CERITA SERU NAIK BUSWAY

9:33 PM 0 Comments A+ a-



OLEH : TRI WAHYUNI ZUHRI
Busway? Wah, siapa yang belum pernah naik busway, pasti ingin mencobanya. Apalagi cerita tentang busway tersebut begitu sering diulas di berbagai media. Namun,tetap saja naik busway perlu informasi lebih lanjut. Mengapa? Ya, karena saya punya cerita tentang busway kemarin.

Sebenarnya saya sudah menyusun agenda rapi untuk acara hari itu. Salah satunya bertemu dengan mba Indari Mastuti, di Sarinah Mall, Jakarta. Beliau founder IIDN dan IIDB, serta owner Indscript Creative. Berhubung saya di Jakarta pula, jadi sengaja menyempatkan waktu bertemu.

Bapak pun bersemangat menemani saya ke Sarinah, maklum dari tempat kami menginap di Cijantung sangat jauh. Terlebih kondisi saya yang baru pulih. Rupanya kedua teman bapak pun ingin ikut menemani. Mereka. Ingin jalan-jalan keliling Jakarta. Tentu saja bapak dan saya senang-senang saja. Bukannya ramai-ramai berangkat akan lebih menyenangkan dari pada berdua. Hehehe

Rencana naik taxi blu* B*rd pun berubah. Mereka ingin mencoba naik busway. Rupanya berita tentang busway menarik perhatian, terlebih buat kami orang luar pulau


Berbekal informasi ala kadarnya karena merasa sudah yakin,(saya menyesal nggak tanya lebih banyak hik hik hik), berangkatlah kami berempat naik busway. Pertualangan naik busway pun dimulai.

Pertama dari Cijantung, kami naik angkot dulu sampai ke Pasar Rebo. Di pasar Rebo inilah ada terminal busway. Dengan rasa percaya diri, masuklah kami ke busway dengan membayar Rp. 3500 perorang. 

"Mall Sarinah Tamrin turun dimana,pak?" Tanya saya pada penjaga busway.

"Nanti minta turun ke UKI ya, bu,"terangnya sambil tersenyum. Saya pun mengangguk-angguk. Yang lebih menarik, ternyata kami baru tahu kalau untuk penumpang perempuan terdapat lokasi duduk di belakang driver. Jadi ketika teman bapak saya mau berdiri di daerah tersebut, langsung di tegur oleh petugas busway. (Kesalahan pertama karena kurang info heheh). 

Karena penuh, bapak berserta kedua temannya tidak dapat tempat duduk. Mereka hanya berdiri dalam bus way sembari memegang pegangan tangan di atas bus way. Sedang saya? Termasuk beruntung. Mungkin karena saya sakit pinggang dan tidak kuat berdiri, seorang penumpang perempuan langsung berdiri dan mempersilahkan saya duduk di tempatnya.

Wow..., betapa takjubnya saya. Padahal ada pula beberapa perempuan yang berdiri karena tidak kebagian tempat duduk, namun perempuan itu malah mempersilahkan saya duduk.

Setelah beberapa lama saya duduk, saya pun mulai mengamati keadaan di dalam busway. Akhirnya aku bisa naik busway oy!! 

Tiba-tiba mata saya tertuju pada sebuah stiker tempelan di kaca busway. Yang inti tulisan di stiker itu, para penumpang agar lebih mendahulukan ORANG TUA, ORANG CACAT dan IBU HAMIL !! (Kesalahan kedua karena kurang info! )

Ampun..! Mungkin karena kondisi tubuh saya yang terlihat mendengkik ketika berjalan (maklum sakit pinggang akut
  ), dan baju saya yang agak besar, saya dikira sedang hamil !! 

Tapi tidak apalah, memang kondisi tubuh saya sedang dalam proses pemulihan, dan tidak memungkinkan berdiri lama. Jadi rasanya tidak masalah, kalau saya pura-pura tidak melihat tulisan di kaca busway tersebut. 



"UKI masih jauh ya?"Tanya saya kepada penumpang perempuan di samping saya. 

"Masih jauh, mbak. Macet juga,"jawabnya. 

Mulailah gelisah hati saya. Padahal saya sudah janjian sama mbak Indari untuk tepat waktu. Rasa curiga pun mulai menyelimuti hati saya, jangan-jangan naik busway ini nggak semudah yang saya bayangkan. Saya lirik Bapak dan kedua temannya masih berdiri sembari mengobrol di bagian tengah busway.

Beberapa waktu kemudian busway akhirnya berhenti di pemberhentian yang dimaksud. Kami berempat pun segera turun

Horeee..
Hati saya bersorak. Berarti saya bisa segera langsung ke sarinah !

Tapi tidak seperti yang saya pikirkan. Ternyata dari tempat itu kami harus melanjutkan lagi perjalanan dengan busway berbeda serta tujuan baru. 

Whattttt???? 
(Kesalahan Ketiga karena kurang Info)

Saat itu saya merasa orang paling aneh sedunia. Terlebih bapak dan kedua teman bapak sama-sama terkaget-kagetnya dengan saya. Ampun!! Rupanya kami berempat merasa yakin saja mempergunakan busway bakal mudah.

Saya langsung menepok jidat. Kenapa saya tidak mencari info lebih detiil mengenai pemakaian busway. Mengikuti ketiga orang bapak yang seyakin saya, padahal kurang informasi, sama saja bunuh diri hihihi..

Mulailah pertualangan kami dengan bus selanjutnya. Ternyata bus itu lebih penuh dan sesak dari sebelumnya. Dan seperti kejadian di busway pertama, tanpa diminta seorang penumpang berdiri dan mempersilahkan saya untuk duduk di tempatnya
 . Mungkin penumpang itu yakin saya sedang hamil karena memang kondisi tubuh saya yang terlihat tidak prima. Sedangkan bapak dan kedua temannya hanya bisa berdiri.

Perjalanan bus kedua ini ternyata cukup panjang. Selain berhenti beberapa kali di tempat pemberhentian, penumpang bus terus penuh dan sesak.
Ternyata hal itu berpengaruh terhadap saya. Sakit pinggang dan rasa linu di paha mulai saya rasakan. Tambah merana rasanya 


Saya melihat wajah bapak yang pucat.Selama ini bapak tidak pernah menaiki bus dengan berdiri dan kondisi penuh. Maklum, ditempat asal kami tidak ada bus kota, apalagi busway hehehe. (Benar-benar katro !!! OMG !!)

Beruntung lokasi tempat pemberhentian busway Semanggi telah dekat. Bapak terlihat sangat pucat dan keringat dingin. Begitu turun, segera kami menyusuri tangga bus way. 

"Bapak kuat nggak?"Tanyakku kuatir. Kuliat bapak sudah mulai berjalan pelan. Aku pun sampai lupa dengan sakit pinggangku karena melihat kondisi bapak.

"Kepala bapak pusing, sesak nafas. Tadi sesak betul di busway,"kata bapak dengan lemas. Kedua teman bapak sama kuatirnya denganku. Maklum, bapak punya penyakit mag dan jantung.

"Ayo, pak. Kita jalan pelan-pelan. Tuh ada mall semanggi. Kita istirahat dulu disitu,"kataku sembari menunjuk mall di depanku. 

"Lho, tapi janjianmu jam berapa? Nanti telat?"

Aku menggeleng,"insya allah, nggak apa-apa. temanku pasti ngerti kok, pak. Kan emergency nih".

Mulailah kami berempat menyusuri jalan penyerbangan busway. Kami baru tahu, ternyata setelah turun busway, kita tidak bisa langsung turun di tepi jalan seperti bus biasa, tetapi harus menyelusuri jalan khusus penumpang busway. Bentuknya pun naik turun dan berkelok-kelok. Walaupun tidak berupa anak tangga, tetap saja membuatku harus mengeluarkan energi penuh. Jaraknya? Ampppuuunnn.. Jauh bangettt !! (Kesalahan Keempat karena kurang Info)


Ternyata yang lebih parah, kami salah mengambil jalan. Seharusnya tembus ke Mall belok kanan, tetapi kami belok kiri. Padahal dari atas jembatan penyerbangan tersebut telah tertulis arah tujuan. Dan kami tidak memperhatikannya karena sok yakin... Haduuuhhh..
(Kesalahan Kelima karena kurang Info)

Ya.. Bisa ditebak deh, kami bukannya menemukan ujung jembatan untuk turun, tetapi malah bertemu terminal busway selanjutnya! 

Lemes, capek, pegel dan mau nangissss!! Ini deh akibatnya kalo sok yakin dan sok tahu tentang busway. Hik hik hik..

Bapak pun langsung terduduk lemas di kursi. Badannya panas dingin dan sakit kepala. Kedua temannya ikut-ikutan bingung.

Karena bingung, aku pun berinisiatif menanyai petugas loket karcis busway.

"Mbak, kalau mau ke mall itu lewat mana? Kok saya nggak nemuin jalan?"Tanya saya.

"Ibu salah jalan, seharusnya ketika turun tadi, ibu belok kanan. Kan ada petunjuk arahnya",jelas petugas tersebut.

"Trus saya harus bagaimana? Bapak saya sakit. Itu dia lagi duduk,"kata saya sambil menunjuk bapak yang masih lemas di kursi.

"Mbak kalau balik arah lagi lebih jauh. Lebih baik mbak naik lewat jembatan yang itu. Tidak terlalu jauh,"ujarnya sambil menunjuk ke depan. Haaaaa??? Terlihat jalanan naik keatas memanjang dan kemudian berbelok belok berbentuk seperti buntut ular naga!

Mulailah saya panik. "Kalau taxi, apa bisa berhenti? Biar bapak saya bisa naik taxi aja?"

Sebenarnya pertanyaanku cukup aneh, karena aku pun bisa melihat tidak mungkin taxi berhenti di tempat pemberhentian bus way yang cukup tinggi. Memang kita mau turun pakai apa? Loncat???
(Kesalahan ketujuh karena kurang info)


"Nggak bisa bu. Ini khusus jalur khusus jalur cepat. Kami nggak mau ambil resiko,"jelasnya,"satu-satu jalan ibu lewat jalan itu".

Huaaaa....

 bagaimana ini? Bapak sudah sesak nafas. kalau menunggu sampai bapak pulih pun tidak mungkin, karena sudah sangat menguatirkan. Setelah berunding dengan kedua teman bapak dan tentu saja menunggu sejenak bapak mengumpulkan tenaga. Akhirnya bapak berjalan dengan bantuan papahan temannya. 

Ah.. Perjalanan menyusuri jembatan penyerbangan busway yang kesekian kalinya terasa lama bagiku. Walaupun bapak dalam kondisi berusaha kuat, tetap saja membuatku kuatir. Kuatir kalo bapak tiba-tiba ambruk atau pingsan



"Masih sempat temanmu nunggu di mall?"tanya bapak tiba-tiba. Ya ampun, saat saya mengkuatirkannya, bapak masih sempat-sempatnya bertanya janji temuku.

"Udah gampang aja, pak. Yang penting kita turun dulu dari sini, lalu cari makan ya,"jawabku. 

Alhamdulillah, akhirnya ujung jembatan itu berhasil kami lewati. Segeralah kami mencari tempat makan untuk mengisi perut yang keroncongan. Beruntung ada rumah makan disekitar tempat yang kami lewati.

Aku pun menarik nafas lega. Perjuangan naik busway benar-benar mendebarkan! Setelah dihitung-hitung, perjalanan kami hampir 2 jam. Dan kami mungkin berjalan hampir 1 kilometer kali ya menyusuri jembatan penyerbangan busway



Kami pun makan dengan lahap karena kelaparan. Hanya bapak yang makan dengan pelan sekali. Rupanya kepala, badan, dan perutnya masih saling beradu satu sama lain. Tetapi kulihat wajahmu tidak sepucat tadi.


"Nanti abis ini kita ke Sarinah langsung aja naik taxi. Kasian temanmu nunggu,"kata bapak tiba-tiba.

Aku melongo. Aku sudah dibuat panik karena bapak drop. Eh, bapak malah kepikiran janjiku dengan teman.

"Kita pulang aja, pak. Bapak masih capek,"sahutku santai. Padahal dalam hatiku masih tidak karu-karuan.

"Nggak apa-apa dengan temanmu?"Tanya bapak.

"Nggak apa-apa, pak. Toh kami bisa bertemu lain waktu,"sahut saya.

Walaupun perjalanan ke sarinah hanya sekitar 15-30 menit. Kepala saya masih fokus untuk tetap memikirkan kondisi bapak. Bagaimana nanti kalau tiba-tiba bapak drop atau bahkan pingsan? Wah, bisa berabe! Yang jelas saya bakal di gantung mama!

Dan akhirnya bapak mengikuti ajakan saya. Kami berserta teman bapak akhirnya pulang kembali ke Cijantung dengan menggunakan taxi. Perjalanan itu memakan waktu 30 menit dan hanya mengeluarkan uang Rp. 80.700 ! Sedangkan menggunakan busway, memang Rp. 14000 (4 orang), namun membuat bapak drop dan sakit pinggang dan kaki saya kambuh !!

It's wonderfull Journey 


Note :
-selalu mencari informasi sebanyak-banyaknya dalam melakukan perjalannya. Khususnya pada kota yang akan kunjungi serta transportasi yang digunakan !!! Biar nggak kesesat seperti saya
  — di jakarta .