di whatsapp. Kita pun saling bertukar cerita mengenai perjuangan masing-masing melawan kanker. Kita saling menguatkan dan menyemangati.


Sobat, walaupun kita tidak pernah bertemu langsung.  Tetapi aku tahu kalau dirimu adalah perempuan sekaligus ibu yang luar biasa. Kita sering bercerita mengenai keluarga masing-masing, khususnya mengenai anak-anak kita yang seumuran.

Kita juga saling menyapa lewat video call dan tertawa bersama. Bahkan anak-anak kita juga ikut-ikutan saling menyapa di video call.  Kita saling berjanji untuk bertemu suatu saat. Rasanya waktu-waktu itu begitu lekat dalam ingatan saya. 


Aku ingat suatu waktu, ketika  dokter memutuskan agar aku menjalani kemoterapi obat doxorubicin sebanyak 6 kali. Efek obat kemo tersebut tidak hanya membuatku mual, lemas, dan tidak nyaman. Bahkan rambut semakin rontok akibat efek obat tersebut.

Dan lagi-lagi dirimu menguatkanku, dengan mengatakan tidak apa apa rambut rontok dan gundul asalkan bisa sehat. Hal itu yang membuat aku yakin menjalani kemoterapi dan menerima kepala ini menjadi gundul.

Ada kejadian yang tidak pernah aku lupa. Waktu itu hampir beberapa waktu dirimu tidak ada kabar. Aku berkali -kali.mengirim WA, inbox bahkan SMS, tetapi tidak ada balasan.  Hp mu juga tidak aktif sama sekali.


Ada apa sebenarnya? Aku sampai berfikir kalau mungkin ada apa-apa denganmu. Atau mungkin aku ada salah bicara hingga membuatmu tersinggung atau bagaimana. Entahlah.. begitu banyak pikiran yang berkecamuk di kepalaku. 

Akhirnya aku meminta salah seorang survivor kanker untuk mencari informasi mengenai mba. Dan kabar mengejutkan yang kudapatan. Ternyata dirimu sedang berjuang melawan kanker di ruangan ICU dalam kondisi tidak begitu baik.  Aku hanya bisa mengirimkan doa untukmu saat itu.

Hingga akhirnya, hati ini menjadi lega ketika dirimu bisa membalas chattku dan mengabarkan kondisimu semakin membaik. Dirimu juga bercerita bagaimana perjuangan mba saat dalam kondisi tidak menentu. Termasuk bercerita bagaimana suamimu selalu mendampingi saat itu dan tidak putus-putus mendoakan.    


Aku menangis  saat itu.  Aku bisa membayangkan bagaimana beratnya perjuanganmu, termasuk juga betapa besarnya rasa cinta sayang suami padamu.
Aku pun sempat bilang padamu, kalau aku sempat berfikir kalau kamu tidak merespon, mungkin ada kata-kataku yang menyinggungmu, atau karena ingin menjauh dariku. 

Namun, jawabanmu sungguh menenangkanku.  Engkau berkata agar aku jangan berfikiran seperti itu. Karena ngga mungkin dirimu berfikiran seperti itu padaku. Karena kita selalu berbagi cerita setiap waktu.

Tetapi, aku  langsung terdiam, saat kau bilang kepadaku.  Apabila suatu saat misalnya dirimu tidak merespon chat atau inbox dariku,  mohon agar aku tidak befikir aneh aneh lagi. Bisa saja saat itu sedang pengobatan atau terapi, sehingga belum memungkinkan untuk meresponku. Tidak mungkin kalau kamu melupakanmu.



Ah... kenapa saat itu aku merasa ada yang lain denganmu. Seperti itu sebuah pertanda.



##





Berita kepergianmu sungguh mengejutkanku.  Dua hari sebelumnya aku sempat menyapamu. Dan kamu bercerita bahwa sudah selesai menjalani kemoterapi terakhir.  Semoga saja kanker itu sudah tidak akan betah lagi di tubuhmu.


Ternyata..

Allah telah mengatur semuanya.  Di hari yang sama dengan hari ulang tahunku, ternyata Allah memanggilmu mba...


Aku masih tidak percaya dengan berita itu.  Aku mencoba melihat berbagai status teman teman survivor yang mengenalmu. Ternyata semua sama, mereka menuliskan berita duka kepergianmu.


Aku terdiam dan menangis.

Aku teringat bagaimana perjuangan kita berdua. Aku teringat bagaimana berbagai janji yang pernah kita bicarakan berdua...


Kepergianmu meninggalkan ruang kosong di hatiku.. 

Ada rasa sakit dan perih di sudut hatiku.  Aku masih belum terima kepergianmu..


Tetapi aku juga tahu..


Mungkin ini yang terbaik dari Allah untukmu.  Setidaknya dirimu tidak perlu lagi merasakan rasa sakit dan nyeri hebat itu lagi. 


Selamat jalan sahabatku...
Maya Ardianto..





4 komentar

Write komentar
Ardian
AUTHOR
12:37 AM delete

Turut berduka cita.

Reply
avatar
Irawati Hamid
AUTHOR
11:13 PM delete

Alfatihah buat sahabat Mba Yuni..

Reply
avatar
10:25 PM delete

Terima kasih ya

Reply
avatar
10:25 PM delete

Terima kaish mba Ira

Reply
avatar