Catatan Seorang Ibu Yang Lagi Sensitif

3:45 AM 0 Comments A+ a-

Selama menjadi seorang survivor kanker, tentu banyak hal yang berubah dalam hidup saya. Salah satu perubahan yang cukup signifikan yaitu pada kemampuan fisik khususnya dalam hal berjalan dan bergerak. Saya pun banyak terbantu oleh tongkat, korset ataupun kursi roda kalau perjalanan jauh.

Penyakit Kanker yang sudah bermetase ke tulang belakang, memang cukup menganggu mobilitas gerak menjadi lebih lambat, ataupun kesulitan naik tangga walaupun hanya beberapa jejak tangga. Ya, saya tetap terus bersyukur, masih bisa melakukan aktifitas terbatas, mengingat saya pernah nyaris lumpuh beberapa waktu lalu .

Nah, ada saja hal-Hal yang menarik, lucu atau bahkan menyedihkan tentang ini. Salah satunya saya alami beberapa waktu lalu . Saat itu Raisyah mengalami sakit batuk yang tidak kunjung sembuh. Akhirnya saya memutuskan untuk membawanya ke salah satu klinik praktek dokter umum .

Saya sudah lama tidak ke klinik tersebut, karena selama ini saya lebih banyak berobat langsung kerumah sakit umum. Singkat cerita saat mendaftar di bagian pendaftaran, mba yang bertugas meminta saya mengisi data pribadi Raisyah.

"Sebentar ya, bu. Ibu nanti naik Tangga ke lantai dua. Dokternya praktek di lantai dua,"jelas si mba dengan wajah manisnya.

"Lho, bukannya praktek dokter umum cukup di lantai 1?"Tanya saya bingung sembari membayangkan betapa menguras energinya harus menyisiri naik ke lantai dua .

"Memang di lantai satu, bu. Tapi dokternya lagi Ada pasien di lantai dua, jadi sekalian semua pasien diarahkan kesana".

Saya terdiam sejenak,"begini mba, saya tidak bisa naik tangga karena adalah masalah pada tulang belakang. Syaraf saya terjepit. Apa bisa saya tetap berobat di lantai satu saja?"tanya saya.

"Bentar ya, bu. Saya tanyakan dulu,"kata si mba sambil menelpon ke lantai dua.

Tidak lama kemudian telah ada jawaban dari si mba,"iya bu. Tunggu saja ya. Nanti dokternya turun ke lantai 1,"jelas si mbak.

Saya pun bernafas lega dan membawa Raisyah menunggu di ruang tunggu dokter di lantai 1. Tak lama sang dokter turun dari tangga dan menuju ruang prakteknya.

Sebentar kemudian, nama Raisyah di panggil perawat dan kami berdua masuk kedalam ruangan.

"Maaf ya, dok. Saya tidak bisa naik tangga. Jadi nggak bisa menemui dokter ke lantai 2,"kata saya membuka pembicaraan. Dokter hanya membalas sekedarnya dan segera memeriksa Raisyah dengan teliti. Sambil menuliskan resep, saya pun bertanya lebih lanjut tentang sakit raisyah yang ternyata memang sakit batuk yang cukup mengganggu.

"Ibu sakit apa?"tanya si dokter tiba-tiba. Terus terang saya cukup kaget dengan pertanyaan di dokter. Mungkin dokter cukup penasaran kenapa saya tidak mau naik tangga untuk ke ruang prakteknya di atas.

"Oohh.. saya ada masalah ditulang belakang, dok. Seperti syaraf kejepit,"kata saya. Saya memang jarang mengungkapkan sakit kanker saya pada orang lain. Biasanya saya memang melihat situasi juga.

"Sakit syaraf kejepit itu jangan di biarkan, bu. Apalagi ibu masih usia produktif, kalau sudah tidak bisa naik tangga, itu harus di waspadai,"jelas si dokter lagi.

"Maaf dok, saya masih bisa kok naik tangga. Tapi harus butuh tenaga extra,"aku saya dengan jujur.

"Iya, saya tahu bu. Tapi ibu kan masih usia produktif. Lain halnya kalau sudah nenek nenek. Wajar kalo susah naik tangga," kata si dokter lagi. Jlebb ! Alamak, kenapa pula dokter ngomongnya ngaitkan usia produktif saya dengan ketidak mampuan saya naik tangga secara normal.

Saya hanya diam sejenak mendengarkan penjelasan dokter yang panjang lebar tentang penyakit tulang belakang dan syaraf terjepit. Saya sempat berfikir, apa mungkin si dokter kesal ya karena saya tidak naik tangga menemui dia. Terlebih melihat kondisi saya yang masih muda seperti ini. Hhhmmm.. dalam hati saya juga sedikit menyesal, kenapa lupa bawa tongkat kebesaran untuk menandakan kalau saya memang sedang sakit. Hehehhe...

Cukup lama juga dokter dengan semangat berapi-api menjelaskan tentang masalah syaraf. Termasuk memberi masukan apa saja yang harus saya lakukan dalam berobat di usia masih produktif.

Memang dasarnya saya lagi sensitif Kali ya... berkali-kali dokter bicara ten tang kaitan usia produktif perempuan dengan ketidak mampuan bergerak normal, membuat saya cukup sensitif. Saya pun segera mengambil langkah dramatisir untuk menutup penjelasan dokter agar penjelasannya tidak melebar kemana-mana.

"Maaf dok. Syaraf kejepit saya bukan hanya karena Masalah tulang belakang. Saya seorang survivor kanker stadium lanjut yang sudah metase ke tulang belakang. Jadi itu yang membuat saya tidak bisa bergerak normal,"jawab saya pelan sambil menahan emosi.

Dokter tersebut langsung terdiam mendengar penjelasan saya barusan. Saya tangkap ada raut rasa bersalah di wajahnya. Mungkin ia merasa bersalah karena menceramahi saya panjang lebar tanpa tahu penyakit saya sesungguhnya.

"Oh maaf, bu. Saya tidak tahu kalau penyebabnya dari sakit kanker ibu,"jawabnya dengan pelan.

Saya hanya tersenyum mendengarnya. Dan dengan segera saya berpamitan keluar ruangan praktek sambil menggandeng Raisyah.

Perkataan dokter tentang usia produktif saya ternyata cukup mengusik saya. Walaupun saya tahu, si dokter menceramahi saya tanpa tahu kondisi sakit kanker saya terlebih dahulu. Mungkin kalau dari awal saya bilang sesungguhnya tentang kanker yang saya derita, tentu dokter itu tidak akan sesemangat itu menceramahi saya.

Saya melirik ke arah Raisyah yang sedari tadi tidak lepas menggandeng saya. Saya memang menbenarkan apa kata dokter itu. Di usia saya yang masih produktif ini, seharusnya saya bisa melakukan banyak aktifitas normal seperti layaknya ibu muda lainnya. Menemani anak, mengantar jemput anak sekolah, mengajak mereka jalan-jalan dan sebagainya. Tapi itu semua tidak bisa saya lakukan dengan baik mengingat kondisi fisik yang tidak memungkinkan.

Saya mulai merasakan hati terasa teriris iris kembali setelah sekian lama saya berusaha tetap tegar dengan kondisi yang ada. Kata-kata si dokter tadi cukup menghujam perasaan sensitif saya yang lagi lebay.

Sambil menunggu di bangku apotik, perlahan saya memeluk Raisyah sambil berbisik padanya,"Maafkan mama, sayang. Mama akan terus menyayangimu dengan cara mama sendiri". Tak terasa tetesan air mata itu jatuh di kedua pipi saya...