Ketika Asisten Mudik Lebaran

9:18 AM 4 Comments A+ a-


Dua bulan yang lalu...

"Mba, jadi mudik lebaran tahun ini?"tanya saya memastikan kepada asisten rumah tangga saya.

Mba Is, asisten rumah tangga saya tersebut menganggu.

"Jadi, bu. Saya jadi mudik ke kampung", ujarnya sumaringah.  Ada senyum tersungging di bibirnya.   

Sebenarnya saya sendiri sudah memprediksi kalau mba Is akan ijin untuk mudik lebaran tahun ini.  Mengingat dua tahun sudah,  mba Is tidak pulang kampung.   Pasti membuat rindu keluarga dan kampung halaman  yang semakin membara dalam dirinya.

Saya pun telah menyiapkan tiket pulang pergi untuk mbak Is mudik ke kampung.  Saya harus memastikan kalau mba Is bisa nyaman dalam perjalanan dan sampai dengan selamat sampai ke kampungnya.   hmm.. sebenarnya lebih tepatnya, untuk lebih memastikan kalau mba Is bakal balik lagi ke rumah saya setelah mudik :D   Tidak mudah lho, jaman sekarang mencari asisten yang cocok dan bertahan lama.

Sedikit mengulik masa lalu, keberadaan mba Is sang asisten ini memang sangat memberi warna dalam kehidupan kami. Kurang lebih hampir 6 tahun, mba Is menjadi asisten saya. Kehadiran mb Is memang sudah saya anggap bagian dari keluarga saya sendiri.

Apalagi sejak saya harus menjalani terapi dan pengobatan kanker, yang membuat saya sering berobat atau menginap di rumah sakit. Praktis, mba Is menjadi kepercayaan saya untuk mengurus rumah dan keperluan anak anak di rumah. 

Rencana mudik mba Is selama minggu ke kampung, jelas membuat saya harus mengatur strategi untuk mengurus rumah  dan anak-anak.  Yang jelas untuk sementara waktu, saya dan anak-anak terpaksa mengungsi ke rumah orang tua saya.  Hehehehe.   Di samping itu juga, saya meminta anak-anak untuk lebih mandiri dan membantu urusan di rumah dan keperluan mereka masing-masing. 

Untung saja, anak-anak bisa paham dan mengerti dengan kondisi yang ada.  Saya membagi tugas mereka dengan sewajar-wajarnya.  Apalagi untuk sementara waktu, kami mengungsi kerumah orang tua saya.  Tentu saja, saya tidak ingin terlalu merepotkan orang tua di rumah. 

Tugas pertama yang saya bagi kepada anak-anak yaitu membersihkan tempat tidur masing-masing ketika bangun tidur.  Selain itu, Arya dan Raisyah bergantian untuk menyapu rumah dan membersihkan kamar mandi.  Mereka pun sepakat untuk saling membantu kakek dan nenek bila membutuhkan bantuan mereka.

Lupi si bungsu juga ternyata berusaha bersikap mandiri dan tidak merepotkkan kakak-kakaknya.  Lupi sudah membiasakan diri untuk mandi dan memakai pakaian sendiri. Hanya saja, bila Lupi mau BAB, terpaksa kedua kakaknya yang bergantian untuk membersihkan BAB nya.  Ternyata dengan keadaan asisten mudik lebaran ini, anak-anak bisa menunjukkan tanggung jawab dan kemandirian.

Jujur saja, saya terharu sekaligus merasa bangga dengan kemandirian anak-anak.  Dalam kondisi fisik saya yang terbatas aktifitas ini,  tidak membuat mereka sedih dan bingung melakukan aktifitas di rumah tanpa kehadiran mba Is. Mereka bahkan berusaha bahu membahu untuk saling membantu satu sama lain.  Saya terus berdoa dan berharap, mereka akan tetap rukun dan saling membantu sampai kelak mereka dewasa.


4 komentar

Write komentar
yati rachmat
AUTHOR
7:36 AM delete

Kl kita menganggap ART sebagai bagian dari keluarga, pastilah aka menjadikan ART merasa dihargai keberadaannya, tdk semata tenaganya saja. Itu salah satu rahasia yg membuat mereka betah. Hampir semua ibu2 akan + menghargai mereka ketika mereka tdak ada dan seluruh keluarga harus berbagi tugas, juga sekaligus mengajarkan kemandirian dan arti kebersamaan. Iya, kan? Tak lepas juga terjadi pd bunda, hehe...

Reply
avatar
5:13 PM delete

Benar bunda..saya setuju dengan apa yang bunda katakan. Keberadaan ART memang sangat membantu, namun tetap juga mengajarkan kemandirian kepada anak anak.untuk saling membantu

Reply
avatar
Santi Dewi
AUTHOR
9:38 PM delete

hebat mbaa Yun, anak2nya sudah mandiri semuanya

Reply
avatar
7:32 PM delete

subhanakkah, ART pulang kampung membawa berkah ya mbak yuni

Reply
avatar