Ketika Asisten Mudik Lebaran
Dua bulan yang lalu...
"Jadi, bu. Saya jadi mudik ke kampung", ujarnya sumaringah. Ada senyum tersungging di bibirnya.
Saya pun telah menyiapkan tiket pulang pergi untuk mbak Is mudik ke kampung. Saya harus memastikan kalau mba Is bisa nyaman dalam perjalanan dan sampai dengan selamat sampai ke kampungnya. hmm.. sebenarnya lebih tepatnya, untuk lebih memastikan kalau mba Is bakal balik lagi ke rumah saya setelah mudik :D Tidak mudah lho, jaman sekarang mencari asisten yang cocok dan bertahan lama.
Selamat Hari Raya Idul Fitri
Minal Aizin Wal Faizin
Mohon maaf Lahir dan Batin
Samarinda - Kaltim
Lupi dan Biskuit Khong Guan
# Lupi dan Khong Guan
Lupi, anak bungsuku ini memang agak beda dengan kakak-kakaknya. Lupi suka sekali makan biskuit Regal dari Khong Guan yang di celupin ke teh manis hangat.
Kalo melihat Lupi asyik menikmati kudapan seperti ini, mau tak mau mengingatkanku di masa lalu. Ya, almarhum kakek nenekku suka pula melakukan hal yang sama seperti Lupi. Begitu pula dengan bapakku yang juga kakek Lupi. Hehehhe..
Khong guan memang selalu mengingatkan pada berbagai memori memori indah. Belum lagi kala lebaran jaman dulu tiba. Khong guan menjadi semacam trend yang harus ada di keluarga kami ^_^
Ketika Jujur tentang Kanker kepada Anak
- Apakah anak-anak tahu kalau saya terkena kanker?
- Apakah anak-anak tahu penyakit kanker itu apa?
- Bagaimana perasaan mereka saat tahu saya terkena kanker?
- Bagaimana keadaan sehari-hari di lalui bersama anak-anak setelah tervonis kanker?
- Apakah mereka tahu tentang pengobatan kanker yang saya lakukan?
- Bagaimana perasaan mereka bila melihat saya sedang drop atau lagi down?
- Seberapa pentingnya mereka tahu mengenai kanker yang saya derita?
- ...... dan banyak lagi pertanyaan
Sekali lagi saya katakan.. hidup ini adalah pilihan. Okelah kalau saya memang tidak bisa memilih untuk menghindari tervonis kanker. Tetapi setidaknya saya bisa memilih bagaimana mengisi dan menjalani hari-hari saya bersama anak-anak.
Selamat Idul Adha
Assalamualaikum Wr. Wb
Kami Sekeluarga Mengucapkan :
Selamat Idul Adha
Mohon Maaf Lahir Batin
-TRI WAHYUNI ZUHRI & KELUARGA -
Kebakaran Itu Menyisakan Cerita
Surat Untuk Anakku, Luhtfi : Genggamlah Dunia dan Raih Impianmu Kelak
Tidak terasa sudah bertambah satu tahun lagi usiamu..
Mama ingat, pagi itu mama sedang bersiap untuk operasi ceasar.
Kamu tahu, nak.. Surah apa yang mama baca? Ya, mama membaca surat Yusuf. Mama ingat kata orang-orang, kalau tahu calon bayi itu laki laki, maka bacakanlah surah Yusuf.. agar kelak kau tumbuh sebagai anak yang sholeh, pintar, dan setampan nabi Yusuf. Amin..
Perjuangan melahirkanmu sungguh tidak mudah. Bila banyak orang berpendapat kalau melahirkan ceasar itu mudah dan santai, ternyata mereka salah, anakku. Baik melahirkan secara normal ataupun ceasar, butuh perjuangan hidup dan mati bagi seorang ibu.
Mama bisa mendengar apa saja yang di katakan dokter dan perawat yang membantu proses kelahiranmu. Awalnya semua berjalan lancar, hingga ada satu ketika dokter bilang pada tim perawat ada perekatan pada rahim mama. Ya, perekatan itu bisa terjadi setelah operasi ceasar kakakmu, Raisyah.
Mama saat itu benar benar pasrah.. apalagi dokter dan tim perawat berjuang keras mengeluarkanmu dari perut mama. Akibat perekatan di rahim itu, membuat mereka harus extra keras meluarkammu. Mama hanya bisa pasrah dan memohon terbaik kepada Allah..
Akhirnya engkau bis lahir di dunia ini dengan sehat dan selamat. Betapa bahagianya mama saat itu dan juga hingga saat ini. Mama selalu berharap Luthfi bisa tumbuh sebagai anak sholeh dan berbakti. Seperti doa doa yang mama dan papa selalu panjatkan kepada Allah untukmu dan saudara-saudaramu.. Amin
Mama pun berdoa untukmu.. agar kelak Luthfi bisa menggenggam dunia, mewujudkan mimpi dan meraih cita -citamu..
Jangan lupa untuk terus beribadah dan mengingat Allah, ya nak..
Menikmati Kuliner Bebek Goreng Pak Ndut Samarinda
Awal bulan Juni lalu, bertepatan dengan hari ulang tahun Afya, kami sekeluarga menikmati sajian kuliner Bebek Goreng Pak Ndut. Afya merupakan keponakan cantik saya yang sedang merayakan ulang tahunnya yang ke 11 tahun.
Acara syukuran ulang tahunnya di lakukan SLB (Sekolah Luar Biasa) di Samarinda Sebrang. Setelah itu, kami sekeluarga meluncur ke Rumah makan Bebek Goreng Pak Ndut di bilangan jl. AW. Syahranie Samarinda.
Tentu saja acara kuliner ini saya terima dengan bahagia. Selain bisa terus menjalin keakraban keluarga, sekaligus menikmati menu khas pak Ndut secara gratis hihihi.. maklumlah, kalau masalah traktiran makan gratis itu memang sangat mengiurkan, khususnya emak rempong seperti saya.
Hari itu merupakan yang kesempatan kedua kalinya saya makan di Rumah makan Pak Ndut. Kesempatan pertama dalam rangka traktiran pas kakak saya Dwin, yang juga bapaknya Afya ulang tahun. Hehehhee.. memang kakak saya sekeluarga demen banget sama kuliner di pak Ndut.
Areal Rumah makan pak Ndut di ini dibagi menjadi dua bagian untuk makan yaitu lesehan maupun tempat duduk. Halaman parkirnya pun sangat luas yang sanggup menampung banyak kendaraan para konsumen yang datang.
Nah, menariknya lagi, di areal tengah rumah makan terdapat ruang terbuka yang terdapat tempat untuk anak anak bermain. Kebetulan saya membawa Raisyah, jadi senang banget Raisyah bermain bersama Afya di sana.
Tibalah acara yang di nanti yaitu pemesanan menu makanan. Tentu saja menu bebek goreng menjadi pesanan kami sekekuarga. Trus mama saya menambahnya dengan tahu goreng yang rasanya maknyus. Sedangkan bapak memilih menu makan ayam goreng. Kebetulan bapak abis operasi by pass jantung, jadi memilih ayam goreng untuk sementara waktu hihihi..
Ketika Sakit Menguji Cinta
Percayakah Anda dengan cinta sejati? Cinta yang saling mencintai satu sama lain serta menerima kelebihan dan kekurangan satu sama lain. Cinta yang tidak akan berubah walaupun waktu telah beranjak pergi. Cinta yang akan terus sama, walau di terjang cobaan dan badai tidak terduga.
Ada banyak cerita yang kita sering dengar tentang cinta. Cinta antara sepasang suami istri, cinta antara orang tua dan anak, atau cinta antara sesama manusia. Cinta yang berbalut kisah-kisah romantis dan mengharukan, membuat kita menjadi percaya cinta itu sejati . Namun disisi lain, ada pula kisah cinta yang tidak sejalan dengan semestinya. Cinta yang seharusnya mengekalkan dan saling menguatkan satu sama lain. Ternyata tidak cukup kuat bertahan saat badai datang menerpa.
Kerap Kali kita dengar cerita, saat pasangan yang awalnya terlihat romatis dan harmonis, ternyata berpisah serta meninggalkan luka. Ya, salah satu alasannya karena ia tidak mampu menerima kondisi pasangannya saat ini. Bila dulu mereka bersatu karena mengganggap pasangannya itu begitu sempurna dan sesuai. Namun saat, kondisi pasangan menjadi tidak seperti yang dulu, rasa cinta pun ikut-ikutan menguap.
Saya sering mendengar cerita dan bahkan menyaksikan sendiri, kekuatan cinta sepasang manusia yang saling mencintai, teruji karena badai yang bernama sakit yaitu sakit KANKER itu datang pada kehidupan mereka. Kanker, sebuah penyakit yang begitu di takuti ternyata di derita salah satu pasangan tersebut. Kanker tidak hanya merampas kesehatan dan kekuatan fisik penderita. Kanker pun mampu mengoyak-ngoyak keutuhan perasaan cinta pasangan yang tidak terlalu kuat.
Ada saja suami yang tidak sanggup merawat dan menemani istri karena sang istri terkena sakit kanker. Ia hanya mengeluh dan menganggap istri yang sakit menjadi sebuah beban. Atau bahkan yang lebih parah, ia meninggalkan sang istri yang memerlukan dukungan suami, dan memilih perempuan lain. Begitu pula cerita seorang istri yang tidak tahan mengurus suami yang terkena kanker. Disamping ia harus merawat suami, ia pun harus berfikir membantu mencari nafkah keluarga. Hal itu pula yang membuatnya tidak terima kondisi tersebut.
Apakah seperti itu mekanisme kekuatan cinta bekerja? Tentu saja bukan itu caranya. Jika sepasang manusia saling mencintai, mereka akan saling menjaga dan mengasihi walaupun badai menghadang. Seperti dua kisah cinta menakjubkan yang saya temui.
Adalah kisah Ibu Lina (bukan nama sebenarnya) yang merupakan pasien kanker rahim. Di usianya yang tidak lagi muda dan fisik yang tidak sekuat dulu, memang tidak mudah menjalani vonis kanker. Ibu Lina harus menjalani berbagai pengobatan kanker, yang tidak hanya menguras waktu dan biaya. Tetapi juga berdampak pada kesehatan fisiknya.
Setiap kali pertemuan kami, saya selalu dibuat terharu dengan dukungan orang-orang terdekat bu Lina. Suami dan anak-anaknya bergantian mengurusi bu Lina. Bahkan hampir seluruh rumah sakit mengetahui hal tersebut.
Tidak pernah terbersit sedikit pun di benak suami untuk meninggalkan istrinya. Bahkan suami dengan telaten dan sabar menemani dan merawat bu Lina. Saya bahkan beberapa kali melihat secara langsung bagaimana kedua pasangan suami istri ini saling menyayangi satu sama lain.
Kondisi sakit kanker sang istri tidak meruntuhkan cinta suaminya. Apalagi secara kondisi fisik bu Lina yang berubah karena berbagai pengobatan salah satunya kemotrapi yang menimbulkan berbagai efek seperti rambut rontok, tubuh lemas tidak berdaya. Namun semua tidak bisa mengalahkan kekuatan cinta suami untuk memberikan perhatian kepada istrinya. Bu Lina pun semakin semangat untuk menjalani pengobatannya.
Kisah lain juga mengharukan yaitu cerita seorang istri yang iklas mendampingi suami yang tervonis kanker stadium akhir. Kehidupan Ibu Enny (bukan nama sebenarnya) dan keluarganya berubah drastis saat sang suami tervonis kanker stadium akhir.
Suami yang biasanya menjadi kepala keluarga dan pencari nafkah, harus terbaring lemah dalam menjalani pengobatan kanker. Ibu Enny memilih terus mendampingi suami dengan setia. Ia pun mengambil alih roda keuangan keluarga dengan menjalankan usaha kecil-kecilan.
Cinta yang terjalin sejak menikah, tidak akan pudar, walaupun sang suami sudah tidak segagah dan sekuat dulu. Bu Enny sadar, dengan dukungan serta kekuatan cinta yang ia dan anak-anak berikan, akan menambah semangat suami untuk sembuh.
Tidak ada rasa kesal ataupun marah pada diri Bu Enny saat harus merawat dan menjaga suaminya. Penyakit kanker terkadang membuat suaminya menjadi lebih sensitif dan emosi. Namun hal itu tidak terlalu di pikirkan bu Enny . Dengan sabar, ia mendampingi suaminya dalam kondisi sulit seperti ini .
Dari kedua kisah diatas, ternyata banyak hikmah yang bisa diperoleh. Kekuatan cinta bisa menguatkan seseorang dalam melawan penyakit ganas seperti kanker. Cinta sejati tidak akan berubah walaupun waktu berjalan ataupun badai datang menerpa. Cinta sejati itu masih selalu bisa kita temukan di mana saja.
Berbagi Kebahagiaan di Syukuran Ultah Keponakan
Hari Selasa, 9 Juni 2015, merupakan hari yang spesial buat Afya. Hari ini Afya genap berusia 11 tahun. Afya adalah keponakan saya yang merupakan anak dari kakak kedua saya. Kedua orang tua Afya ingin mengadakan acara syukuran untuk ulang tahun Afya dengan cara berbeda. Ya, kakak dan kakak ipar saya itu lebih memilih mengadakan syukuran di SLB (Sekolah Luar Biasa) di Samarinda Sebrang.
Beberapa hari sebelumnya, Afya sudah bilang ke kami untuk hadir di acara syukuran ulang tahunnya, khususnya kepada kai neneknya. Alhamdulillah tadi pagi sekitar jam 9 pagi, kami berkumpul semua di sekolah SLB.
Terlihat banyak anak anak dengan wajah ceria menanti ke datangan kami sekeluarga. Afya pun tampak cantik dengan baju serba pink. Begitu pula dengan Raisyah yang ikut hadir menemani Afya.
Acara di buka oleh salah satu guru SLB dan dilanjutkan dengan pembacaan doa. Selanjutnya acara santai yaitu perwakilan siswa SLB maju ke depan untuk menyanyi. Ada rasa haru dan kagum saya kepada anak anak tersebut. Walaupun kondisi mereka tidak senormal seperti anak anak pada umumnya, tetapi mereka memiliki semangat dan keberanian yang luar biasa.
Catatan Seorang Ibu Yang Lagi Sensitif
Selama menjadi seorang survivor kanker, tentu banyak hal yang berubah dalam hidup saya. Salah satu perubahan yang cukup signifikan yaitu pada kemampuan fisik khususnya dalam hal berjalan dan bergerak. Saya pun banyak terbantu oleh tongkat, korset ataupun kursi roda kalau perjalanan jauh.
Penyakit Kanker yang sudah bermetase ke tulang belakang, memang cukup menganggu mobilitas gerak menjadi lebih lambat, ataupun kesulitan naik tangga walaupun hanya beberapa jejak tangga. Ya, saya tetap terus bersyukur, masih bisa melakukan aktifitas terbatas, mengingat saya pernah nyaris lumpuh beberapa waktu lalu .
Nah, ada saja hal-Hal yang menarik, lucu atau bahkan menyedihkan tentang ini. Salah satunya saya alami beberapa waktu lalu . Saat itu Raisyah mengalami sakit batuk yang tidak kunjung sembuh. Akhirnya saya memutuskan untuk membawanya ke salah satu klinik praktek dokter umum .
Saya sudah lama tidak ke klinik tersebut, karena selama ini saya lebih banyak berobat langsung kerumah sakit umum. Singkat cerita saat mendaftar di bagian pendaftaran, mba yang bertugas meminta saya mengisi data pribadi Raisyah.
"Sebentar ya, bu. Ibu nanti naik Tangga ke lantai dua. Dokternya praktek di lantai dua,"jelas si mba dengan wajah manisnya.
"Lho, bukannya praktek dokter umum cukup di lantai 1?"Tanya saya bingung sembari membayangkan betapa menguras energinya harus menyisiri naik ke lantai dua .
"Memang di lantai satu, bu. Tapi dokternya lagi Ada pasien di lantai dua, jadi sekalian semua pasien diarahkan kesana".
Saya terdiam sejenak,"begini mba, saya tidak bisa naik tangga karena adalah masalah pada tulang belakang. Syaraf saya terjepit. Apa bisa saya tetap berobat di lantai satu saja?"tanya saya.
"Bentar ya, bu. Saya tanyakan dulu,"kata si mba sambil menelpon ke lantai dua.
Tidak lama kemudian telah ada jawaban dari si mba,"iya bu. Tunggu saja ya. Nanti dokternya turun ke lantai 1,"jelas si mbak.
Saya pun bernafas lega dan membawa Raisyah menunggu di ruang tunggu dokter di lantai 1. Tak lama sang dokter turun dari tangga dan menuju ruang prakteknya.
Sebentar kemudian, nama Raisyah di panggil perawat dan kami berdua masuk kedalam ruangan.
"Maaf ya, dok. Saya tidak bisa naik tangga. Jadi nggak bisa menemui dokter ke lantai 2,"kata saya membuka pembicaraan. Dokter hanya membalas sekedarnya dan segera memeriksa Raisyah dengan teliti. Sambil menuliskan resep, saya pun bertanya lebih lanjut tentang sakit raisyah yang ternyata memang sakit batuk yang cukup mengganggu.
"Ibu sakit apa?"tanya si dokter tiba-tiba. Terus terang saya cukup kaget dengan pertanyaan di dokter. Mungkin dokter cukup penasaran kenapa saya tidak mau naik tangga untuk ke ruang prakteknya di atas.
"Oohh.. saya ada masalah ditulang belakang, dok. Seperti syaraf kejepit,"kata saya. Saya memang jarang mengungkapkan sakit kanker saya pada orang lain. Biasanya saya memang melihat situasi juga.
"Sakit syaraf kejepit itu jangan di biarkan, bu. Apalagi ibu masih usia produktif, kalau sudah tidak bisa naik tangga, itu harus di waspadai,"jelas si dokter lagi.
"Maaf dok, saya masih bisa kok naik tangga. Tapi harus butuh tenaga extra,"aku saya dengan jujur.
"Iya, saya tahu bu. Tapi ibu kan masih usia produktif. Lain halnya kalau sudah nenek nenek. Wajar kalo susah naik tangga," kata si dokter lagi. Jlebb ! Alamak, kenapa pula dokter ngomongnya ngaitkan usia produktif saya dengan ketidak mampuan saya naik tangga secara normal.
Saya hanya diam sejenak mendengarkan penjelasan dokter yang panjang lebar tentang penyakit tulang belakang dan syaraf terjepit. Saya sempat berfikir, apa mungkin si dokter kesal ya karena saya tidak naik tangga menemui dia. Terlebih melihat kondisi saya yang masih muda seperti ini. Hhhmmm.. dalam hati saya juga sedikit menyesal, kenapa lupa bawa tongkat kebesaran untuk menandakan kalau saya memang sedang sakit. Hehehhe...
Cukup lama juga dokter dengan semangat berapi-api menjelaskan tentang masalah syaraf. Termasuk memberi masukan apa saja yang harus saya lakukan dalam berobat di usia masih produktif.
Memang dasarnya saya lagi sensitif Kali ya... berkali-kali dokter bicara ten tang kaitan usia produktif perempuan dengan ketidak mampuan bergerak normal, membuat saya cukup sensitif. Saya pun segera mengambil langkah dramatisir untuk menutup penjelasan dokter agar penjelasannya tidak melebar kemana-mana.
"Maaf dok. Syaraf kejepit saya bukan hanya karena Masalah tulang belakang. Saya seorang survivor kanker stadium lanjut yang sudah metase ke tulang belakang. Jadi itu yang membuat saya tidak bisa bergerak normal,"jawab saya pelan sambil menahan emosi.
Dokter tersebut langsung terdiam mendengar penjelasan saya barusan. Saya tangkap ada raut rasa bersalah di wajahnya. Mungkin ia merasa bersalah karena menceramahi saya panjang lebar tanpa tahu penyakit saya sesungguhnya.
"Oh maaf, bu. Saya tidak tahu kalau penyebabnya dari sakit kanker ibu,"jawabnya dengan pelan.
Saya hanya tersenyum mendengarnya. Dan dengan segera saya berpamitan keluar ruangan praktek sambil menggandeng Raisyah.
Perkataan dokter tentang usia produktif saya ternyata cukup mengusik saya. Walaupun saya tahu, si dokter menceramahi saya tanpa tahu kondisi sakit kanker saya terlebih dahulu. Mungkin kalau dari awal saya bilang sesungguhnya tentang kanker yang saya derita, tentu dokter itu tidak akan sesemangat itu menceramahi saya.
Saya melirik ke arah Raisyah yang sedari tadi tidak lepas menggandeng saya. Saya memang menbenarkan apa kata dokter itu. Di usia saya yang masih produktif ini, seharusnya saya bisa melakukan banyak aktifitas normal seperti layaknya ibu muda lainnya. Menemani anak, mengantar jemput anak sekolah, mengajak mereka jalan-jalan dan sebagainya. Tapi itu semua tidak bisa saya lakukan dengan baik mengingat kondisi fisik yang tidak memungkinkan.
Saya mulai merasakan hati terasa teriris iris kembali setelah sekian lama saya berusaha tetap tegar dengan kondisi yang ada. Kata-kata si dokter tadi cukup menghujam perasaan sensitif saya yang lagi lebay.
Sambil menunggu di bangku apotik, perlahan saya memeluk Raisyah sambil berbisik padanya,"Maafkan mama, sayang. Mama akan terus menyayangimu dengan cara mama sendiri". Tak terasa tetesan air mata itu jatuh di kedua pipi saya...
Antara Mama, Aku dan Kanker
"Pasti dokter salah. Penyakitmu bukan kanker!"kata mama masih tidak percaya. Air mata mulai membasahi pipi mama yang sudah mulai keriput.Aku hanya terdiam tanpa bisa berkata apa-apa. Hari itu merupakan hari bersejarah sekaligus terberat bagi aku. Dengan menghimpun segala kekuatan, aku berani jujur pada mama dan bapak tentang sebuah penyakit yang terus menerus menggerogoti tubuhku.
Kanker, penyakit yang merenggut nyawa orang-orang yang kukenal, akhirnya harus lapang dada kuterima dalam tubuh. Mama masih menangis. Beliau sangat terpukul dengan sebuah kenyataan kalau aku, anak perempuan satu-satunya, terkena kanker yang sudah stadium lanjut. Ya, kankerku sudah menyebar ke tulang belakang, yang membuatku selalu kesakitan setiap saat.
Lambat laun, mama dan bapak bisa menerima kondisiku. Semua memang tidak mudah. Tetapi aku berusaha tetap tegar dan kuat melawan sakit kanker ini. Aku tidak ingin melihat mama bersedih dan menangis, saat aku menahan sakit yang tidak terkira. Atau saat aku harus terbaring lemah dan berdaya di atas tempat tidur. Atau saat jarum-jarum infus menempel di tubuhku dan berbagai jenis obat harus aku minum.
"Mama sudah memasak untukmu. Kamu harus makan banyak. Biar tubuh tidak kurus sepert ini," kata mama kepadaku kala itu. Di meja makan kulihat berbagai menu makanan telah susah payah mama siapkan dengan tangan dan tenaga yang semakin tua.
Aku memaksakan makan secara pelan-pelan. Walaupun perutku terasa di aduk-aduk tidak karuan, dan lidahku kelu tidak berasa. Belum lagi kepalaku pusing dan badanku serasa tidak bertenaga. Semua demi mama, aku harus makan masakan yang disajikannya dengan penuh doa dan cinta.
"Mama, aku tambah makan lagi ya,"ujarku sambil mengambil beberapa lauk dan menambahkan ke atas piringku. Kulihat sorot mama berbinar dan ia tersenyum melihat aku makan begitu lahap.
Kanker itu tanpa permisi mengambil selera makan dan kekuatan tubuhku. Tapi aku tidak mau kalah dengan si kanker ini. Aku tetap berusaha menghabiskan isi makananku. Aku harus punya tenaga untuk melawan kanker itu. Masakan buatan mama adalah salah satu modal kekuatanku melawan kanker.
Jujur, kadang aku merasa bahagia sekaligus sedih. Bahagia karena Allah telah begitu baik memberikanku seorang mama yang luar biasa dan menyayangiku. Sedih, karena aku merasa sampai sekarang sering membuat repot dan menyusahkan mama. Di usiaku seperti ini, aku seharusnya bisa membahagiakan mama, bukan menambah beban pikirannya dengan penyakit kankerku.
Mama selalu ada saat aku dalam keadaan down dan sedih. Mama selalu ada saat aku mulai menahan sakit dan nyeri akibat kanker ini. Mama pun selalu ada bersama anak-anakku dan sangat bahagia bersama mereka.
"Ketika punya anak, kamu akan tahu mengapa ibu akan melakukan apa saja demi anaknya. Setiap saat mama berdoa untuk kesembuhanmu,"begitu kata mama suatu hari saat kami sedang berbagi cerita. Ya, aku mulai mengerti apa maksud mama setelah menjadi seorang ibu dengan anak-anak yang super lincah. Ah, seorang ibu memang seluas samudera.
Satu pintaku kepada Allah yang sering kupanjatkan dalam doa dan sholatku. Ijinkan aku terus bertahan dan berjuang penyakit kanker ini, agar aku bisa membalas semua kasih sayang mama yang tidak pernah terbatas...
Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Hati Ibu Seluas Samudera
Buku Kanker Bukan Akhir Dunia bersama Orang-orang Tercinta
Alhamdulillah, banyak respon positif atas kehadiran buku Kanker Bukan Akhir Dunia ini. Jujur saja, saya tidak menyangka begitu banyak orang yang ternyata memperhatikan buku ini. Mungkin karena judul bukunya pun terlalu berani hehehhe.. (ini menurut pendapat salah seorang teman saya). Sehingga jadi daya tarik pertama orang ingin membaca buku ini.Ternyata saat mereka membaca buku Kanker Bukan Akhir Dunia pun menjadi penasaran ingin membaca sampai habis. Syukurlah respon mereka sangat baik untuk buku ini. Buku ini bisa menjadi sebuah buku motivasi, kesehatan sekaligus pengetahuan bagi masyarakat khususnya kaum perempuan untuk lebih mengenal kanker.
Oh ya, saya pun berkesempatan memberikan buku Kanker Bukan Akhir Dunia kepada orang-orang terdekat, antara lain keluarga, sahabat dan para dokter yang merawat saya selama ini. Salah satunya saya memberikan buku ini kepada pakde dan bude tercinta saya.
Pakde dan bude saya ini merupakan orang yang juga sangat berjasa dalam hidup saya. selama saya kuliah di Universitas Brawijaya dan tinggal di Malang, pakde dan bude yang menjadi pengganti orangtua saya disana. Saya sudah menganggap rumah pakde dan bude sebagai rumah kedua saya di Malang. Jadi jangan heran kalau saya suka sekali nongol ke rumah pakde bude, khususnya kalau lagi pengen makan yang enak hihihih..
Ya, masakan buatan bude memang terkenal enak dan bergizi heheehe.. khususnya bagi anak perantauan seperti saya kala itu :D wah, pokoknya banyak sekali kenangan yang tidak terlupakan selama di Malang.
Menikmati Kuliner Ala SABINDO
![]() |
| Kedai Sabindo Samarinda |
Samarinda merupakan ibukota Kalimantan Timur yang terkenal dengan keunikan dan ciri khasnya. Ada beberapa tempat yang menarik dan bisa dikunjungi, saat Anda berkunjung ke Kota yang terkenal dengan nama Tepian. Tempat tempat itu pernah saya bahas di blog ini yaitu 7 tempat yang harus dikunjungi saat ke Samarinda.
Sebenarnya, Samarinda pun terkenal dengan surganya kuliner yang menguggah selera. Apabila mau berkeliling Samarinda, Anda akan menemukan berbagai tempat kuliner dengan berbagai ciri khas. Maklum saja, penduduk Samarinda memang sangat homogen karena terdiri dari berbagai suku yang hidup damai berdampingan. Salah satu tempat kuliner yang mau saya bahas yaitu Sabindo.
Tempat kuliner yang terletak di pinggir jalan raya Jl. pembangunan Samarinda memang cukup menarik perhatian saya. Setiap kali saya melewati Sabindo, tempat itu selalu ramai dan penuh pengunjung yang ingin menikmati kelezatan kulinernya. Akhirnya rasa penasaran saya terjawab sudah, saat beberapa waktu lalu saya berkesempatan berkunjung ke sana. Sabindo sendiri berasal dari kata Sabah Indonesia. Jadi memang menyedikan makanan khas Sabah atau Malaysia dan Indonesia. Walau begitu ada pula makanan dari negara lain seperti Thailand.
![]() |
| Nasi Goreng Pattaya dan Milo pesan Arya |
Cara Mengirimkan Baby Stories di Tabloid Mom & Kiddie
Alhamdulillah, akhirnya salah satu tulisan saya tentang cerita Luthfi di muat di Tabloid Mom & Kiddie edisi terbaru. Senangnya :) # sambil loncat loncat gembira ehehehhe..Sebenarnya tulisan ini ada kali keduanya tulisan saya di muat di Mom & Kiddie. Sekitar dua tahun lalu, tulisan tentang Raisyah pernah pula di muat di tabloid untuk ibu dan anak ini. Tulisan tentang Raisyah itu bercerita mengenai hebohnya Raisyah menemanin saya masak.
Kebetulan Raisyah memang suka nasi goreng. Jadi kami berdua membuat pola nasi goreng berbentuk muka panda yang lucu. hihihihi.. Nah kalo mengenai tulisan luthfi, nanti akan saya posing khusus ya..
Sekarang saya akan menuliskan syarat syarat mengirimkan baby stories ke tabloid Mom and Kiddie. Kebetulan beberapa teman menanyakan kepada saya tentang hal ini.
Syarat syarat tulisan Baby Stories :
1. Tuliskan cerita kejadian lucu, unik atau mengharukan bersama si kecil
2. Kirim cerita ke redaksi Mom & Kiddie atau bisa pula email ke : efa.trapulina@gmail.com
3. Kirim cerita bersama alamat dan nomor telpon anda.
4. Jangan lupa lampirkan foto si kecil paling keren atau foto Anda bersama si kecil.
Mudahkan caranya.. hehehe..
oh ya, saya juga salut terhadap redaksi Mom & Kiddie. Setiap cerita yang akan dimuat, pasti akan mendapatkan email pemberitahuan balasan. Saya sendiri sudah dua kali mendapatkan email tersebut, yaitu saat cerita tentang Raisyah dan Luthfi ini. Jadi udah bisa woro woro pakai toa ke keluarga dan teman teman, untuk beli tabloid Mom Kiddie yang memuat wajah imut Luthfi hihihihi...
Ayo.. silahkan di coba yaaa
Selamat Ulang Tahun, Bapak
Apakah Mama Akan Meninggal?
Dialog antara Seorang Lelaki dan Anak Perempuannya

Dalam sebuah percakapan antara seorang laki-laki dan anak perempuannya. Laki-laki itu bercerita pada anaknya tentang kehidupannya. Ia berasal dari keluarga tidak mampu. Tinggal si sebuah pulau kecil dekat pulau jawa, yaitu pulau Madura. Bahkan sejak kecil, ia bersama ketiga saudaranya telah yatim piatu.
Kehidupan yang susah telah ia jalanin sewaktu kecil. Karena kesuliatan ekonomi kala itu, beliau sempat merasakan memakan nasi kerak untuk pemenuhan kebutuhan perut sehari-hari bersama keluarganya.
Keinginan hidup lebih baik membuatnya pergi merantau ke pulau kalimantan. Dari sinilah perjuangan hidup kembali ia mulai.
Merantau di daerah baru membuatnya lebih survive.apalagi perbedaan kultur dari tempat lahirnya,membuatnya harus beradapsi dan bersosialisasi lebih baik.
Setelah bertahun-tahun ia bekerja, ia pun bertemu seorang perempuan menawan yang kemudian menikah dan mendapatkan buah hati tercinta dari pernikahannya. Salah satunya adalah anak perempuan.
Semua tetap berjalan seperti biasa. Ia tetap bekerja membangun usaha bersama istrinya. Tiada yang mudah dalam hidup ini. Namun bila dilakukan dengan iklas, sungguh-sungguh demi keluarga dan mengharapkan Ridho Allah SWT, semuanya akan selalu ada jalan.
Ia memilih membangun usaha sendiri. Jatuh bangun berbisnis pernah ia rasakan, sampai keberhasilan akhirnya telah di raih.
"Keberhasilan itu berasal dari sebuah proses, bukan langsung instan."Begitu ucapnya pada anak perempuannya.
Ia bercerita pula bahwa dalam sebuah bisnis kadang ada kalanya kita untung,kadang impas, bahkan kadang rugi. Dalam berbisnis pun kadang teman bisa menjadi lawan, kadang lawan bisa menjadi teman. Semua tergantung bagaimana kita mengatasinya.
Pernah ia bercerita berbisnis dengan seorang teman. Awalnya bisnis itu selalu menghasilkan untung, namun pada akhirnya bisnis itu tidak untung bahkan merugi dikarenakan ada kecurangan dari temannya tersebut.
"Lalu, apa yang bapak lakukan?" Tanya anak perempuannya.
awalnya ia merasa sangat terkejut dan kecewa. Kepercayaan selama ini yang ia berikan, ternyata dikhianati oleh rekan bisnisnya. Tapi semua ia kembalikan kepada Allah. Dan ia mulai intropeksi diri.
Ternyata dalam berbisnis,kita tetap harus bersikap hati-hati terhadap berbagai resiko. Sebagai seorang pengusaha, tidak bisa langsung kepercayaan penuh kepada rekan bisnis ataupun karyawan. Kita perlu melakukan controling terhadap usaha kita. Bisa jadi,hal itu terjadi karenanya kurangnya kontrol terhadap usaha.
"Bagaimana sikap bapak terhadap rekan bisnis bapak itu?" Kembali anak perempuannya mencercanya dengan sebuah pertanyaan.
Sebuah "Rahasia" keberhasilannya berbisnis selama ini akhirnya terungkap dari cerita ini.
Bila rekan bisnis itu tidak mau bertanggung jawab,maka iklaskan saja. Karena ada Allah yang akan mengaturnya. Tapi point terpenting tetap jalin silaturahmi dengan nya. Walaupun mungkin tidak untuk melakukan bisnis bersama kembali sementara waktu. Silaturahmi tetap harus berjalan. Karena dari tetap bersikap positif menghadapi semuanya, maka akan dipeoleh hikmah dari itu semua.
Anak perempuan itu tertegun mendengar bapaknya.
Dan satu lagi "Rahasia" Keberhasilan laki-laki itu. Ia selalu berusaha bersikap baik dan membantu kepada semua orang. Didikan orang tuanya untuk selalu berbuat kebaikan, melekat kuat di dirinya.
Ia berkata kembali kepada anaknya,
" bersikap baik lah dan membantu kepada orang lain. Tebar silaturahmi dan komunikasi kepada mereka. Mungkin sekarang bapak tidak mengharap banyak balasan dari itu semua. Tapi bapak percaya, benih yang bapak tanam sekarang bisa saja nantinya akan bapak atau mungkin anak-anak bapak tuai." Katanya bijak.
Anak perempuan itu kembali tertegun. Dia mencoba meresapi apa yang dikatakan oleh bapaknya. Anak perempuan itu memilih jalan sebagai pembisnis, sama seperti jalan yang dilakukan bapaknya dulu. Dan di kala kesulitan menerjang, ada saja kemudahan-kemudahan yang tiba-tiba datang. Ya, mungkin itu maksud bapak dengan menuai sekarang.
"Anakku, renungkan hal ini. Bila kau ingin berbisnis sukses secara cepat, maka benahi sistem bisnismu. Bila kau ingin berbisnis 5-10 tahun mendatang, maka benahi managemenmu. Namun bila kau ingin berbisnis sepanjang waktu, maka perkuat silaturahmi dan jaringan." Nasihatnya kembali kepada anak perempuannya.
Perbincangan itu masih selalu terngiang-ngiang di telinga si anak perempuan. Langkah yang dipilih sebagai pengusaha untuk mengurusi bisnis adalah karena mengalir darah bapaknya. Padahal sebelumnya ia tidak pernah bercita-cita jadi pengusaha. Namun, langkah itu mulai menguat ketika ia menikah.
"Menjadi pengusaha itu perlu kesiapan mental dan fisik." Kata bapaknya,"Bapak tidak pernah memaksa anak bapak mengikuti jejak bapak sebagai pengusaha. Semua bapak kembalikan kepada anak-anak bapak. Bila salah satu diantara anak-anak bapak memang akhirnya memilih menjadi seoang pengusaha, berarti ia telah siap mental sebagai seorang pengusaha".
Dan salah satu diantara anak bapak itu adalah anak perempuannya, yaitu aku.
Dari bapak aku mulai belajar tentang bagaimana berbisnis seharusnya. Setelah menekuni bisnis sendiri, aku baru mengerti betapa mulianya usaha sebagai pengusaha untuk memenuhi kehidupan tidak hanya keluarganya tetapi juga untuk karyawan.
Kesulitan dan kemudahan dalam berbisnis yang kualami, juga pernah dialami bapakku. Intinya tetap fokus berusaha, bersikap positif dan kembalikan semuanya kepada Allah swt apapun hasilnya nanti.
Dari bapaklah, aku belajar banyak tentang kehidupan. Bukan hanya filosofi yang di bagikan seorang bapak kepada anaknya. Tetapi lebih dari itu, bagaimana menjadi seorang pengusaha yang bermoral, berhasil, dan memiliki keimanan kuat. Mudah-mudahan aku bisa menjalaninya... Amin..
Notes :
Tulisan ini kupersembahkan tulus
Untuk bapakku. Dengan rasa hormat dan bangga menjadi anak sekaligus murid kepada bapak...
Semoga allah selalu melimpahkan kesehatan dan kemudahan untuk bapak dan mama dirumah. Amin...
Bontang, 3 Desember 2010
Pukul 23.45 wita..
BLOG OF THE MONTH
ABOUT ME
- Tri Wahyuni Zuhri
- Mom - Writer - Blogger - Survivor Cancer - Author "Kanker Bukan Akhir Dunia"
KONTAK
Popular Posts
-
Sebenarnya sejak lama saya ingin menuliskan mengenai hal ini. Namun, saya baru sempat merealisasikan tulisan ini sekarang. Mengingat beg...
-
Jadi ceritanya begini, Sejak menyandang status emak dengan para krucils yang super heboh (ceileee), saya jadi semakin sibuk banget alia...
-
14 Pertanyaan Sebaiknya Tidak ditanyakan pada Pasien Kanker Bagi sebagian besar masyarakat masih menganggap penyakit kanker menjadi momok...
-
Kali ini saya akan menulis hal yang lebih serius dari biasanya, tentu saja terkait asalah kanker. Saat di diagnosa penyakit kanker t...
-
Rasanya senang sekali saya bisa berkenalan lebih dekat dengan teman-teman blogger dan menuliskan kisah mereka di blog saya. Selalu ada ...
KATEGORI
Followers
Kanker Bukan Akhir Dunia
Pesan Online : email triwahyunizuhri@gmail.com


















