Konsultasi dan Persiapan Menuju Radioterapi Sinar

4:53 AM 17 Comments A+ a-

Seperti yang sudah saya sampaikan di tulisan sebelumnya,  pengobatan kanker saya akan berlanjut dengan rencana radioterapi sinar. Syukur Alhamdulillah, di RS Umum A Wahab Syahranie sudah ada gedung radioterapi yang telah di operasikan beberapa bulan ini.  Setidak saya tidak perlu jauh-jauh keluar daerah untuk melanjutkan terapi.

Konsultasi dengan Dokter Radioterapi

Sebelum melakukan terapi radioterapi, dokter onkologi saya telah memberikan rujukan konsultasi ke dokter radioterapi. Dokter Samuel Kelvin, merupakan dokter radioterapi sekaligus kepala Radioterapi di Rumah Sakit Umum AWS. 

Sebenarnya saya sudah tahu nama beliau dari rekan-rekan survivor dari komunitas CISC. Apalagi pada saat HUT CISC tahun 2015 lalu di Jakarta, saya bertemu dengan Prof Tatik dari Radioterapi RS Cipto Mangunkusumo yang pada saat itu menjadi pembicara seminar di acara tersebut.  Beliau menyampaikan unit radioterapi akan segera hadir di RS Umum AWS Samarinda, dimana Dokter Samuel akan menjadi dokter radioterapi di sana. Ternyata siapa sangka, akhirnya saya juga bisa bertemu dengan Dokter Samuel dan menjadi pasien beliau.

Pada pertemuan konsultasi selanjutnya,  di lakukan pada hari Senin, 18 Juli 2016 tadi. Saya di temani kedua anak saya, Arya dan Raisyah ke ruang radioterapi RS Umum AWS. Selain itu, ada pula Egi salah satu keluarga yang menemani saya bertemu dengan Dokter Samuel.

Saya juga membawa kembali surat rujukan dokter onkologi ke Radioterapi,  berbagai hasil pemeriksaan yang saya lakukan seperti hasil MRI, rontagen Thorax, Hasil Lab Darah terbaru, hasil pemeriksaan patologi dan lain lain. Semuanya itu memang di minta untuk persiapan radioterapi.

Kebetulan di hari yang sama, Dokter Samuel kedatangan tamu yaitu dokter yang merupakan dokter mentor beliau dari Perancis. Sungguh sebuah kejutan yang tidak terduga. Apalagi kasus saya sendiri mendapatkan perhatian langsung untuk di diskusikan Dokter Samuel dan  dokter mentor beliau.

Nah, yang lebih heboh dari itu semua, yaitu respon Arya dan Raisyah. Mereka berdua begitu terkejut sekaligus heboh dengan kehadiran mentor dari Dokter Samuel yang notabene merupakan orang bule. Saya sendiri sampai tertawa geli ketika Raisyah dan Arya saling beradu pendapat.

"Nanti gimana kalo dokter bule itu ngajak ngomong, ma? Trus kita jawab apa?" Tanya Raisyah dengan antusias.

"Ya Raisyah jangan ikutan ngomong kalo ngga ngerti bahasa Inggris," sahut Arya sambil Nyinyir. 

Mereka berdua masih melanjutkan argumen sampai akhirnya berhenti ketika Dokter Samuel, mentor serta tim dokter radioterapi mendatangi saya.
.
Kami pun terlibat diskusi mengenai rencana pengobatan radioterapi yang akan saya lakukan. Berhubung bahasa inggris saya juga kurang fasih (ngaku deh hahahha), jadi saya hanya mendengarkan pembicaraan Dokter Samuel bersama mentornya.  Beruntung pula, dokter Samuel berbaik hati membantu mentranslate pembicaraan dokter mentor tersebut bersama saya.  Saya pun di tanya mengenai berbagai pertanyaan termasuk riwayat pengobatan yang sudah saya lakukan.

Diskusi kami pun berjalan dengan baik, dan rencananya saya akan di lakukan Scan Radioterapi di hari Kamis berikut. Scan yang akan di lakukan tersebut menggunakan kontras yang akan di suntikan kepada saya. Tujuannya untuk di lakukan penggambaran lokasi penyinaran nantinya.  Dengan proses scan ini menjadi lebih jelas dan memudahkan untuk mementukan titik-titik tempat penyinaran di dalam tubuh.

Saya juga berkesempatan memberikan buku Kanker Bukan Akhir Dunia kepada Dokter Samuel.  Sayangnya saya hanya membawa 1 buku tersebut saja.  Saya juga berkesempatan bercerita mengenai aktifitas saya yang terus menulis buku dan blog sebagai bagian dari hobi dan mengisi waktu. Selain juga sebagai bentuk edukasi kanker kepada masyarakat dan memotivasi teman teman sesama survivor kanker. Kanker bukan akhir dunia, dan bukan penghalang untuk terus berkarya dan berbagi.

Sebelum pulang, saya juga di minta untuk menandatangai beberapa berkas sebagai persetujuan untuk Scanning. Selain itu juga dari pihak radioterapi menjelaskan prosedur yang nantinya akan di lakukan pada proses scanning radioterapi. Termasuk juga apa yamg harus saya persiapkan untuk menjalani proses scaning nanti,  seperti puasa semalam sebelumnya, dll.

Proses Scan Untuk Penggambaran Lokasi Penyinaran

Hari Kamis pagi,  tepat jam 08.30, saya sudah berada di ruang radioterapi RS Umum A Wahab Syahranie di temanin Arya, Egi dan Mba Is.  Raisyah dan Wahyu, menyusul kami pada siang harinya.

Sebelum di lakukan proses scan, saya di haruskan berpuasa makan sejak jam 12 malam sebelumnya. Saya hanya di perbolehkan untuk minum air putih saja, dan minum teh manis hangat tepat jam 6 pagi. 
Sesampainya di ruang radioterapi, saya di tempatkan di kamar khusus bagi pasien yang akan melakukan scan radioterapi.  Saya pun di minta untuk ganti pakaian yang sudah di sediakan pihak radioterapi.

Setelah itu, atas petunjuk dokter, perawat lalu melakukan test suntikan alergi pada saya. Tujuan untuk mengetahui, apakah saya mempunyai alergi atau tidak terhadap obat yang nantinya akan di berikan. Cara dilakukan test alergi dengan menyuntik di  bagian tangan di bawah kulit. Rasanya? Lumayan sakit dan nyeri hehehe.  Setelah itu, saya juga di berikan jarum infus, yang di persiapkan untuk pemberian obat kontras nanti.

Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, proses scan radioterapi ini dilakukan untuk mengetahui secara jelas bagaimana posisi bagian dalam tubuh yang akan di sinar.  Untuk memperjelas gambaran tersebut, maka di berikan suntikan kontras yang di suntikan melalui tangan. Setelah di ketahui posisi yang tepat tersebut, maka tubuh kita akan di berikan titik titik tanda untuk memudahkan menemukan posisi saat penyinaran.

Saya menunggu waktu proses scan cukup lama di ruang pasien. Beruntung, ada Arya yang menemani saya. Kami berdua saling bercerita dan main game bersama.  Ah, sungguh sebuah kebersamaan bersama anak yang benar-benar menyentuh hati saya.

Di saat anak anak lain seusia Arya masih sibuk bermain dan senang senang, tetapi Arya malah menemani di rumah sakit dan menjaga saya selagi papanya bekerja di luar daerah. Semoga engkau terus jadi anak yang sholeh, pintar dan berbakti ya Nak.

Akhirnya saya di bawa menuju ruangan scanning khusus di radioterapi.  Saya cukup familiar dengan ruangan dan alat alat seperti itu, karena kurang lebih bentuknya hampir sama  walaupun fungsinya berbeda beda heheheh. 

Yang paling ribet adalah proses memindahkan saya dari branker ranjang ambulan ke tempat tidur scan. Kondisi tulang belakang saya yang bermasalah, membuat harus super hati-hati mengangkat tubuh saya. Akhirnya saya di angkat bersama sama bersama seprai ranjang. Wow... rasanya luar biasa ngilu hahaha.

Perjuangan menghadapi ngilu ternyata belum selesai .  Posisi saya harus di atur dengan lurus sedemikian rupa agar tidak berubah -rubah. Posisi ini juga yang terus di lakukan ketika kelak di lakukan radioterapi sinar.  Beruntunglah pihak dokter dan perawat sabar dan telaten mengatur saya. Mereka sangat mengerti kondisi saya sebagai pasien kanker metastase ke tulang belakang.

Setelah urusan mengatur posisi tubuh saya selesai, maka alat scan pun mulai di jalankan.  Sebelumnya, Saya bisa melihat jelas di ruangan sebelah yang terhalang jendela kaca, Dokter Samuel, Dokter mentor Beliau, beserta tim radioterapi sedang serius memperhatikan proses scaning saya .

Sembari berjalan proses scaning, di tengah-tengah proses scan berlangsung, ada juga 1 perawat yang bertugas memasukkan cairan suntikan kontras melalui tangan saya.  Selain itu, ada  2  perawat yang memang bertugas memberikan tanda  penyinaran di tubuh saya. 

Proses pemberian tanda titik tersebut berdasarkan hasil scaning tubuh saya. Terdapat ada 4  buah titik yang di tandai, yaitu di bagian dada, bagian perut, di samping kiri ketiak kanan dan samping kanan ketiak kiri.  Pada pemberian tanda itu, dilakukan  menggunakan semacam jarum yang di tusukan di bawah kulit, sehingga menimbulkan bekas tanda.

Untuk memperjelas ke 4 titik tersebut,  perawat memberikan tanda panah dengan spidol di area titik.  Di usahakan agar tanda itu tidak hilang, agar mudahkan saat proses penyinaran pada selanjutnya.  Selain itu juga, perawat meminta ijin mengambil foto area ke 4 titik di tubuh saya dan foto wajah sebagai arsip .  Sehingga apabila tanda itu tanpa sengaja terhapus, mereka juga masih punya arsip foto ke 4 tanda tersebut.

Setelah scanning radioterapi selesai, saya juga masih harus menunggu tim dokter berdiskusi mengenai hasil scan saya. Tak lama Dokter samuel dan mentor beliau mendatangi saya di ruang scan. Dari hasil scan yang ada, beliau  menjelaskan pengobatan terapi yang saya jalani ini termasuk dalam pengobatan paliatif. (Penjelasan mengenai pengobatan paliatif, akan saya jelaskan kapan kapan ya ). Beliau merencanakan untuk melakukan 15 x proses radioterapi sinar.

Alhamdulillah segala proses scaning selesai, walaupun diiringi dengan insiden menahan ngilu dan nyeri hehehe. Semoga saya proses rencana radioterapi sebanyak 15 kali nanti berjalan baik. Amin....

Mohon doa ya teman teman...

17 komentar

Write komentar
Yati Rachmat
AUTHOR
6:55 AM delete

Yuni, bukan main, ya, pemeriksaan demi pemeriksaan harus dijalani, kemudian menjadikan postingan ini autentik sekali diserta foto-foto untuk setiap pemeriksaan. Semoga hari ini ada kemajuan pesat tentang perkembangan penyakit Yuni. Aamiin.

Reply
avatar
9:57 AM delete

Terima kasih bunda sudah membacanya, juga untuk doa dan semangatnya.
Saya memang menuliskan berbagai proses pengalaman pengobatan yang saya jalani di blog, selain untuk terus menyemangati saya sendiri. Juga saya berharap agar tulisan ini bisa bermanfaat bagi para pembaca khususnya bagi survivor kanker yang juga menjalani pengobatan kanker.

Reply
avatar
Bunda Haifa
AUTHOR
6:53 PM delete

Bunda hebat banget. Sabar menjalani semua pengobatan. semoga bunda selalu bersabar menghadapinya bun.semoga menjadi penggugur dosa dosa ya bun sakitnya, aamiin.

Reply
avatar
8:01 PM delete

saya baru saja baca postingannya ibu widya yang membahas ibu..

Tetap semangat ibu yuni...

semakin membuat saya sendiri mensyukuri segala nikmat sehat yang dialami saat ini..

Reply
avatar
5:17 AM delete

semangaaaat terus mba...saya radiasi sebanyak 25 kali tahun lalu. Setiap hari selama kurang lebih 30 menit per terapi. Agak sedikit berbeda memang prosedurnya tapi secara prinsip sama ya mba. Semoga prosedur ini berhasil dan mba Yuni menjadi lebih sehat. Cheers..

Reply
avatar
Lusi
AUTHOR
8:03 AM delete

Semoga dengan kehadiran dokter ahli dari Perancis bisa membantu pengobatan lebih maksimal lagi ya mbak. Semoga prosesnya bisa dilalui dengan sabar & lancar. Aamiin.

Reply
avatar
Roosvansia
AUTHOR
10:20 AM delete

Mba Yuni, aku ngga kebayang sakitnya gimana itu hikssss. Mba HEBAT, bisa berjuang terus dan tetap semangat. Nanti aku mau tanya beberapa hal by email ya mba Yuni, ngga sabar rasanya berbagi sama pembaca blog aku juga. Lancar, berhasil semua pengobatannya ya mba Yuni. GBU

Reply
avatar
suria riza
AUTHOR
6:54 PM delete

selalu semangat mba
aku sekali doang diradioterapi
tapi tetap aja berasa gimana gitu g boleh gerak pas digituin
semangatttt :*

Reply
avatar
5:57 AM delete

Amin amin. Terima kasih bunda Haifa untuk doanya.

Reply
avatar
5:57 AM delete

Terima kasih pak Korenelius untuk semangatnya.

Reply
avatar
5:58 AM delete

Iya mba. Semoga prosedur ini berhasil dan saya menjadi lebih sehat.

Sehat selalu juga ya mba Indah

Reply
avatar
5:58 AM delete

Amin amin. Terima kasih ya mba Lusi

Reply
avatar
5:59 AM delete

Terima kasih untuk semangatnya

Reply
avatar
5:59 AM delete

Mba Roos.. makasih untuk.doa dan suppotmu..peluk

Reply
avatar
6:00 AM delete

Makasih ya mba Echa.
Sehat sehat selalu ya untuk dede baby dan Raffi.

Reply
avatar
Minda Lubis
AUTHOR
4:15 AM delete

Assalamualaikum mba Yuni, salam kenal saya Minda dari Samarinda juga :)
Semoga mba Yuni selalu diberi kekuatan dan kemudahan dalam pengobatan ya mbaa.. terharu saya membaca tulisan-tulisan mba Yuni :)

Reply
avatar