Refleksi Hari Buku Sedunia : Buku sebagai Sumber Inspirasi dan Informasi

9:22 PM 1 Comments A+ a-

oleh :  Tri Wahyuni Zuhri, SP

Mungkin tidak banyak orang yang tahu, bahwa setiap tanggal 23 April di peringati sebagai hari Buku sedunia.  Penetapan tanggal 23 April sebagai hari Buku dilakukan oleh UNESCO. UNESCO memberikan menetapkan hari buku sebagai penghargaan kepada para penulis dunia, yang lahir atau meninggal pada tanggal tersebut. Para penulis dunia tersebut antara lain William Shakespreare dan Miquel de Cervantes. Keduanya telah melahirkan karya-karya maestro yang hingga sekarang masih dikenang.
Namun sayangnya, gaung peringatan hari Buku sedunia di Indonesia kurang mendapat perhatian.  Selain masih banyak orang yang tidak mengetahuinya, disamping itu masih rendahnya apresiasi dan minat baca buku di masyarakat. Padahal buku diibaratkan sebagai jendela dunia.  Buku tidak hanya sebagai sumber informasi, tetapi juga sebagai teman sekaligus sahabat. Buku akan setia menemani kita tanpa takut termakan oleh zaman dan waktu. Semakin dalam menyelami buku, maka semakin banyak informasi dan pengetahuan yang kita butuhkan.

Seiring berjalannya waktu, saat teknologi informasi sudah semakin pesat. Maka kehadiran buku pun seakan terabaikan. Sebagian besar orang lebih memilih memanfaatkan teknologi tersebut dari pada membeli ataupun membaca buku. Mereka  menonton televisi, search internet, memanfaatkan sosial media, atau membeli peralatan lain seperti komputer, VCD, gadget, handphone, ketimbang membeli buku. Orang pun akan lebih memilih berbelanja ke mall, rekreasi, supermarket, dari pada mendatangi toko buku. Sehingga jangan heran, toko buku sering sepi dari pengunjung, padahal begitu banyak buku-buku baru yang bermunculan.

Buku dan Inspirasi

Mengutip perkataan dari seorang sahabat saya, Tiffany Tsao, salah satu dosen dari University of Sydney, dalam sebuah seminar bahasa beberapa waktu lalu di Samarinda.  Tiffany mengungkapkan risetnya tentang sastra. Salah satunya mengenai hal yang baik bisa muncul karena kondisi yang tidak diinginkan. Ia menyebutkan contoh Pramudya Ananta Toer, salah seorang penulis besar Indonesia yang bukunya bahkan telah di terjemahkan dalam beberapa bahasa. Dalam kondisi terpenjara secara fisik, namun ia tetap bisa menghasilkan karya buku yang fenomenal. Bahkan buku-bukunya mampu menginspirasi bagi siapa pun yang membacanya. Kecintaan Pram pada buku, tidak lantas pudar saat ia dipenjara. Bahkan ia mampu menulis buku saat-saat sulit tersebut.
Saya pun menyaksikan sebuah tayangan televisi yang berkisah tentang seorang pemuda yang awalnya lebih banyak menghabiskan waktunya dengan hal-hal tidak berguna.  Namun, saat ia membaca buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu  luar biasa pada dirinya.  Membaca buku laskar pelangi menginspirasinya untuk segera berubah lebih baik dan meraih impiannya. Kisah Ikal dan kawan-kawannya dalam Laskar Pelangi yang bermimpi untuk bersekolah tinggi dalam keterbatasan  mampu mengugahnya untuk merubah hidup. 
Jadi tidak salah bila dikatakan buku mampu menjadi sumber inspirasi, menggerakkan kreativitas dan instuisi. Banyak orang-orang terinspirasi dan berubah menjadi lebih baik karena membaca buku.  Begitu pula dengan saya secara pribadi.  Saat saya mengalami masa-masa sulit atau down, saya akan lebih banyak meluangkan waktu membaca buku keagamaan ataupun buku motivasi diri serta kisah-kisah inspirasi. Membaca buku-buku itu membuat saya tidak hanya merasa lebih tenang, namun saya pun bisa mengambil hikmah dari nilai moral yang disampaikan oleh buku tersebut.  Terkadang saya merasa mendapat kekuatan dan passion baru untuk menjalani hidup. Hal ini pun bisa saja terjadi pada orang lain saat membaca buku.
Melihat betapa besar manfaat membaca buku, maka belakangan ini sudah sering di kampanyekan gemar membaca dan menulis. Pihak pemerintah pun sudah mulai menggalakkan program cinta buku, antara lain menyelenggarakan lomba-lomba yang merangsang minat baca dan menulis.  Selain itu, dikalangan masyarakat sudah sadar akan pentingnya membaca bagi generasi bangsa. Sekarang ini telah banyak bermunculan lembaga, komunitas, ataupun perorangan yang berkonsentasi  pada dunia membaca dan menulis.  Di Kaltim sendiri telah hadir berbagai komunitas penulisan yang lahir karena kesadaran pentingnya minat baca buku dan menulis, antara lain Jaring Penulis Kaltim (JPK) Studio Kata, Perempuan Penulis Kaltim (PPK), dan banyak lagi. Demikian pula dengan semakin banyak bermunculan penulis buku Kaltim yang telah menapakan jejak di dunia perbukuan nasional. 
Kembali mengutip kata seorang penulis, masa depan suatu bangsa tergantung tergantung berapa banyak buku yang dibaca serta berapa banyak karya yang dihasilkan dari setiap buku yang dibaca. Semoga bangsa kita termasuk bangsa yang peduli untuk terus membaca dan berkarya. Selamat hari buku sedunia..