Showing posts with label tulisanku di media. Show all posts
Showing posts with label tulisanku di media. Show all posts

Resensi Buku It's Me di Tribun Kaltim


Alhamdulillah, salah satu tulisan resensiku di muat di Harian Tribun Kaltim edisi Minggu, 4 Oktober 2015.  Resensi buku It's Me, merupakan buku karya Mba Dya Lorreta.  Buku ini mengupas habis tentang Personal Branding.  Ingin tahu resensi buku ini, silahkan baca ya :

------------
Judul : It's Me!
(SUPERBRAND DIRI UNTUK JADI BEDA)
Penulis : Dya Loretta, SE., M.IKom
Penerbit : Lintas Kata
Tebal : 96 Halaman
Tahun : 2015

Tidak banyak buku yang mengupas lengkap mengenai personal branding yang beredar belakangan ini. Apalagi buku personal branding yang tidak hanya berkutat dengan materi persoal branding saja, tetapi juga berbagai macam pengetahuan dan praktek seiring perkembangan jaman saat ini.

Buku It's Me! Superbrand Diri Untuk Jadi Beda merupakan buku yang tanpa sengaja saya baca.  Waktu itu salah seorang sahabat saya, merekomendasikan buku ini untuk saya baca.  Rupanya dia mengerti, belakangan ini saya sedang belajar dalam personal branding.  Aktifitas saya sebagai penulis sekaligus survivor kanker yang aktif mengedukasi kanker, memang sangat terkait dengan personal branding.

Dya Loretta, SE., M.IKom selaku penulis buku It's Me!  Saya akui memang cukup jeli menangkap keinginan pembaca yang ingin tahu lebih jelas mengenai personal branding.  Buku yang di terbitkan Lintas Kata dan setebal 96 halaman ini, memang sudah membuat penasaran saya untuk membacanya sejak halaman pertama.


Dalam buku ini di bagi menjadi 6 Part, dimana masing-masing part memiliki kekuatan sehingga membuat buku ini menjadi lebih asyik untuk di baca.  Apalagi buku ini tidak monoton seperti buku-buku lain.  Penulis banyak menampilkan gambar menarik ataupun skema untuk lebih memperjelas pembahasan di Buku.

Dalam part 1, penulis membahas mengenai Now & Know! Kini dan Perkembangannya .  Saya langsung tertarik membaca buku ini saat penulis membahas fenomena selfie di masyarakat. Menurut penulis, selfie juga  bisa mendeteksi karakter personal seseorang, meski kedalamannya tentu perlu ditelaah lebih lanjut.

Lebih lanjut berbicara mengenai image atau citra diri seseorang. Jadi rasanya wajar saja, ada saja orang  yang selalu menjaga image agar selalu terlihat baik dan positif di mata masyarakat. Tentu saja hal itu dengan tujuan tertentu, antara lain agar bisa di hargai, dapat menginspirasi atau menjadi panutan orang lain.

Penulis juga menjelaskan bagaimana faktor situasional seseorang berpengaruh besar pada perilaku manusia. Ia mencoba mengutip buku Psikologi Komunikasi yang di jelaskan oleh Drs. Riswandi, M.Si. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain faktor ekologis,  faktor rancangan dan arsitektural,  faktor temporal, suasana perilaku, tekhnologi, dan lain lain.

Pada part 2 mengenai Kenali dan Pahami Diri Sendiri, penulis mengajak pembaca untuk lebih mengenali dan memahami keadaan dan kemampuan diri sendiri.  Di part ini, saya coba menyelaraskan dengan pengalaman saya pribadi. 
Saya sendiri memang perlu waktu untuk bisa mengenali dan memahami diri sendiri. Khususnya mengenai kemampuan dan kekuatan yang saya miliki yang tidak hanya bisa bisa bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

Saat awal saya tervonis kanker, saya benar benar merasa down dan terpukul.  Namun seiring berjalannya waktu, saya berusaha bangkit dan menemukan apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Selain berobat, saya mencoba menggabungkan kemampuan saya menulis dan berbicara untuk mengedukasi masalah kanker kepada masyarakat.  Dari sana pula, akhirnya perlahan demi perlahan menciptakan personal branding saya sendiri.

Selaras dengan yang di tulis penulis dalam buku It's Me, bahwa setiap manusia memiliki hasrat, keinginan, dan kebutuhan yang merupakan landasan dari tujuan setiap langkah kita. Tujuan tersebut tentulah diharapkan memberikan hasil positif bagi diri dan orang lain.

Salah satu part lain yang menarik dalam buku ini yaitu Build Personal Brand, Membangun Personal Brand dengan Kekuatan dan Keunikan Diri.  Saya rasa part ini merupakan part ini dalam buku ini.  Penulis tidak hanya mengupas habis personal brand, tetapi juga memberikan bagaimana tips dan cara membangun personal brand dengan apa yang kita miliki.

Selain itu, penulis juga menampilkan part Story of Personal Brand.  Pada part ini terdapat beberapa kisah inspirasi dari orang yang sukses membangun personal brandnya. 

Aisyah Laila atau yang akrab di panggil dengan Icha adalah seorang gadis yang masih berusia 13 tahun.  Walaupun masih sangat muda, namun Icha sudah memiliki personal brand yang dikenal masyarakat. 

Aisyah Lalila yang terkenal dengan make up artist juga telah melauncing produk brand Aisyah Laila Professional False Eyelashes.  Icha pun kerap di liput berbagai media cetak, elektronik maupun televisi terkait kegiatan dan aktifitas yang ia jalani.

Kisah sukses lain dari Dya Lorreta dengan brandingnya ‘The Project Of Dlo’s'.  The Project Of Dlo's mengandung arti proyekan Dya Loretta.
Aktifitas Dya sebagai pengajar tidak mengurangi kegiatannya di luar jam pekerjaaan.  Ia sering berbagi dalam kumpul-kumpul, dari membuat miniseminar sampai berbagi mengenai keilmuan yang di miliki.  Dya berbagi untuk berbagai medi cetak dan media online.

Selain itu ia berbagi keunikan lainnya di  media TV,  dari sebagai penghobby sepatu boots hingga sebagai penghobby salah satu merek mobil. Hingga saat ini ia terus  berbagi dengan teman-teman dalam komunitas marketing komunikasi dan advertising— marcommads community—terbuka untuk siapa saja yang ingin bergabung.

Dari kisah-kisah sukses di atas, memang tidak mudah membangun sebuah personal brand sehingga orang bisa mengenal kita.  Namun semua tidak ada yang tidak mungkin bila kita mau berusaha dan mencoba.  Di buku It's Me! Superbrand Untuk Jadi Beda, kita akan mendapatkan ilmu dan pengetahuan mengenai personal branding secara lebih lengkap dan tuntas.  Jadi tidak salah, bila saya rekomendasikan buku ini untuk di miliki dan di baca ^_^.


Resensi Buku Food Combining, Pola Makan Sehat, Enak dan Mudah

(Tulisan Resensi saya ini, dimuat Harian Tribun Kaltim, 27 September 2015)



Judul : Food Combining, Pola Makan Sehat, Enak dan Mudah
Penulis : Widyanti Yuliandri
Penerbit : Kawan Pustaka
Tebal : 176 Halaman
Tahun : 2015



Akhir-akhir ini, telah banyak orang yang mulai mengubah pola makan sehari-harinya menjadi lebih sehat. Bagi orang menjalani pola makan sehat  bukan hanya sekedar trend, tetapi karena sadar betapa bermanfaatnya pola makan yang lebih sehat.

Food Combining merupakan salah satu bentuk pola makan sehat yang sangat alami. Dimana bukan hanya mengkonsumsi bahan-bahan yang belum terlalu jauh bentuk asli dari alam. Food combining juga memperhatikan apa yang di butuhkan tubuh dan mengatur asupan makanan yang sesuai untuk tubuh.

Widyanti Yuliandri sebagai penulis buku Food Combining, Pola Makan Sehat, Enak dan Mudah, mencoba memaparkan seluk beluk food combining secara lengkap.  Widyanti mencoba memberika  pemahaman kepada pembaca, bahwa food combining sebagai sesuatu yang mudah di terapkan, menyenangkan dan fleksibel. Buku yang diterbitkan oleh penerbit  Kawan Pustaka ini, dengan tebal 176 halaman dan di bagi menjadi 10 bab.

Ada hal yang terpenting dalam  food combining, yaitu bagaimana aturan penerapan food combining yang di bahas pada bab dua. Selama ini banyak orang yang menganggap food combining terlalu rumit untuk di terapkan, padahal kenyataan tidak demikian. Asalkan kita tahu bagaimana aturan penerapannya, maka pelaksanaan food combining akan lebih mudah.

Sari Azis : Mengangkat Kaltim dalam Tulisan

(Tulisan saya ini di muat di Harian Tribun Kaltim, 27 September 2015)

Tidak banyak penulis asal Kalimantan Timur yang mendedikasikan diri untuk mengembangkan minat menulis dan membaca ke masyarakat, Sari Azis adalah salah satunya.   Alumnus Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Mulawarman ini memang termasuk penulis produktif dan menghasilkan tulisan di berbagai media nasional maupun dalam bentuk buku.

Sari  menyukai dunia penulisan sejak duduk di bangku SD (Sekolah Dasar) yang dituangkan dalam buku diari. Sari sadar bahwa kecintaannya pada dunia menulis terkait dengan hobinya membaca.  Ia bahkan memulai menulis sejak duduk di bangku SD yang dituangkan dalam buku diari.   Sari sangat bersyukur,  berbagai kegiatan positif yang ia lakukan, di dukung penuh oleh keluarga.

"Keluarga memberi saya kebebasan untuk berkreasi. Kedua orang tua dan semua saudara selalu mendukung saya dalam berkegiatan dengan memberikan saya hal-hal positif," tuturnya sambil tersenyum.

CERPEN "Ketakutan Mudik" Tri Wahyuni Zuhri




Ketakutan Mudik
Oleh : Tri Wahyuni Zuhri
(Dimuat di Kaltim Post, 19 Juli 2015)

Arini masih duduk termenung sembari memandangi kalender yang berada di hadapannya.  Lebaran tinggal beberapa hari lagi.  Seharusnya menunggu hari lebaran seperti ini, sangat di nanti oleh umat muslim, termasuk oleh Arini.  Apalagi setelah sebulan penuh berpuasa, rasanya wajar bila Lebaran menjadi hari kemenangan bagi siapa saja yang merayakannya.

Arini menghela nafas panjang.  Ia tidak bisa berbohong kalau perasaannya masih tidak menentu untuk merayakan lebaran tahun ini.  Setelah menikah selama 4 tahun bersama Gaza, tahun ini akan menjadi mudik lebaran kedua ke Samarinda, kampung halaman suaminya itu.

"Aku sudah menyiapkan tiket pesawat untuk kita bertiga mudik ke Samarinda," kata Gaza beberapa hari yang lalu kepadanya. Sore itu Arini sedang menyiapkan makanan berbuka puasa mereka.

"Kenapa mendadak seperti itu mas? Aku belum persiapan apapun,"kata Arini masih dengan rasa terkejut.

Gaza tersenyum,"Aku memang sengaja menyiapkan kejutan ini untukmu. Ibuku meminta tahun ini kita mudik  lebaran ke Samarinda".

"Aku juga belum menyelesaikan beberapa draft tulisan artikel untuk klienku.  Belum lagi pesanan produk online yang harus kukirimkan,"sahut Arini beralasan.

"Aku akan bantu mengurus kiriman paket pesananmu di ekspedisi. Untuk draft artikel, kan bisa di kerjakan sampai di sana".

"Tapi mas, bagaimana dengan Bimo? Usianya masih kecil untuk di ajak mudik. Kasian nanti dalam perjalanan pasti kecapekan," kata Arini kemudian.

"Bimo kan sudah umur dua tahun. Lagi pula kita naik pesawat dari Surabaya ke Balikpapan lalu lanjut jalan darat ke Samarinda. Tidak akan terlalu melelahkan,"bujuk Gaza  sambil menatap mesra wajah Arini. Ah, kalau seperti itu Arini rasanya tidak bisa memberikan alasan apa-apa lagi.

"Kita berapa lama mudik ke Samarinda, mas?"tanya Arini dengan tidak bersemangat.

"Seminggu saja. Semua saudaraku akan kumpul di rumah ibu. Mereka sudah ingin sekali melihat Bimo, anak kita. Siapkan keperluan mudik kita dari sekarang, ya", pinta Gaza di iringi anggukan Arini.


Cerita Luthfi Di Baby Stories Mom & Kiddie


Sesuai janji, saya akan posting tulisan saya tentang Luthfi yang di muat di Tabloid Mom & Kiddie edisi terbaru. Untuk ketentuan  syarat menulis baby stories bisa di liat disini ya.. http://www.yunisukses.com/2014/09/cara-mengirimkan-baby-stories-di.html?m=1
Tulisan tentang Luthfi ini
masih asli dari saya.  Ternyata saat  di muat di tabloidnya,  ada beberapa yang di edit redaksi. Walaupun begitu, tidak mengurangi makna dari tulisan saya.
Contoh sederhana saja dari judul tulisan. Awalnya saya menulis judul "Meniru Kebaikan". Namun pihak redaksi tabloid Mom & Kiddie menggantinya jadi "Peniru Ulung".  Heheheh.. Silahkan di liat ya tulisan saya ini :)
-----------------------------------
MENIRUKAN KEBAIKAN
Putra bungsu saya, Luthfi, berusia 3 tahun. Ada saja tingkahnya yang lucu dan menggemaskan seisi rumah. Sebagai ibu, saya terkadang dibuat terkejut dengan tingkahnya tersebut.Salah satunya kebiasaan Luthfi memperhatikan aktifitas orang lain dan kemudian menirunya.
Contoh sederhana, saat hari tanpa sengaja Luthfi menumpahkan air minumnya. Dengan sigap, Luthfi mengambil kain lap yang biasa tersedia di dapur. Kemudian dengan tangan mungilnya, Luthfi mulai membersihankan tumpahan air tersebut dengan kain lap.Walaupun Luthfi tidak sepenuhnya bisa membersihkannya, tapi insiatifnya membuat saya terkejut. Rupanya Luthfi kerap mengamati tingkah saya dalam melakukan kegiatan yang sama.
Cerita lain, mengenai kebiasaan saya suka menutup pintu kamar saat keluar ruangan kamar tidur.
"Kenapa pintunya selalu di tutup, ma?"tanya Luthfi dengan rasa ingin tahu.
"Biar nggak ada nyamuk yang masuk,"jawab saya sembari tersenyum.
Rupanya kebiasaan saya tersebut disimpan dalam memori Luthfi. Setiap membuka siapa saja yang membuka pintu kamar, Luthfi dengan sigap menutupnya kembali. Kebiasaan baru Luthfi itu mengundang tanda tanya kakak-kakaknya.
"Kenapa Luthfi selalu tutup pintunya?"tanya kakaknya penasaran.
"Kata mama, biar nyamuk nggak masuk,"jawab Luthfi dengan yakin.
Olala, rupanya Luthfi kerap memperhatikan aktiftas saya dan kemudian menirunya. Berarti saya harus lebih hati-hati dalam melakukan aktifitas, karena Luthfi akan mempraktekannya. Semoga saja saya bisa terus mencontohkan aktifitas yang positif dan baik, hingga bisa pula dipraktekan oleh Luthfi.

Jejak Kisah dari Bedah Buku KPADok Bontang : Mengupas Buku Keringat Lelaki Tua


Oleh : Tri Wahyuni Zuhri, SP
Tidak banyak penulis Kalimantan Timur yang memiliki talenta menulis cerpen, essai bahkan puisi, salah satunya Sunaryo Broto. Saya mengenal beliau sebagai sosok yang ramah, cerdas serta produktif dalam menulis. Ditengah kesibukan beliau memegang jabatan penting di salah satu perusahaan BUMN di Kaltim, yaitu PT. Pupuk Kaltim, tidak lantas menyurutkan semangat beliau untuk menuangkan pemikiran lewat menulis dan merangkai askara.
Buku Keringat Lelaki Tua merupakan buku karya Sunaryo Broto yang baru saja di bedah buku beberapa waktu lalu. Bedah buku yang dilaksanakan pada Hari Senin, 23 Desember 2013, bertempat di Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumen (KPADok) Kota Bontang. Acara Bedah buku ini merupakan salah satu acara rangkaian HUT KPADok yang ke - 8 dan bekerjasama dengan Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Kota Bontang. Acara bedah buku yang di awali dengan para peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan dilanjutkan oleh sambutan-sambutan, yaitu Basri Rase selaku Ketua GPMB, Drs. H Bahruddin MAP, Staf ahli ekonomi dan keuangan Pemkot Bontang, serta Syahrial MPd yang mewakili Kepala KPADok.
Acara Bedah buku pun berlangsung dengan sangat interaktif, dipandu oleh Moderator, Choirul Azisi, seorang pustakawan alumni IAIN Yogya dan penulis Buku Sehangat Pelukan Bidadari. Serta menghadirkan Sunaryo Broto selaku penulis buku Keringat Lelaki Tua dan Abdul Hakim sebagai Pembedah Buku. Abdul Hakim selain dikenal sebagai pendidik, beliau pun aktif dalam kegiatan penulisan dan kerap membedah karya-karya para penulis. Buku Keringat Lelaki Tua merupakan buku kedua Sunaryo Broto yang dibedahnya.  Acara bedah pun semakin menarik dengan adanya tanya jawab dari peserta kepada pembicara. Rupanya kegiatan terkait penulisan khususnya bedah buku ini sangat bagus untuk meningkatkan minat baca dan menulis di masyarakat, khususnya di Kaltim.  
Buku Keringat Lelaki Tua yang berjumlah 143 halaman dan diterbitkan oleh penerbit Leutika Prio ini memang cukup menarik untuk dikupas. Terdapat 17 cerita pendek di dalam buku tersebut dimana bertutur ciri khas ala Sunaryo Broto. Saya sendiri sangat mengapresiasi buku ini, apalagi penulis memiliki ciri khas tersendiri dalam menulis karya-karyanya. Ciri khas dalam tiap karya tulisan seorang penulis memang mutlak diperlukan, walaupun terkadang penulis tersebut perlu waktu dan proses untuk menemukan serta mengasah tulisannya.
Saya pun sepakat dengan pengantar Amien Wangsitalaja dalam buku ini. Sunaryo Broto memiliki kekhasan dalam bercerita. Ia memiliki kekhasan alur yang mengalir , pemaparan yang panjang, ketenangan emosi dan cerita yang tidak meledak-ledak. Bahkan bila saya amati, dalam cerita-cerita yang di tampilkan, saya nyaris tidak bisa membedakan apakah cerita itu hanya sebuah fiksi belaka ataukan diangkat dari berdasarkan kisah nyata penulis yang ditulis dalam bentuk cerpen. Penulis membuat tulisan cerpennya seperti kisah nyata yang begitu menarik pembaca untuk menuntaskan membacanya hingga halaman akhir.
Ada beberapa kisah dalam buku ini yang benar-benar membuat saya jatuh hati. Terlebih penulis begitu kuat membuat settingan latar belakang cerita dengan berbagai macam daerah, bahkan hingga keluar negeri. Tentu saja Kota Bontang terlihat lebih dominan dalam buku ini, sah-sah saja, mengingat di Kota inilah penulis berdomisili sekarang. Kemudian tergambar latar kota Jogja, Karanganyer, bahkan hingga ke Nepal dan Cina.
Pada cerita Keringat Lelaki Tua yang diangkat menjadi judul buku ini mengisahkan cerita tentang perjalanan hidup seseorang lelaki dari muda hingga beranjak tua. Penulis menggambarkan sosok lelaki yang sederhana, bijak, rendah hati. Walaupun telah memiliki anak yang telah sukses, namun hal itu tidak merubah hidupnya. Lelaki itu tetap sederhana dan memiliki pandangan hidup yang bersahaja, bahkan ia tidak ingin merepotkan anak-anaknya. Terlihat jelas bagaimana Sunaryo menggambarkan detiil sosok lelaki tua ini sebagai seseorang yang ia hormati dan mengambil hikmah dari kisah hidupnya.
Sunaryo Broto pun memasukan nilai dan pandangannya tentang pendidikan di buku ini, yaitu cerita Puisi Guru dan Sekolah Laut serta Cerita Sendu dari Marangkayu. Penulis mengambil setting lokal pada kedua cerita ini, dimana ia mengambil perenungan mengenai pendidilan saat ini. Cerita Puisi Guru dan Sekolah Laut berkisah tetang tokoh aku sebagai guru yang harus rela menempuh perjalanan dengan kapal kecil menuju sekolah untuk menunaikan kewajiban mengajar. Sedangkan kisah Cerita Sendu dari Marangkayu bertutur tentang anak-anak sekolah di daerah Marangkayu yang harus menumpang bis sekolah atau mobil yang lewat untuk sekolah. Ia pun bahkan membandingkan kisah sekolah yang dialami ibunya dulu ternyata masih saja di alami sebagian masyarakat kita. Saya bisa menangkap kritik sosial secara halus yang di gambarkan penulis.
Namun ternyata penulis tidak melulu bercerita serius dalam buku ini. Ada dua kisah yang sungguh membuat saya tersenyum membacanya. Kisah Bagaimana Rasanya Dicium Artis Setenar Desi Ratnasari dan Sepasang Sandal Tertinggal di Masjid Nang Dou Ya. Dua cerita ini dikisahkan lebih santai dari cerita yang lain, namun tetap pada ciri khas penulis yang menyelipkan hikmah dari setiap cerita yang dituliskannya.
Cerita Sepasang Sandal Tertinggal di Masjid Nang Dou Ya, bercerita tentang bagaimana essensi sebuah sandal hingga anak- anak  menggunakan sandal merk tertentu yang lumayan harganya. Perjalanan sandal ini pun mengikuti perjalanan mereka hingga ke negeri China. Penulis pun menggambarkan sisi humorisnya lewat cerita ini. Ia tidak canggung bercerita bagaimana ia cukup kerepotan memikirkan sandal-sandal tersebut saat mereka sekeluarga sholat di mesjid. Rupanya pengalaman kehilangan sandal menjadi beban tersendiri bila harus kehilangan sandal mahal. Sehingga suatu ketika, sandal sang anak pun akhirnya benar-benar hilang di salah satu mesjid.  
Banyak hikmah yang penulis isyaratkan dari Buku ini, membuat saya memang berfikir memang penulis sangat cerdas menuliskannya.  Bahkan saya menangkap wawasan penulis yang cukup luas, antara lain dengan memunculkan intisari  buku the secret  dalam beberapa cerita. Serta menceritakan tokoh-tokoh seperti Hatta, Pramudya Ananta, hingga Hamka. Rasanya tidak salah apabila saya berharap akan hadir karya-karya penulis Kaltim yang mengikuti jejak beliau. Kesibukan berbagai aktifitas ternyata tidak mengurangi keinginan untuk menghasilkan karya yang bermanfaat serta bermutu bagi pembaca. Amin..

Judul : Keringat Lelaki Tua
Penulis  : Sunaryo Broto
Penerbit : Leutika Prio
Halaman : 143 hal
Tahun : 2013 



Ketika Anak Muda Kaltim Menunjukkan Prestasi



Oleh : Tri Wahyuni Zuhri
(Penulis & Trainner)

Beberapa waktu lalu, tepatnya hari Sabtu, 14 Desember 2013, saya bersama teman-teman penulis, Sari Azis, Amien Wangsitalaja, Fitriani,  berkesempatan menghadiri undangan launching buku dari seorang sahabat, Inni Indarpuri.
Buku yang dilauncing merupakan buku yang berisi 12 profil generasi Muda Kalimantan Timur yang sukses dalam bidangnya masing-masing. Buku tersebut berjudul : Anak Muda Kaltim, Rebut Peluang Jangan Jadi Penonton ! Buku yang merupakan prakarsa dari Biro Sosial Sekretariat Provinsi Kaltim dan ditulis oleh Inni Indarpuri, Eko S, berserta tim.
Acara tersebut sangat menarik bagi  para peserta yang terdiri dari berbagai elemen, baik pengusaha, pekerja, mahasiswa, aktivis, penulis, dan sebagainya. Karena selain launching buku, acara dilanjutkan dengan sessi diskusi panel dengan menampilkan nara sumber yang handal dalam bidangnya.
Acara dibuka oleh Bapak Muhammad Suhaedy mewakili Kepala Biro Sosial Provinsi Kaltim yang berhalangan hadir. Sebelum membuka acara, Bapak Suhaedy sempat bercerita kisah kehidupannya di masa lalu hingga bisa sukses seperti saat ini.   Acara selanjutnya diisi sessi diskusi panel dengan menghadirkan nara sumber Assisten III Provinsi Kaltim, Drs. Bere Ali dan Pengusaha sukses Kaltim Ahsim Hamami. Yang dipandu oleh Eko S, selaku moderator.
Drs. Bere Ali menyambut antusias kehadiran buku yang berisi profil generasi muda Kaltim yang sukses dalam bidangnya masing-masing. Semua itu tidak lepas dari semangat dan kerja keras generasi muda yang tidak pernah pantang menyerah. Beliau pun berkesempatan bercerita tentang perjuangan beliau sejak muda hingga memegang jabatan penting sebagai Assisten III Provinsi Kaltim. Ternyata perjuangan hidup beliau yang tidak mudah, tidak lantas membuat beliau patah arang. Semua dijalani dengan semangat dan rasa syukur. Hingga tidak heran kesuksesan pun dapat beliau raih saat ini.
Nara sumber yang kedua yaitu, Ahsim Hamami, seorang pengusaha sukses yang fokus pada bidang pertanian dan perikanan di Kaltim. Nama beliau pun sudah dikenal secara nasional karena berbagai prestasi yang telah diraihnya. Berawal dari kehidupan beliau yang cukup sulit saat masih kecil, ternyata membuatnya ingin menjadi seorang yang sukses dan berhasil. Setelah melewati fase jatuh bangun dalam berbisnis, beliau tetap berusaha untuk intropeksi diri dan belajar dalam meningkatkan usahanya. Buah dari kerja keras dan ketekunannya, beliau beberapa kali di anugrahi penghargaan tingkat nasional dan daerah. Bahkan beliau kerap diundang menjadi pembicara dalam acara seminar, pelatihan bahkan motivasi terkait dunia usaha, baik tingkat daerah dan nasional. Kepada para peserta yang hadir, kedua nara sumber memberikan motivasi untuk bekerja keras dengan penuh semangat dan terus belajar. Tentu saja sesi diskusi panel itu menambah semangat peserta untuk terus mengikuti acara hingga akhir acara.

Inni Indarpuri dan Eko S.  tim penulis buku 

Kembali mengulas buku "Anak Muda Kaltim, Rebut Peluang, Jangan Jadi Penonton! " berisi 12 profil generasi muda Kaltim. Sebut saja, M. Umry Hasfirdauzy yang akrab dipanggil Firly. Selama beberapa tahun belakangan ini, Firly mengelola PT. Kangaroo Lintas Nusantara, sebuah perusahaan yang bergerak dalam jasa transportasi. Saat ini ia telah berhasil memperkerjakan 150 karyawan dan meraih omset yang besar setiap bulannya. Semuanya diraih dengan tidak mudah, ia pun pernah berapa kali mengalami kegagalan. Selain menjalani bisnis transportasi, Firly pun berhasil mengelola beberapa perusahaan yang bergerak dalam bidang yang berbeda.
Adalah Rony Cahyadi, pengusaha sukses jual beli mobil yang kini merambah Bisnis Developer Perumahan. Showroom Presiden Motor yang berdiri megah di kawasan Jl. Dr. Sutomo merupakan milik Rony. Terinspirasi dari jiwa usaha sang ayah, Rony pun terus mengembangkan bisnisnya hingga saat ini. Bahkan sejak menginjak usia SMA, Rony sudah mulai berkenalan dengan dunia usaha. Ia pun terus belajar dan mengasah kemampuan dalam bidang usaha. Terbukti sekarang usaha Rony semakin maju dan ia pun mulai merambah usaha baru.
Ellie Hasan, seorang perempuan cantik dengan wawasan cerdas serta kepribadian menarik. Ellie saat ini berkecimpung dalam sebuah lembaga sebagai Program Manager of the Extending Continum Care Project of Laras (Lembaga Advokasi dan Rehabilitasi Sosial). Ellie sebagai aktivis HIV-AIDS dan Narkoba merasakan hati nuraninya terpanggil untuk membantu sesama manusia. Pengalaman langsung berhadapan dengan penderita HIV AIDS dan Narkoba, membuat Ellie lebih yakin untuk turut terjun dalam aktifitas sosial yang jarang di tekuni anak muda seusianya.
Agus Susanto, berkarier awal sebagai seorang jurnalis di Kaltim Post, harian terbesar di Kaltim. Saat ini ia menjadi general manager Bontang Post. Dengan berbagai pengalaman bekerja yang digeluti, Agus berprinsip bila ingin maju, maka diperlukan disiplin waktu dan tanggung jawab.
Firly, Rony, Ellie dan Agus hanya sebagian dari 12 profil generasi muda yang dikupas dalam buku Anak muda Kaltim, Rebut Peluang Jangan Jadi Penonton ! Tentu nya banyak generasi muda Kaltim yang bisa mengambil hikmah dan inspirasi dari kisah-kisah sukses mereka. Karena kesuksesan milik siapa saja yang mau berusaha, bekerja keras dan belajar untuk maju. Semoga akan semakin banyak generasi muda Kaltim yang bisa menorehkan prestasi dan kebanggaan bagi Kaltim.

(dimuat di : Tribun Kaltim, 19 Desember 2013)




Aku dan Kanker Tiroid - bagian 3 , Tabloid My Mommy



Dengan berbagai pertimbangan, saya memilih rumah sakit MRCCC Siloam Semanggi Jakarta untuk melakukan radiasi interna. Hal itu saya lakukan agar tidak terlalu menunggu lama waktu antrian radiasi nuklir. Sebelum melakukan radiasi interna, pihak kedokteran nuklir rumah sakit akan meminta pasien membawa surat rujukkan dari dokter yang menangani pasien serta hasil-hasil pemeriksaan laboratorim, rontagen yang pernah di lakukan sebelumnya.

Biasanya pihak instalasi kedokteran nuklir, akan meminta hasil laboratorium terbaru yaitu cek darah rutin, cek T3, T4, dan TSH. Untuk pengecekan laboratorium tesebut bisa langsung di lakukan di RS MRCCC Siloam sebelum di lakukan radiasi interna. Pemberian dosis radioaktif ini pun bermacam-macam, tergantung dengan pertimbangan dokter yang menangani dan melihat kondisi penyakit pasien. Ada yang pemberian dosisnya 100 -200 mercuri, yang mengharuskan pasien diisolasi selama beberapa hari. Ada pula yang dosisnya lebih kecil, sehingga pasien tidak perlu di isolasi beberapa hari, cukup hanya beberapa jam berada di ruangan.

 Pelaksanaan radiasi interna di RS MRCCC siloam untuk dosis tinggi 100 – 200 mercuri, biasanya terjadwal selama 4-5 hari. Jadi selama beberapa hari tersebut, pasien akan berada di ruangan isolasi yang telah di sediakan pihak rumah sakit. Ruang isolasi tersebut biasa di sebut dengan RIRA (Ruang Isolasi Radio Aktif) Sebelum melakukan radiasi interna, pasien di wajibkan puasa mulai jam 6 pagi pada hari pertama di lakukan radiasi. Dokter Basuki Hidayat, SP, KN dan Dokter Ivana, SP, KN merupakan dua dari beberapa Dokter nuklir di MRCCC Siloam yang menjadi konsultan saya selama menjalani radiasi interna.

 Pada hari pertama, Dokter Ivana melakukan pertemuan terlebih dahulu dengan saya sebelum melakukan radiasi interna. Dalam pertemuan tersebut, Dokter Ivana akan bertanya mengenai kondisi riwayat kesehatan saya, termasuk menjelaskan bagaimana prosedur radiasi interna yang akan di lakukan. Dokter Ivana pun berbaik hati memberikan support kepada saya agar lebih tenang dan nyaman untuk menjalani proses terapi tersebut.

 Letak kamar isolasi radiasi nuklir berada di lantai 29 RS MRCCC Siloam. Sebelum memasuki kamar isolasi, saya melewati ruangan khusus petugas radiasi interna. Letak ruangan petugas ini berada tepat di luar koridor kamar isolasi. Terdapat televisi yang menggambarkan kondisi kamar isolasi pasien. Rupanya setiap kamar di lengkapi CCTV dan intercom yang memudahkan komunikasi dokter maupun petugas kepada pasien. ruang petugas isolasi



 Ada 6 buah kamar isolasi dalam satu lorong koridor khusus isolasi radiasi interna, yaitu di bagi kamar VIP dan Kelas 1. Kebetulan kamar yang saya tuju merupakan kamar Kelas 1. Sebelum memasuki koridor tersebut, harus melewati satu ruangan khusus dari pintu masuk. Ruangan tersebut merupakan ruangan persiapan sebelum masuk ke koridor isolasi. Di ruangan tersebut bergantung beberapa rompi anti radiasi berbentuk jaket tanpa lengan serta sandal khusus untuk dipergunakan di ruangan khusus isolasi.

Setiap orang yang memasuki koridor isolasi di wajibkan menggunakan baju radiasi agar tidak terkena paparan radiasi dari pasien. Petugas pun menjelaskan kembali secara detail prosedur penggunaaan serta bagaimana kondisi kamar isolasi. Kamar isolasi tersebut cukup ekslusif, ditunjang dengan fasilitas ranjang, lemari pakaian, 2 buah meja, televisi, dan kamar mandi yang cukup nyaman. Saya cukup terkejut dengan fasilitas kamar isolasi yang akan di tempati itu. Terlebih saya di bolehkan membawa buku bacaan, laptop, dan handphone.

Awalnya saya membayangkan kondisi kamar isolasi yang tidak nyaman, tanpa televisi, dan tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain. Namun bayangan itu langsung sirna begitu melihat kondisi ruangan sesungguhnya, bersama petugas di kamar isolasi

 “Pasien kalau ada keperluan, bisa langsung menekan tombol ini,”Kata petugas seraya menunjukkan tombol yang terletak di samping ranjang tersebut.

“Lalu bagaimana komunikasi pasien dengan petugas?”Tanya saya bingung.

“Pasien bisa berbicara melalui intercom tersebut,”jawab petugas sambil menunjuk intercom yang menempel di dinding di atas ranjang,

”Jangan kuatir, ada CCTV di kamar ini, jadi kami bisa memantau kalau pasien butuh sesuatu”. Saya pun langsung menengok CCTV yang dipasang di plafon dekat pintu yang tunjukkan petugas.



Wah, tentu saja sebagai pasien harus hati-hati dalam bertingkah laku, supaya tidak diamati oleh petugas hehehe. Pihak rumah sakit pun menyediakan beberapa pasang baju bagi pasien yang telah di siapkan selama berada di kamar isolasi, termasuk menyediakan selimut cadangan serta perlengkapan mandi. Selama beberapa hari saya berada di ruangan isolasi, tidak akan ada petugas yang membersihkan kamar seperti kamar rumah sakit lainnya, Petugas hanya membersihkan koridor ruangan isolasi.

Demikian pula untuk mengantar makanan, snack, serta keperluan pasien, petugas hanya mengantarnya di koridor tepat di depan kamar isolasi pasien. Setelah itu pasien bisa mengambilnya di depan pintu kamar setelah di beritahu oleh petugas melalui intercom. Jadi pasien diharapkan mandiri dalam menjalani masa isolasi. Terkecuali apabila pasien benar-benar membutuhkan bantuan, maka petugas dan dokter pun akan segera menangani secara langsung.

Hal ini dapat dimaklumi, karena radiasi iodine 131 sangat tidak baik untuk manusia normal karena di kuatirkan dapat menganggu kondisi tubuh dan pertumbuhan, khususnya bagi ibu hamil dan anak-anak. Beruntung saat itu ada pasien lainnya yang menjalani radiasi interna dengan kamar yang berbeda. Ibu Kartika Sari, yang berasal dari Semarang. Tentu saja sesama pasien radiasi interna bisa saling berbicara dan berada dalam ruangan yang sama tanpa kuatir terkena radiasi satu sama lain.

(beRSAMBUNG)


Pengalaman radiasi interna ini bisa di baca di :

Aku dan Kanker Tiroid - Bagian 1 

Aku dan Kanker Tiroid - Bagian 2 

Aku dan Kanker Tiroid - Bagian 3 

Aku dan Kanker Tiroid - Bagian 4 


Aku dan Kanker Tiroid, bagian 2 di tabloid MY Mommy


Ternyata bayangan saya tersebut berbeda dengan penjelasan dokter Rudy. Beliau menjelaskan iodine 131 yang di produksi BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) memang digunakan untuk bidang medis, khususnya pengobatan gangguan tyroid, salah satunya kanker tyroid. Penggunaan iodine ini pun sesuai prosedur dan dilakukan oleh dokter spesialis kedokteran nuklir. Sayangnya, terapi radiasi nuklir hanya ada di beberapa rumah sakit yang memang memiliki fasilitas kedokteran nuklir. Antara lain RS. Dharmais Jakarta, RS. Hasan Sadikin Bandung, RS. Dr. Soetomo Surabaya, RS MRCCC Siloam Jakarta dan beberapa rumah sakit lainnya.

Sebenarnya terapi kemoterapi bisa dilakukan sebagai pengganti terapi radiasi interna. Namun efektifitas kemotrapi untuk pengobatan tyroid masih tidak sebanding dengan terapi radiasi interna. Penjelasan tersebut membuat saya sedikit berlega hati. Walaupun dalam benak saya berfikir, mudah-mudahan suatu saat Kaltim yang merupakan salah satu provinsi terkaya di Indonesia memiliki fasilitas radiasi internal seperti rumah sakit besar lainnya. Sehingga masyarakat yang menngalami gangguan tyroid seperti saya, bisa lebih mudah mengaskses proses pengobatan tersebut.

 Berkunjung ke Kedokteran Nuklir Hasan Sadikin 

Sembari menunggu waktu untuk dilakukan jadwal operasi tyroid, saya menyempatkan diri datang ke RS. Hasan Sadikin Bandung. RS Hasan Sadikin merupakan pusat rujukan nasional pelayanan kedokteran nuklir dan satu-satunya pusat pendidikan spesialis kedokteran nuklir di Indonesia. Saya pun melakukan konsulatasi dengan salah satu dokter spesialis kedokteran nuklir disana. Beliau memberikan informasi lengkap seperti yang dokter Rudy Tharby berikan. Iodine 131 pun di manfaatkan pula oleh pasien gangguan hipertyroid maupun hipotyroid. dan memang efektifitasnya cukup teruji untuk menunjang kesembuhan pasien.

Selain itu saya pun sempat melakukan pemeriksaan sidik tyroid dengan menggunakan kamera SPECT (Single Photon Emission Computed Tomography) untuk mendiagnosis tyroid. Ada banyak pasien saat itu yang akan konsultasi sekaligus pemeriksaan sidik tyroid. Rata-rata mereka bukan hanya berasal dari Bandung, tetapi kota-kota lain. Bahkan ada pula yang berasal dari luar daerah seperti saya.

Namun bagi pasien yang ingin melakukan radiasi interna, biasanya dilakukan sesuai waktu yang telah di jadwalkan oleh pihak kedokteran nuklir. Hal ini dikarenakan begitu banyak pasien yang ingin melakukan radiasi interna ini, hanya saja tergantung dengan kapasitas ruangan, penyediaan bahan dan lain sebagainya. Sehingga perlu bersabar mengantri dalam waktu yang sudah di jadwalkan.

Sedikit melihat ke arah sejarah kedokteran nuklir. Sebenarnya pelayanan kedokteran nuklir dimulai sejak tahun 1965 di Indonesia. Pelayanan ini di lakukan tidak lama setelah reaktor atom pertama diresmikan oleh Presiden Soekarno. Salah satu perintisnya adalah Prof. Dr. Johan S. Masjhur, dr., SpPD-KEMD., SpKN yang merupakan Guru Besar ahli Kedokteran Nuklir Fakultas Kedokteran (FK) Unpad.

 Namun ternyata, perkembangan kedokteran nuklir ini sangat lambat dikarenakan berbagai faktor. Antara lain kurangnya informasi tentang kedokteran nuklir ini di indonesia, disamping masih banyaknya ketakutan tentang radiasi nuklir ini. Belum lagi alat yang digunakan sangat mahal yaitu kamera SPECT (Single Photon Emission Computed Tomography) dan PET (Positron Emission Tomography) yang kini direkayasa menjadi SPECT/CT dan PET/CT, serta alas an lainnya.

Selama di Bandung, saya pun berkesempatan bertemu dengan Prof. Dr. Johan S. Masjhur. Tentu saja kesempatan itu tidak saya sia-siakan. Saya banyak bertanya kepada beliau mengenai penyakit kanker tyroid dan tentu saja mengenai radiasi nuklir. Ternyata prof Johan merupakan pribadi baik yang sangat ramah dan terbuka. Beliau dengan senang hati menjelaskan pertanyaan-pertanyaan saya.
Dengan penjelasan beliau, membuat saya lebih yakin dan bersemangat menjalani pengobatan selanjutnya.


 Berkenalan dengan Radiasi Interna Nuklir 

Seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, pasca operasi pengangkatan tyroid, maka saya bersiap-siap melakukan terapi ablasi radiasi nuklir. jarak waktu pelaksanaan radiasi, biasanya paling cepat 1 bulan setelah operasi berlangsung. Pelaksanaan radiasi interna atau radiaktif nuklir ini hanya di lakukan di beberapa rumah sakit besar yang khusus tersedia instalasi kedokteran nuklir. Sehingga sangat di maklumi, bila untuk melakukan radiasi interna ini biasanya para pasien harus sabar menanti daftar tunggu yang cukup lama.

Terlebih untuk menyediakan bahan Iodine 131 ini tidak bisa langsung di dapat dengan mudah. Pihak Rumah sakit harus memesan khusus pada BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional). Karena itu disarankan untuk segera mencari tahu informasi jadwal di rumah sakit tersebut untuk melakukan radiasi interna. Biasanya kita dapat menghubungi rumah sakit bersangkutan melalui telpon ataupun datang langsung.

Disamping itu pasien bisa mendapatkan informasi mengenai radiasi interna dari Dokter yang menanganinya, ataupun dari pengalaman orang-orang yang pernah menjalani radiasi ini. Selama menjalani pengobatan dan persiapan melakukan radiasi interna, saya aktif mencari informasi dari berbagai sumber.

Bagaimana pun pula salah satu hal yang harus di lakukan pasien adalah aktif mencari informasi mengenai penyakit di deritanya. Pasien tidak bisa hanya berdiam diri, karena bagaimana pun juga pengobatan penyakit khususnya kanker merupakan salah hal yang harus diprioritaskan. Kita tidak pernah tahu bagaimana cepatnya sel-sel kanker menggerogoti tubuh seiring berjalannya waktu.

Beruntung para dokter yang menangani saya, yaitu Dr. Rudy Tharby, Dr. Yasser Ridwan, dan Dr. Astried Indrasari sangat baik dan tidak segan-segan memberikan informasi yang saya butuhkan. Bagaiaman pun pula dokter merupakan sahabat dari pasien. Sehingga sebagai pasien harus bisa menjaga komunikasi dengan baik kepada dokter yang menanganinya. Inni Indarpuri, salah satu sahabat saya, mengenalkan saya dengan Bapak Mukhransyah, seorang survivor kanker sekaligus aktif di YKI Kaltim. Saya beruntung berkenalan dengan Bapak Mukhransyah, karena selain survivor kanker tyroid, beliau mengedukasi saya mengenai kanker. Beliau pun menulis sebuah buku berjudul Tak Mau Kalah, buku yang berisi pengalaman beliau dan para survivor melawan kanker.

 Saya pun berkenalan dengan Ibu Mega dan Ibu Dewi Yulita dari CISC (Cancer Information & Support Center) sebuah komunitas support kanker yang berbasis di Jakarta. Dari mereka berdua, saya berdiskusi sekaligus diberikan motivasi untuk menghadapi kanker.

(BERSAMBUNG)


Pengalaman radiasi interna ini bisa di baca di :
(klik langsung di link di bawah ini)

Aku dan Kanker Tiroid - Bagian 1 

Aku dan Kanker Tiroid - Bagian 2 

Aku dan Kanker Tiroid - Bagian 3 

Aku dan Kanker Tiroid - Bagian 4 


Aku dan Kanker Tiroid - Bagian 1 : Bermula dari Benjolan Kecil di Leher - tabloid My Mommy




Tidak ada harapan untuk hidup, 

itulah yang ada dalam pikiran saya saat menerima vonis kanker Pappiler Tyroid Carsinoma. Saat itu saya merasa dunia seakan berguncang dan hidup saya berpacu dengan waktu. Terbayang orang-orang yang saya kenal yang akhirnya menyerah karena penyakit kanker yang mereka derita. Belum lagi bayangan proses pengobatan kanker yang tidak hanya memakan waktu, biaya bahkan menguras air mata.

Mengapa harus kanker? Mengapa saya yang mengalaminya? Apa salah saya? Semua pertanyaan seakan silih berganti bergelut di pikiran saya. Saya sempat berada dalam fase bergolakan batin menerima kenyataan tersebut.

Namun dalam pergolakan itu pula, saya menemukan titik balik dalam hidup saya. Kanker bukan hal yang harus saya takuti atau hindari. Saya harus bangkit dan berjuang untuk sembuh. Masih banyak kesempatan dan cara untuk sembuh. Saya percaya akan ada campur tangan Allah untuk kesembuhan itu.

Beruntung saya dikelilingi oleh orang-orang yang selalu mendukung dan menyupport saya. Terutama kedua orang tua, suami dan anak-anak, keluarga, serta teman-teman. Mereka senantiasa memberikan semangat saya agar berjuang untuk sembuh. Kedua orang tua mendoakan serta menguatkan agar saya bisa bangkit dan melawan kanker. Saya bersyukur kepada Allah karena memberikan kedua orang tua yang tidak pernah berhenti dengan tulus menyayangi dan mencintai saya.


 Bermula dari Benjolan Kecil 

Jangan pernah remehkan benjolan kecil di tubuh anda!
Setidaknya itu yang sering saya sampaikan kepada orang lain. Semula bermula beberapa waktu lalu. saya merasakan perbedaan pada kondisi tubuh saya. Saya kerap merasa cepat lelah, sulit tidur, dan mudah terserang flu dan batuk.

Awalnya saya pikir hal itu terjadi karena aktifitas yang terlalu menyita waktu. Saya pun mencoba mengurangi aktifitas, namun ternyata keluhan saya pun tetap ada. Bahkan saya mulai merasakan nyeri di bagian pinggang dan tulang belakang. Bersamaan pula muncul sebuah benjolan kecil di leher saya.

Walaupun begitu, saya tetap melanjutkan berbagai aktifitas saya. Perjalanan luar kerap saya lakukan, mengingat beberapa pekerjaan dilakukan di beberapa kota tersebut. Hingga suatu ketika, setelah mengisi acara penulisan di Perpusda Prov. Kaltim, rasa sakit pinggang tersebut semakin menjadi. 

Saya pun segera memeriksakan diri ke dokter bedah tulang di Samarinda. Saat itu yang menangani saya Dr. Yasser Ridwan, Sp. Ort. Beliau pun segera meminta saya melakukan serangkaian test, antara lain uji lab, CT Scan, dan Rontagen. Bahkan beliau pun merujuk saya ke Dr. Eko Nugraha, Sp. Pa, untuk melakukan biopsi pada benjolan kecil di leher saya. Hasilnya pemeriksaan tersebut sangat mengejutkan saya. Saya di vonis Kanker Papiller Tyroid Carsinoma.

 Dr. Yasser memperkirkan bahwa sakit pada tulang belakang merupakan pengaruh dari kanker Papiller tyroid pada leher saya. Untuk penanganan lebih lanjut, oleh Dokter Yasser, saya dirujuk ke dokter spesialis bedah tumor yaitu Dokter Rudy Tharby, Sp. Onk.


 Tahap Pengobatan Yang Berliku 

Saya tidak pernah menduga akan menghadapi ujian seperti saat itu. Namun hal itu tidak membuat saya patah semangat. Bagaimana pun juga saya harus kuat dan sabar menjalani pengobatan kanker yang membutuhkan waktu dan proses cukup menguras energi, biaya dan tentu saja air mata. Saya bersyukur bertemu dengan para dokter yang demikian terbuka memberikan informasi mengenai penyakit kanker yang saya alami.

Demikian pula ketika saya dan suami bertemu dengan Dokter Rudy Tharby. Beliau dengan ramah menjelaskan secara detiil mengenai penyakit kanker tyroid, termasuk bagaimana proses pengobatan yang harus saya jalani. Penjelasan itu setidaknya membuat saya lega dan memiliki harapan besar untuk sembuh. Dokter Rudy pun menjelaskan bahwa dunia kedokteran sekarang sudah lebih maju. Kanker pun bisa ditangani lebih baik dan kemungkinan untuk sembuh sangat besar. Jenis kanker pappiler tyroid yang saya derita merupakan jenis kanker yang termasuk tinggi tinggi kesembuhannya apabila di tangani secara tepat. Tinggal bagaimana kita berusaha berobat dan tetap meminta pertolongan kepada Allah.

Pengobatan yang akan saya jalani memang cukup mengejutkan bagi saya. Walaupun saya sering kali membaca buku, search internet dan mendengar penanganan tentang kanker, tetap saja semua berbeda apabila merasakannya sendiri. Dokter Rudy menjelaskan langkah pertama yang harus dilakukan adalah operasi pengangkatan tyroid. Setelah operasi tersebut, saya di haruskan menjalani terapi ablasi yaitu radiasi interna yang menggunakan iodine 131 atau yang lebih dikenal dengan radiasi nuklir. Terapi ini bertujuan untuk menghilangkan sel-sel kanker yang masih tersisa pasca operasi.

 Tentu saja penjelasan itu membuat saya bingung. Bagaimana bisa seorang manusia seperti saya harus berhubungan dengan radiasi nuklir. Terlebih radiasi itu ditujukan untuk pengobatan kanker tyroid. Terbayang di benak saya bagaimana efek radiasi nuklir tersebut bagi manusia.

(bersambung)


Pengalaman radiasi interna ini bisa di baca di :
(klik langsung link nya ya....)

Aku dan Kanker Tiroid - Bagian 1 

Aku dan Kanker Tiroid - Bagian 2 

Aku dan Kanker Tiroid - Bagian 3 

Aku dan Kanker Tiroid - Bagian 4 




Resensi Stroycake For Your Life Mompreneur : Berbagi Kisah Suka Duka Berbisnis Para Ibu


Judul Buku      : Storycake for Your Life, Mompreneur
Penulis             : Ari Kurnia, Tri Wahyuni Zuhri, Retno Dwi, dkk.
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Tebal               : 259 hal
Tahun              :2013

Apa yang ada dibenak Anda saat membaca kisah-kisah tentang suka duka berbisnis dari 34 para ibu? Tentunya akan membangkitkan rasa penasaran sekaligus ingin tahu,  mengenai perjuangan mereka dalam meniti bisnis sembari tetap bisa fokus mengurus rumah tangga.  Buku Storycake for your life mompreneur, merupakan buku antologi  terbaru terbitan PT. Gramedia Pustaka bekerjasama dengan komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) dan Ibu-Ibu doyan Bisnis (IIDB).      
Membaca buku setebal 259 halaman ini, seakan membawa kita mengamati dan merasakan satu persatu kisah para ibu yang penuh semangat walaupun terkadang jatuh bangun untuk tetap mandiri membangun usahanya sendiri.  Para mompreneur yang notabene pula berperan ganda, bertutur bagaimana mereka harus membagi waktu dan pikiran untuk mengatur kegiatan berbisnis dan kewajiban sebagai istri dan ibu.
Memang bukan hal yang mudah, bahkan tidak jarang mereka merasakan sedih, kecewa, bahkan hampir menyerah untuk menjalankan bisnis tersebut. Namun, keteguhan hati dan rasa optimis kerap menjadi penyelamat bagi diri mereka untuk selalu bangkit dan kembali melangkah. Walaupun kegiatan berbisnis hampir dilakukan dari rumah, namun mereka mampu mendapatkan penghasilan bagi keluarga. Dukungan keluarga terutama suami, anak-anak serta para sahabat turut menjadi andil dalam suksesnya bisnis yang mereka jalankan.

34 orang penulis buku ini tidak hanya berasal dari Indonesia saja, tetapi ada pula yang berdomisili di luar negeri. Yang menarik ada 2 penulis berasal dari Kaltim yaitu Tri Wahyuni Zuhri dan Retno Dwi.  Tri Wahyuni Zuhri yang saat ini berprofesi sebagai mompreneur sekaligus trainner dalam penulisan, bertutur mengenai kisah jatuh bangunnya saat menangani bisnis Event Organizer (EO). Bisnis EO yang dirintisnya kerap mengalami berbagai tantangan. Namun dengan kerja keras dan rasa optimis, dia mampu menaklukkan tantangan tersebut.

Demikian pula kisah Retno Dwi.  Berawal dari keputusannya untuk fokus keluarga maka ia pun  memulai bisnis dari rumah. Walaupun  mengalami fase yang penuh perjuangan, akhirnya Retno pun berhasil menjalankan bisnisnya di bidang kuliner. Kegiatan bisnisnya ini pun di dukung penuh suami dan anak-anaknya.  Ada pula kisah Bunda Haifa yang berbisnis dibidang kue. Profesinya tersebut acapkali membuatnya harus mengatur waktu dan tenaga untuk melayani pelanggan dan keluarga. Terlebih ia pun berprofesi sebagai penulis buku yang kerap dikejar dateline naskah oleh penerbit. Namun dengan disiplin waktu dan tetap menjaga profesionalisme, ia bisa menjalani semua kegiatan tersebut. 
Banyak jalan menuju roma, setidaknya hal itu yang bisa digambarkan dalam buku ini. Termasuk bagaimana sebuah hobby menjadi bisnis.  Roza Rianita salah satu ibu yang berhasil merubah hobby membuat kerajinan menjadi pundi-pundi pendapatan baginya. Sejak masih gadis, Roza sangat tertarik dengan bisnis kerajinan, antara lain parcel dan hantaran pernikahan belakangan ia mengembangkan bisnis weeding organizer. Roza pun kerap menjadi narasumber pelatihan sekaligus penulis beberapa buku keterampilan.

Tidak ada yang tidak mungkin bila selalu berusaha. Begitulah yang hendak disampaikan oleh para ibu di buku ini.  Mereka dengan berbagai latar belakang yang berbeda ternyata mampu menangkap berbagai peluang, mewujudkan berbagai ide ataupun mengembangkan hobby menjadi hal-hal positif yaitu berbisnis.  Tentu saja buku ini menjadi rekomendasi bagus untuk para ibu yang memiliki keinginan memulai bisnis. Ataupun bagi  para ibu yang telah menjalani bisnis untuk terus menambah motivasi berbisnis.

IIDN Kaltim : Wadah Perempuan Menuangkan Apresiasi Positif Melalui Menulis

Selama ini banyak orang yang menganggap perempuan  hanya berkutat pada urusan  rumah tangga yaitu memasak ataupun mengurus anak. Atau bila seorang perempuan yang bekerja, hanya bisa terfokus mengurus pekerjaannya dan keluarga.  Jarang sekali orang  menilai kemampuan perempuan bisa mengapresiasi dirinya lewat menulis. Padahal sesungguhnya para perempuan itu berpotensi besar untuk berkarya asalkan memiliki kemauan dan terus belajar.  
Berawal dari persamaan dan ketertarikan  para perempuan  dalam dunia tulis menulis, maka terbentuklah sebuah group komunitas penulisan  perempuan di jejaring sosial Facebook. Komunitas itu bernama Ibu-Ibu Doyan Nulis atau di singkat dengan IIDN,  di dirikan oleh Indari Mastuti seorang penulis dan pengusaha dari Bandung.  Indari sendiri kerap meraih penghargaan dalam bidang penulisan dan wirausaha nasional.

IIDN yang berdiri sejak bulan Mei 2010, hingga kini telah memiliki anggota sekitar 7000 Orang. IIDN pun memiliki 22 cabang yang tersebar di berbagai  daerah Indonesia maupun di luar negeri yang berpusat di Jepang.  Salah satu cabang IIDN di Indonesia  tersebut adalah IIDN Kaltim yang di koordinatori oleh Tri Wahyuni Zuhri, penulis dan trainner dari Kaltim.

Apabila semula Profesi menulis dianggap hanya untuk orang yang memiliki bakat,  namun tidak demikian sesungguhnya. Karena ternyata  profesi menulis bisa dilakukan semua orang, termasuk ibu-ibu rumah tangga. Hal itu pula yang terjadi di komunitas IIDN. 


Ibu-ibu yang akhirnya memilih jalur menulis sebagai aktifitas keseharian ternyata dapat mengasah  kemampuan ilmu yang mereka miliki serta mendapatkan keuntungan materi.  Disamping itu mereka pun dapat menjalin silaturahmi sesama ibu-ibu rumah tangga yang memiliki minat sama dalam menulis. Tentu saja hal itu tidak menghambat aktifitas mereka sesungguhnya yaitu ibu rumah tangga yang notabene sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya.  

IIDN tidak hanya melakukan kegiatan secara online di internet, tetapi kegiatan offline atau kopdar sering dilakukan.  Berbagai pelatihan maupun kegiatan positif lainnya menjadi agenda kegiatan IIDN pusat maupun IIDN daerah. Seperti yang sering dilakukan oleh IIDN Kaltim.  IIDN Kaltim sering melakukan kegiatan tatap muka sekaligus sebagai ajang silaturahmi sesama anggotanya.  Bahkan Beberapa kali IIDN Kaltim ikut aktif mengikuti berbagai kegiatan ataupun seminar terkait penulisan ataupun kegiatan positif untuk para ibu.  Antara lain kegiatan bedah buku, seminar dan training penulisan, ataupun pelatihan pembuatan makanan bento.

Beberapa anggota IIDN Kaltim pun telah menghasilkan karya tulis baik berupa tulisan di media cetak maupun dalam bentuk buku yang sudah terpublikasikan secara nasional.  Salah satunya Inni Indarpuri, penulis produktif asal Kaltim. Saat ini Inni telah menghasilkan 3 novel yang terbit nasional.  Novel berjudul Diantara Dua Cinta dan Novel Gambiran, merupakan novel yang bersetting lokalitas Kalimantan Timur. Novel Gampiran bahkan sempat diangkat sebagai sumber makalah oleh Tri Wahyuni Zuhri dalam seminar kesastraan di Kaltim. Novel terakhirnya Never Give Up berkisah tentang perjuangan seorang gadis penderita lupus yang mengambil setting kota Samarinda.


Kemudian ada pula Indah Nur Wakhid, penulis asal Balikpapan, yang baru mengeluarkan novel perdananya berjudul Love Me, Love Me Not, terbitan Mediapress.  Novel romantis namun di balut kisah pembunuhan misterius yang sangat menarik untuk di baca. Tentu saja kehadiran IIDN ini sangat bermanfaat dan berarti bagi perempuan Kaltim yang ingin eksis mengurus rumah tangga, pekerjaan namun tetap berkarya melalui menulis. Terlebih seorang ibu sangat berperan penting mendidik anaknya untuk menjadi generasi muda yang unggul.  Apabila seorang ibu sangat senang menulis dan membaca, tentu saja wawasan pengetahuannya akan lebih berkembang dan menularkan kepada anak-anak mereka. Amin..