Showing posts with label resensi. Show all posts
Showing posts with label resensi. Show all posts

Cinta di Jembatan Kutai Kartanegara


Judul : Elegi Cinta (Di Balik Runtuhnya Jembatan Kutai Kartanegara)
Penulis : Maria Ulfah
Penerbit : Aria Mandiri Group
Tebal :  155 Halaman
Tahun : 2016

Buku Novel Elegi Cinta merupakan novel cinta yang di tulis oleh Maria Ulfah, novelis Kalimantan Timur yang saat tinggal di Sendawar Kutai Barat. Novel ini di tulis berdasarkan kisah nyata saat runtuhnya Jembatan Kutai Kartanegara pada tanggal 27 November 2011 lalu.

Membaca buku novel ini,  pembaca  tidak hanya di sajikan kisah perjalanan kehidupan cinta  Putri, sang tokoh utama.  Tetapi juga banyak berbagai pengetahuan dan informasi terkait mengenai Kutai Kartanegara yang di ramu dengan bahasa yang mudah di pahami.  Sebut saja saja mengenai Pesta adat Erau ataupun sejarah dari jembatan Kutai Kartanegara ini.  Tentu saja di padu dengan kisah perjalanan hidup dan cinta yang di alami Putri.

Putri sendiri di gambarkan sebagai seorang gadis asal  Tenggaromg Kutai Kartanegara yang melabuhkan cinta pertamanya pada Rafael. Mereka pertama kali bertemu tanpa sengaja di Pulau Kumala, salah satu destinasi wisata kebanggaan Tenggarong.

Pertemuan itu berlanjut dengan tumbuhnya benih-benih cinta di antara Putri dan Rafael. Bahkan mereka kerap menghabiskan waktu bersama, salah satunya ketika menyaksikan pesta adat Erau di Tenggarong. Mereka pun sepakat untuk melanjutkan hubungan yang lebih serius ke jenjang pernikahan.

Namun sayang, menjelang tiga hari pernikahan mereka,  Rafael meninggal dunia akibat kecelakaan di atas Jembatan Kutai Kartanegara.  Kepergian Rafael yang tiba-tiba seakan meruntuhkan harapan hidup Putri.

Putri akhirnya memutuskan untuk bunuh diri dengan menerjunkan diri sungai Mahakam dari atas Jembatan Kutai Kartanegara. Beruntung saat itu ada Rizal yang menyelamatkan Putri, sehingga nyawa Putri bisa di selamatkan.

Seiring perjalanan waktu, Putri pun mulai menyukai Rizal yang memiliki wajah mirip seperti Rafael. Apalagi ternyata Rizal seorang penulis novel dengan karya yang best seller. Bahkan Putri pun memutuskan untuk berhijab dan lebih mendalami kehidupan beragama. Mereka berdua akhirnya memutuskan menikah dan menjalani kehidupan berumah tangga.

Namun kebahagiaan tidak berlangsung lama di kehidupan Putri. Putri dan Rizal harus menjadi korban dalam runtuhnya Jembatan Kutai Kartanegara pada tanggal 27 November 2011. Saat kejadian itu, Putri berhasil di selamatkan walaupun harus kehilangan suaranya atau bisu. Sedangkan Rizal tidak di ketahui di mana keberadaannya.

Putri pun harus kembali menata hati dan mencoba bangkit dari keterpurukan. Dulu, Kecelakaan  yang di alami Rafael di Jembatan Kutai Kartanegara sudah memisahkan dia dan  dengan Rafael. Kemudian runtuhnya Jembatan Kutai Kartanegara memisahkannya dengan Rizal.

Putri akhirnya menekuni dunia penulisan  yang juga di lakukan Rizal dulu. Walaupun sekarang ia bisu, tetapi Putri yakin tetap bisa mengerahkan segala kemauan dan pikiran untuk menulis. Putri  melakukan berbagai riset serta penelitian untuk menyelesaian tulisannya terkait juga dengan Jembatan Kutai Kartanegara.

Hingga akhirnya Allah masih memberi kesempatan kembali kepada Putri untuk bertemu dengan Rizal. Walaupun sekarang kondisi fisik Rizal yang tidak sempurna karena sempat berkelahi dengan buaya. Namun hal itu tidak mengurangi kebahagiaan mereka berdua. Apalagi Putri telah berhasil menyelesaikan tulisannya dan di persembahkan untuk suaminya.

Membaca novel elegi Cinta ini, membawa banyak hikmah bagi para pembaca. Selain itu, penulis juga sangat baik mengambil moment latar belakang runtuhnya Jembatan Kutai Kartanegara sebagai inti dari novel ini.  Membuat para pembaca seakan-akan bisa membayangkan sekaligus menghayati kejadian tersebut secara langsung. Sehingga membuat pembaca bisa lebih mengintropeksi diri dan lebih menjaga alam dengan lebih baik.

Belajar Makna Kehidupan Dari Mentor


Judul : Ujar Mentor (Canda, Petuah, Cerita)
Penulis : Es Pernyata
Penerbit : Kalika Utama
Tebal : 148 Halaman
Tahun : 2016


Buku Ujar Mentor merupakan buku motivasi  yang sarat pesan moral dan di tulis dengan gaya berbeda tanpa menggurui.  Buku  yang di tulis oleh Es Pernyata dan di terbitkan oleh Kalika Utama ini,  berisi 28 kumpulan kisah motivasi yang menarik untuk di baca.

Es Pernyata sendiri merupakan nama pena dari Syafruddin Pernyata.  Selain aktif menulis di berbagai media dan telah menghasilkan beberapa karya buku, Es Pernyata juga pernah menjabat sebagai Kepala Badan Perpustakaan Kaltim dan Kepala Badan Diklat Kaltim.

Buku Ujar Mentor yang di tulis Es Pernyata, memang berbeda dengan karya -karya sebelumnya. Buku motivasi ini di balut cerita ringan dan terkadang jenaka. Tidak tampak kesan menggurui dalam penyampaiannya, sehingga membuat pembaca mudah menangkap serta meresapi pesan-pesan moral yang di sampaikan.

Penulis membawa kita mendalami kehidupan mentor dan para sahabatnya yang  menjadi  tokoh pelaku dalam buku ini, yaitu aku,  Nanang, Wagiyo, Wekabe, Darsmap, dan Miun.  Dimana setiap masing-masing tokoh memiliki ciri dan watak yang khas.

Misalnya tokoh mentor yang di kisahkan sebagai sosok yang bersahaja dan selalu hadir dengan berbagai petuah-petuah bijaksana. Kehadiran mentor di tengah para sahabatnya memang selalu di nantikan.  Walaupun terkadang mentor memberikan pemikiran dan pembicaraan yang tak berbatas atau sekedar  sindiran halus kepada mereka.

Sebut saja pada kisah " Belajar Melukis", dimana mentor menyuruh salah satu sahabatnya untuk belajar melukis. Mentor memintanya untuk melukis sebuah sketsa lukisan rumah dari tampak luar, baru kemudian bagian-bagian lainnya. Rupanya sang Mentor mencoba menautkan sketsa lukisan itu dengan sebuah  usaha.
Ketika memulai sebuah usaha, ada baiknya mencoba melukis gambaran usaha tersebut dan mendiskusikannya dengan keluarga.  Agar mereka bisa memberikan masukan dan saran untuk bisa sama-sama mewujudkan gambaran usaha tersebut kelak.

Kisah "Lilin" bercerita mengenai perbincangan santai mentor dengan para sahabatnya mengenai sebuah lilin. Dimana mentor meminta agar mereka tidak menjadi lilin yang menerangi orang lain, sementara dirinya sendiri terbakar. Lilin di analogikan mentor sebagai orang yang terkadang menjadi lilin demi mempertahankan jabatan dan kekuasaan. Ia rela melaksanakan apa saja perintah atasannya, walaupun tahu perintah itu melanggar peraturan.

Atau kisah "Kotoran yang Sesungguhnya" yang pada awalnya merupakan perbincangan ringan antar para sahabat mengenai tayangan sebuah televisi. Kemudian mereka saling menyinggung mengenai kotoran yang paling berat untuk di bersihkan.
Ternyata mentor memberikan pendapat mengenai kotoran jiwa yang paling sulit untuk di bersihan. Kotoran jiwa itu antara lain iri, dengki, hasut, fitnah, tidak bisa mengendalikan emosi dan lain sebagainya. Sehingga sebaiknya sebagai manusia, kita dapat menghindari kotoran jiwa ini.

Berbagai kisah di buku Ujar Mentor ini memang saran pesan dan hikmah bila di renungkan lebih dalam.   Buku ini semakin menarik dimana setiap kisah di berikan ilustrasi gambar terkait tema kisah tersebut. Sehingga membuat pembaca bisa mendapatkan gambaran mengenai kisah tersebut.  Ilustrasi gambar pada buku ini di buat oleh Ramadhan S. Pernyata yang merupakan putra dari Es Pernyata.


Resensi Calista's Conflict : Perjuangan Calista Mewujudkan Impian


Judul : Calista's Conflict
Penulis : Septariani Domo
Penerbit : Stiletto Indie Book
Tebal : 178 Hal
ISBN : 978-602-7572-72-0
Tahun : 2016

Novel Calista's Conflict merupakan salah satu novel yang di tulis oleh Septariani Domo,  seorang novelis Kalimantan Timur. Novel ini  berkisah mengenai perjuangan  Calista, seorang gadis muda asal Desa Long Apari Kalimantan Timur, untuk mewujudkan impiannya sebagai atlet bulu tangkis Nasional.

Persahabatannya dengan Kayla Yeon sejak kecil di Desa Long Apari,  ternyata  membawa keduanya dengan takdir yang berbeda. Kayla Yeon terkenal sebagai solois asal negeri Gingseng Korea. 

Sedangkan Calista memilih hijrah ke Pelatnas Cipayung sebagai altet bulu tangkis.  Persahabatan keduanya pun di warnai dengan berbagai masalah karena ego serta kesibukan masing-masing.

Perjuangan Calista menjadi altet bulu tangkis ternyata tidaklah mudah.  Kegagalan demi kegagalan sempat di alami Calista dalam kejuaraan bulu tangkis dunia. Hal ini sempat membuat posisi peringkat dunia Calista bersama Nadia, rekan gandanya terancam.

Kisah Calista di novel ini semakin menarik ketika di hadapkan dengan kehidupan asmaranya yang  penuh warna.  Dari kisah cinta lokasi dengan Ihsan Al Ghazali, yang merupakan teman sesama atlet.  Hingga kehadiran sosok Kang Yongki dengan terang-terangan menunjukkan rasa suka  pada Calista.  Bahkan Calista sempat mengalami oedipus complex karena jatuh cinta dengan Fathur pelatih ganda Putra yang usianya lebih tua. 

Kehidupan Calista pun semakin tersorot setelah banyaknya rumor dan pemberitaan negatif mengenai dirinya.  Kariernya akan semakin di ujung tanduk , apabila gagal meraih target kejuaraan dunia All England. Padahal keinginannya untuk berlaga di All England merupakan impian sejak kecil.

Dengan tekad dan kerja keras,  Calista akhirnya bisa bangkit dari berbagai masalah yang sempat membelenggunya.  Ia dan Nadia pun berhasil berlaga di pertandingan All England demi mengharumkan nama Indonesia.

Persahabatannya dengan Kayla Yeon pun kembali menghangat setelah sempat vakum beberapa waktu. Begitu pula  kisah cintanya yang berakhir manis dengan melabuhkan hati sang pujaan hati.

Novel Calista's Conflict yang berisi 178 halaman ini, memang menarik untuk di baca. Bukan hanya karena penulis berhasil mengangkat tokoh seorang atlet muda bulu tangkis. Serta bagaimana kelihaian penulis untuk menuliskan alur cerita novel yang mengalir, termasuk salah satunya menggambarkan suasana berbagai pertandingan bulu tangkis tingkat dunia.

Tetapi juga terdapat pesan moral di dalam novel ini yang di gambarkan mengenai perjuangan Calista.  Calista, seorang gadis dari Long Apari,  pedalaman Kalimantan  dalam meraih impian.  Penulis seakan menegaskan, dengan kerja keras dan semangat, maka siapapun bisa  mewujudkan impian.

(Resensi ini di terbitkan di Samarinda Pos)

Athirah, Ketangguhan dan Keteguhan Seorang Istri

Judul : Athirah
Penulis : Alberthiene Endah 
Penerbit  : Noura Books
Tebal    : 388 halaman
Tahun : Agustus 2016

Sering kali kita dengar kisah  perjuangan dan ketangguhan seorang perempuan sebagai  istri dan ibu bagi keluarganya.  Athirah, demikianlah nama salah satu  sosok perempuan tangguh dan istimewa, yang  di tulis oleh Albertheine Endah dalam buku ini.

Athirah adalah ibunda dari Jusuf Kalla yang merupakan Wakil Presiden Indonesia dan juga berprofesi sebagai penguasaha sukses.  Kisah perjalanan hidup Jusuf Kalla atau yang akrab di panggil JK  hingga meraih kesuksesan dalam kehidupan dan karier, tidak lepas dari didikan dan doa dari  Athirah.

Dalam buku ini yang berisi 14 bab ini, memang lebih banyak berkisah mengenai sosok Athirah yang biasa di panggil Emma oleh JK dan saudara-saudaranya.  Kehidupan keluarga JK memang berkecukupan, karena memang ayah JK yaitu H. Kalla merupakan pengusaha sukses di Makassar.

Namun hal itu tidak membuat JK dan saudara-saudaranya tinggi hati dan berbuat seenaknya. Malah mereka tetap hidup sederhana, mandiri dan religius. Bahkan JK yang merupakan anak  laki-laki pertama,  sudah terbiasa membantu usaha keluarga sejak ia remaja. Ia banyak belajar kemandirian, kerja keras, tanggung jawab, dan kejujuran dalam berusaha. Semua juga berkat didikan dan dorongan dari H Kalla dan Emma Athirah.

Hingga suatu ketika, terjadi perubahan tidak di sangka  dalam kehidupan keluarga mereka. H. Kalla di ketahui menikah untuk kedua kalinya. Pernikahan kedua itu, ternyata memberikan dampak kepada Athirah dan anak-anaknya, khususnya kepada Jusuf Kalla.

Sebagai seorang istri, Athirah di hadapkan dengan kepatuhan dan hormatnya kepada suami. Tetapi di sisi lain, Athirah juga memendam rasa sedih karena keputusan suaminya berpoligami.

Walaupun di awalnya terlihat jelas bagaimana kesedihan dan kepedihan Athirah. Namun Athirah berusaha tetap terlihat tegar dan sabar demi anak-anaknya. Ia berusaha tetap menjadi pelita hati dan menentramkan jiwa bagi anak-anaknya, di kala sang suami harus berbagi waktu dengan istri kedua.

Dengan mengumpulkan berbagai sisa-sisa kekuatan yang ada, Athirah mampu bangkit dari rasa kepedihan dan kekecewaan. Ia tidak hanya mampu menerangi keluarganya dari rasa duka, bahkan ia belajar mandiri untuk mengurus usahanya sendiri. Athirah memulai usaha berdagang kain sutra dan berlanjut ke usaha bisnis angkutan umum. JK pun turut terlibat membantu mengembangkan usaha Athirah.  

Bahkan ketika usaha Haji Kalla sempat mengalami kemunduran, Athirah mampu tampil ke depan untuk bahu membahu membantu roda kehidupan usaha sang suami.  Ia mengesampingkan rasa sedih dan pedih yang pernah di rasakannya, demi kepentingan keluarga dan usaha mereka.

Buku ini juga semakin menarik, ketika menampilkan kisah romantis JK dan Mufidah yang kelak menjadi istri JK.  Melihat dari pernikahan kedua orang tuanya yang tidak berjalan mulus dan berpoligami, sempat membuat JK ragu untuk menjalin hubungan dengan perempuan.

Namun hal itu berubah, ketika JK bertemu dengan Mufidah. Mufidah merupakan sosok perempuan mandiri dan hidup di tengah keluarga yang religius. JK pun harus melakukan berbagai cara dan waktu yang cukup lama untuk bisa memenangkan hati Mufidah.

Membaca buku ini ternyata mengandung banyak hikmah yang bisa di ambil oleh pembaca.  Ketabahan keteguhan hati seorang istri yang di poligami, memang menjadi kekuatan dalam buku ini.  Sebagai istri yang di poligami, tidak lantas membuat Athirah larut dalam kesedihan dan kekecewaan. Ia mampu membawa keluarganya untuk bangkit kembali. 

Rasa cinta dan kasih Athirah yang begitu besar kepada keluarga, menjadikan anak-anak sebagai orang yang sukses di kemudian hari.  Semua tidak lepas berkat doa dan didikan Athirah kepada JK dan saudara-saudaranya.


Mengupas Buku Perjumpaan di Candi Prambanan


Judul Buku : Perjumpaan di Candi Prambanan
Penulis : Sunaryo Broto
Penerbit : Funread Indonesia
Tebal : 158 Halaman
Tahun : 2016

Buku Kumpulan Cerita Pendek Perjumpaan di Candi Prambanan,  merupakan salah satu buku yang di tulis oleh Sunaryo Broto, cerpenis sekaligus sastrawan Kaltim.  Buku ini berisi 16 cerita pendek yang berkisah tentang perjalanan manusia, cinta dan kebudayaan.

Ada banyak hal menarik yang bisa di cermati dari cerpen-cerpen Sunaryo Broto. Penulis tidak hanya berhasil memberikan eksploritasi tema dan bahasa yang di gunakan dalam setiap tulisannya.

Penulis juga begitu kuat memberikan deskripsi settingan latar belakang  tempat pada setiap ceritanya.  Sehingga seolah-olah mengajak pembaca turut mendeskripsikan apa yang penulis gambarkan.

Sebagian besar cerpen-cerpen Sunaryo memang berkisah dengan latar belakang perjalanannya di suatu daerah bahkan hingga ke luar negeri.  Hal ini tergambar pula dari judul-judul cerita pendek yang ada dalam buku ini, misalnya Perjumpaan di Candi Prambanan, Pesan Rindu dari Kathmandu, Aku Akan Kembali ke Sangalaki, Dialog di Rumah Bung Hatta,  Suatu Saat di Anaheim.

Dalam cerpen Perjumpaan di Candi Prambanan yang juga menjadi Judul  buku ini, mengisahkan  perjumpaan kembali tokoh "aku" dan Gita. Perpisahan puluhan tahun, terbentang jarak dan waktu antar keduanya yang pernah menjalin romatisme di masa kuliah. Mereka akhirnya kembali bertemu di Candi Prambanan. Sebuah kisah yang mengharu biru dan seakan menyentil sisi roman para pembaca buku ini.

Cerita Pesan Rindu dari Kathamandu berkisah mengenai pertemuan tokoh "aku" dengan Kristina di Kathamdu, Nepal. Pembaca pun di bawa Sunaryo untuk menyelusuri perjalanan Kathamandu. 

Tampak jelas kepiawaian Sunaryo Broto mendeskripsikan setting latar belakang Kathamandu, yang membawa pembaca bisa turut merasakan apa yang di alami tokoh "aku".  Penulis juga menyelipkan makna nasionalisme dalam cerita ini, dimana Kristina yang tetap merasa hati jiwanya sebagai orang Indonesia, walau tinggal di negara lain.

Sunaryo Broto juga menyiratkan kritik sosial secara halus serta berbagai hikmah yang di gambarkan  dalam beberapa cerita pendeknya. Antara lain Cerita Sendu dari Marangkayu, Puisi Guru dan Sekolah Laut, Telah Kususuri Jalan Ini Lebih dari Seribu Kali.

Cerpen Cerita Sendu dari Marangkayu bercerita mengenai perjalanan tokoh melewati Marangkayu. Sepanjang perjalanan, ia berjumpa dan memberi tumpangan pada beberapa anak sekolah yang hendak berangkat sekolah.  Mereka harus  bersusah payah menempuh perjalanan jauh berjalan kaki atau menumpang pada kendaraan yang lewat, hanya untuk mencapai sekolah.

Dalam cerita  ini  cukup menyentil kondisi pendidikan saat ini. Ternyata masih banyak tantangan dalam pendidikan di Indonesia. Tidak semua masyarakat dapat begitu mudah mendapati akses dan fasilitas pendidikan. Sebagian mereka masih memerlukan akses pendidikan mudah dan biaya pendidikan yang bisa di jangkau. 

Cerita lain  dalam  buku ini yaitu Puisi Guru dan Sekolah Laut, cukup mewakili realitas pendidikan yang bisa di temukan di daerah daerah terpencil. Berkisah mengenai perjalanan mengajar seorang guru yang di tempatkan di sebuah sekolah di pulau pemukiman nelayan.

Ada beberapa kendala yang ia temukan selama mengajar di sana.  Kesadaran masyarakat untuk menggapai pendidikan dengan bersekolah belum begitu maksimal. Meskipun sudah di bangun sekolah, namun masih banyak murid yang tidak menyadari pentingnya pendidikan.  Walau begitu, masih ada murid  yang rajin belajar dan mempunyai cita-cita.  Hal ini pula yang membuat sang guru tetap optimis dan semangat untuk terus mengajar.

Cerpen-cerpen di buku Perjumpaan di Candi Prambanan karya Sunaryo Broto ini memang layak di baca oleh siapa saja. Pembaca dapat menemukan banyak hikmah cerita dan kisah menghibur sekaligus mengharu biru dalam cerita-cerita yang di suguhkan penulis.

Note :
Resensi ini di muat di Tribun Kaltim

Memaknai Lebih Dalam Fenomenologi Wanita Ber-High Heels


Judul Buku : Fenomenologi Wanita Ber-High Heels
Penulis : Ika Noorharini
Penerbit: PT Artha Kencana Mandiri
ISBN: 978-602-73069-0-5
Tebal : 112 Halaman
Tahun : 2015

Ketika mendengar kata High Heels, pikiran kita pasti akan tertuju pada pemikiran sebuah sepatu ramping dengan desain menarik yang mempunyai tumpuan tumit (heels) yang tinggi. 

Buku Fenomenologi Wanita Ber-High Heels yang di tulis oleh Ika Noorharini, akan mengupas lebih lanjut mengenai high heels ini. Ternyata high hells tidak nya sekedar sebuah sepatu saja, tetapi lebih dari itu, mengandung berbagai makna dan kisah di dalamnya.

Buku ini sendiri hadir berdasarkan adaptasi dan pengembangan dari tesis penulis. Semua berawal dari ketertarikannya pada high heels dan bagaimana pendapat para wanita yang menyukai high hells. Penulis pun mencoba melakukan studi fenomenologi secara subjektif, yang kemudian diimplementasikan untuk membedah struktur kesadaran para wanita pekerja pengguna high heels.

Dalam buku ini pula, penulis memperkuatnya dengan penelitian data kualitatif yang di dapatkan melalui interview 15 narasumber wanita yang menonjol dalam bidangnya. Dari hasil interview tersebut, kemudian di analisis kembali dengan mengacu pada teori-teori yang relevan. Hasil penelitian tersebut memberikan berbagai penemuan yang menarik, dan di bagian penulis kepada para pembaca.

Ada 7 bab dalam buku ini, yaitu Sepasang Kaki Cantik, Marilyn Monroe, The Chopines, Talons Hauts, Jimmy Choo v Louboutin, Stilleto, Merah. Pada bab Sepasang Kaki Cantik menjelaskan essensi sepatu high heels bagi seorang wanita. Dimana fungsi sepatu high heels sebagai instrumen menyempurnakan kecantikan para wanita.