Syuting Film Dokumenter Bersama Rekan-rekan Broadcast Polnes Samarinda

8:45 PM 23 Comments A+ a-

Berfoto bersama tim Brodcast Polnes
Ada sebuah kejadian yang cukup berkesan bagi saya di bulan Maret 2016. Tanpa saya pernah duga, ada permintaan rekan dari Boardcast Politeknik Negeri Samarinda (Polnes)  - MMXIV Production.  untuk membuat film dokumenter mengenai saya. Film dokumenter ini akan bercerita  mengenai kehidupan saya sebagai survivor kanker dan berbagai kegiatan lainnya.

Tentu saja hal ini menjadi kabar membahagiakan sekaligus mengejutkan bagi saya.  Apalagi rencananya film dokumenter ini nantinya akan di jadikan tugas akhir rekan-rekan Polnes di Kampusnya. Sungguh suatu kehormatan bagi saya bisa turut bergabung dan ambil bagian dalam project tersebut.

Pertemuan Perkenalan

Komunikasi via online yang terjalin sebelumnya antara saya dan Macit, salah satu tim Broadcast Polnes - MMXIV Production, akhirnya berlanjut dengan pertemuan langsung.  Hari Sabtu pagi, 13 Maret 2016, Macit bersama dua rekannya  datang bersilaturahmi ke rumah.

Pertemuan Perkenalan
Dalam pertemuan perkenalan secara langsung tersebut, Macit dan timnya menjelaskan maksud dan tujuan project film dokumenter tersebut.  Selain itu juga, mereka menjelaskan secara garis besar apa saja yang akan di rencanakan untuk  keperluan film  dokumenter tersebut.

Saya sendiri berkesempatan untuk menjelaskan mengenai pengalaman saya sebagai survivor kanker serta berbagai aktifitas kegiatan yang saya lakukan.  Saya berharap dengan penjelasan saya tersebut, mereka bisa mendapatkan gambaran untuk alur film yang akan di buat nanti.

Saya juga bercerita mengenai kondisi saya yang bed rest,  di karenakan ada masalah di tulang belakang yang di sebabkan oleh penyebaran kanker. Sehingga tidak memungkinkan saya untuk pengambilan syuting dengan duduk atau berdiri. Mengingat saya masih menjalani terapi untuk tulang belakang dari dokter.

Syukurlah mereka memakluminya, dan menyampaikan akan tetap membuat film dokumenter mengenai saya dengan kondisi yang ada. Sungguh, saya sudah tidak sabar menunggu waktu berjalan hingga hari pelaksanaan.


Briefing H-1

Sebelum melangkah ke hari pelaksanaan syuting, saya dan tim broadcast polnes mengadakan briefing H-1 atau pada hari Selasa, 16 Maret 2016.  Selain briefing, mereka juga sekalgus survey lokasi  untuk pengambilan syuting besok harinya.

Briefing hari itu di hadiri oleh saya, Macit dan kedua rekannya.  Mereka menjelaskan secara garis besar mengenai rencana pengambilan syuting besok. Saya juga di berikan semacam panduan syuting yang akan saya lakukan, termasuk tema bahasan yang akan saya angkat setiap segmennya.  Kami akhirnya menyepakati jadwal syuting akan dilakukan pada Hari Rabu, 17 Maret 2016 pukul 10.00 pagi.

Salah satu segmen yang diminta yaitu saya menjelaskan beberapa buku karya-karya saya. Tentu saja bagian segmen ini saya mempersiapkan sebaik-baiknya. Khususnya memilih buku-buku yang akan saya jelaskan pada segmen tersebut.

Entah kemana buku Pantangan dalam Bisnis ini :(
Ternyata, ada 2 buku yang entah dimana keberadaannya. Buku tersebut yaitu Buku solo saya Pantangan Bisnis yang di terbitkan PT. Gramedia Pustaka serta buku antologi Badadai yang saya tulis bersama teman penulis perempuan Kaltim.

Saya sempat bingung, panik sekaligus heboh. Ternyata keberadaan 2 buku itu memang tidak nampak. Saya pun coba menghubungi sobat yang mempunyai 2 buku itu. Tetapi ternyata sobat saya pun sedang tidak dirumah. Padahal, waktu syuting sangat mepet sekali.


Akhirnya, saya mengiklaskan tidak bisa menampilkan 2 buku yang bersejarah dalam kegiatan penulisan saya ini. Hik hik hik.. Setidaknya saja juga mengambil hikmah dalam kejadian kemarin. Supaya tidak terlalu sering pelupa hehehhe.. sekaligus menyimpan khusus buku ataupun karya dalam tempat tersendiri agar mudah di temukan kiki emotikon

Hari Pelaksanaan

Tepat jam 10 pagi, Macit dan rekan-rekannya dari Broadcast Polnes datang ke rumah.  Mereka yang datang ada 8 orang dan lengkap dengan membawa peralatan untuk keperluan syuting film dokumentar.  Berhubung saya sudah beberapa kali melakukan kegiatan syuting (hehehe, narsisnya keluar deh), saya tidak terlalu canggung menghadapi syuting film dokumenter kali ini.
 
Persiapan untuk syuting
Sebelum mereka datang, saya sendiri sudah bersiap-siap di rumah dengan mengenakan pakaian gamis syari'i berwarna hijau tosca.  Untuk make up wajah, saya tidak terlalu memakai make up yang berlebihan.  Hanya mengenakan alas bedak, bedak dan lipstik. Walaupun sakit, bukan berarti tidak boleh tampil cantik kan? Yang penting bagi saya, asal tidak berlebihan.
Pesiapan pasang mic
Selagi sebagian anggota tim broadcast sedang mempersiapkan kamera dan lighting, saya pun mencoba menanyakan kembali rencana pengambilan segmen film untuk lebih menyakinkan.  Lupi, anak saya yang bungsu pun ikutan sibuk memperhatikan kegiatan persiapan syuting.  Saya memang sudah berpesan sama Lupi untuk tidak heboh selama kegiatan syuting akan di lakukan.  Untungnya kedua kakaknya, Arya dan Raisyah masih sekolah hari itu.  Jadi kondisi rumah dalam keadaan aman tentram dan terkendali hehehee.
dari balik tripot kamera
Pengambilan Syuting pertama di mulai dengan saya menceritakan kegiatan penulisan saya. Termasuk bercerita mengenai latar belakang mengapa saya terjun ke dunia penulisan dan menceritakan beberapa karya-karya saya.   Pada moment bercerita mengenai latar belakang menulis, saya bercerita kecintaan saya menulis dan membaca bersumber dari almarhum kakek yang juga penulis sejarah di Kaltim.  Ah, ada rasa haru dalam dada saya saat menceritakan hal tersebut.  Seandainya kakek masih hidup, tentu kakek akan senang melihat geliat saya di dunia penulisan.
Bercerita tentang Buku Kanker Bukan Akhir Duni
dan Pengalaman sebagai Survivor Kanker
Syuting pun terus berlanjut bercerita mengenai buku Kanker Bukan Akhir Dunia yang saya tulis.  Saya bercerita panjang lebar mengapa buku Kanker Bukan Akhir Dunia ini bisa sampai saya tulis.  Tentu saja cerita berlanjut mengenai perjuangan saya dalam menghadapi kanker tiroid stadium lanjut.

Sebisa mungkin saya berusaha tegar saat menceritakan kembali kepingan-kepingan cerita mengenai perjalanan saya sebagai survivor kanker.  Di mulai saat menceritakan gejala-gejala yang saya rasakan, berbagai pemeriksaan yang dilakukan, sampai bagaimana saat saya harus menerima vonis kanker yang sudah memasuki stadium lanjut dan telah menyebar. Semua seakan kembali membuka memori-memori lama yang masih terekam jelas di kepala saya.
salah satu kegiatan menulis dengan memanfaatkan Handphone dan Laptop
Saya juga bercerita maengenai berbagai aktifitas yang saya lakukan setelah menerima vonis kanker.  Selain tetap menjalani kehidupan biasa sebagai istri dan ibu, saya juga masih terus menulis dan menghasilkan karya.   Saya juga terjun dalam rangka edukasi kanker dan berbagi pengalaman  kepada masyarakat secara langsung maupun melalui tulisan. Termasuk cerita beberapa penghargaan yang saya terima setelah menjadi survivor kanker, antara lain Finalis Kartini Next Generation 2015 dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, 15 Ibu Hebat 2015 versi The Asian Parent, serta Perempuan Terinspirtif IIDN 2014.

Pengalamanan telat mendeteksi kanker serta mengalami rasa sakit dan nyeri akibat kanker telah mengajarkan saya banyak hal dan hikmah.  Saya tidak ingin ada banyak orang khususnya perempuan yang mengalami hal yang sama seperti saya.  Semakin cepat kanker di deteksi, maka bisa dilakukan pengobatan secara cepat. Sehingga peluang kesembuhan pun bisa semakin terbuka lebar. 

Seandainya pun telat mendeteksi kanker seperti yang saya alami, maka jangan lantas berputus asa dan hilang harapan.  Segera ambil tindakan berobat, ikhtiar dan terus berusaha serta berdoa.  Selalu ada harapan bila kita berani dan terus mencoba. Saya juga menyampaikan bahwa Kanker Bukan Akhir Dunia.  Terkena kanker, bukan berarti akhir dari segalanya.  Kita masih bisa melakukan hal-hal yang bermanfaat dan positif.  Terus semangat dan berfikir positif.  
Raisyah yang baru pulang sekolah ikut berfoto juga
Saya bersyukur selalu di kelilingi oleh keluarga dan teman-teman yang terus dan mendukung saya.  Hal itu menjadi sumber kekuatan saya untuk bangkit dan terus berjuang. Saya juga menyampaikan agar terus mendukung dan menyupport para survivor kanker agar mereka bisa terus semangat dan survive.

Tidak terasa acara syuting berlangsung beberapa jam telah selesai.  Ada rasa lega dalam hati saya.  Saya berharap film dokumenter tersebut bisa bermanfaat dan menginspirasi penonton kelak.  Semoga.. 



23 komentar

Write komentar
sri rahayu
AUTHOR
9:19 PM delete

Sukses terus yayyy. ..doaku untukmu

Reply
avatar
8:39 AM delete

semangat mbak! saya ikut mendoakan :-)

Reply
avatar
12:40 PM delete

Terima kasih mba ayu sayang

Reply
avatar
12:41 PM delete

Terima kasih untuk semangatnya ya mba

Reply
avatar
Ika Koentjoro
AUTHOR
11:29 PM delete

Semangat mbak. Doaku untukmu selalu mbak

Reply
avatar
12:20 AM delete

Tetap semangat Mak Tri, semoga tetap teruz berkarya ^^

Reply
avatar
PIPIT
AUTHOR
12:23 AM delete

sukses terus mbak tri, semangatku untukmu.. :)

Reply
avatar
Tira Soekardi
AUTHOR
12:58 AM delete

inspiratif, sukses ya

Reply
avatar
Anonymous
AUTHOR
2:18 AM delete

Sungguh luar biasa... Semangat terus ya mb :)

Reply
avatar
2:48 AM delete

Mbaaak...whuuua!!! #berkacakaca bacanya. Semangat terus Mbak! Kisahnya menginspirasi. Ya Allah, ditengah keterbatasan ternyata Mbak masih berkarya terus. Ya Allah, saya malu masih suka mengeluh.

Reply
avatar
4:15 AM delete

Luar biasa mba sayang..semangat terus ya..menginspirasi

Reply
avatar
4:15 AM delete

Luar biasa mba sayang..semangat terus ya..menginspirasi

Reply
avatar
8:14 AM delete

Makasih mba Ika untuk.doa dan semangatnya

Reply
avatar
9:34 PM delete

Keren, hidup tidak ada yg tau. Tapi semangat gak bisa trus berhenti

Reply
avatar
12:56 AM delete

Terima kasih ya mba herva. Amin amin

Reply
avatar
12:57 AM delete

Amin amin. Terima kasih mba Pipit

Reply
avatar
1:00 AM delete

Terima kasih ya mba Tira. Amin

Reply
avatar
1:00 AM delete

Terima kasih ya mba Wili untuk semangat nya

Reply
avatar
1:01 AM delete

Terima kasih ya mba Levina untuk semangatnya

Reply
avatar
1:01 AM delete

Terima kasih mba deasy. Semangat juga ya mba.

Reply
avatar
1:02 AM delete

Setuju.. allah semua yang mengatur hidup kita. Kita harus tetap usaha dan semangat menjalaninya

Reply
avatar
5:19 PM delete

Keren, hidup tidak ada yg tau. Tapi semangat gak bisa trus berhenti

Reply
avatar
Tian lustiana
AUTHOR
7:04 PM delete

Semoga selalu sehat dan bahagia ya mbak :)

Reply
avatar