Showing posts with label keluarga. Show all posts
Showing posts with label keluarga. Show all posts

Terima Kasih Kai


Beberapa hari lalu, saya tanpa sengaja menemukan kembali salah satu buku yang di tulis almarhum kai (kakek) saya, H. Muhammad Noor, ARS. Buku ini berada di antara koleksi buku-buku perpustakaan saya. Sebuah buku yang bercerita tentang sejarah perjuangan Raja Alam Sultan Alimuddin.

Pikiran saya kembali melayang ke sekitar 20 an tahun lalu. Waktu itu saya masih berseragam merah putih. Saya masih ingat, kerap kali menghabiskan waktu bermain di rumah kai.

Kai memiliki halaman yang luas dan penuh dengan tanaman dan bunga yang rajin di rawatnya. Bagi anak perempuan seusia saya,  berada di halaman kai itu sama halnya mengobarkan semangat saya. Yang saya ingat, ada tanaman bunga melati dan bunga kenanga yang harum baunya,  menghiasi halaman. Hal ini membuat saya dan cucu-cucu kai lainnya, betah berlama-lama memandang halaman rumah kai.

Namun, ada lagi hal menarik yang bisa di temukan di rumah kai. Ya, kai memiliki koleksi buku-buku lengkap dan membuat saya selalu betah membacanya. Apalagi sembari membaca buku tersebut, saya bisa mengamati kai yang sibuk mengetik di di depan mesin ketik kesayangannya.

Jujur, dari pengalaman itu yang sangat berkesan di benak saya. Saya bisa melihat bagaimana binar mata kai ketika menekuni tulisannya di atas tuts mesin ketik. Setiap ketikan tuts mesin ketik, seakan menari-nari di kepala saya, dan mengajak saya untuk menulis juga.

Dan puncaknya, saya melihat berbagai karya tulis kai, termasuk buku sejarah perjuangan Raja Alam Sultan Alimuddin.  Dalam hati saya pun berjanji, kelak saya akan juga menulis dan membuat buku. Walaupun saya tidak tahu bagaimana kelak hal itu akan terwujud. Namun, satu hal yang saya yakini, semua impian itu akan terwujud dengan usaha dan kerja keras.

Terima kasih Kai, telah mengenalkan indahnya jendela dunia melalui buku dan tulisan..


Ketika Asisten Mudik Lebaran


Dua bulan yang lalu...

"Mba, jadi mudik lebaran tahun ini?"tanya saya memastikan kepada asisten rumah tangga saya.

Mba Is, asisten rumah tangga saya tersebut menganggu.

"Jadi, bu. Saya jadi mudik ke kampung", ujarnya sumaringah.  Ada senyum tersungging di bibirnya.   

Sebenarnya saya sendiri sudah memprediksi kalau mba Is akan ijin untuk mudik lebaran tahun ini.  Mengingat dua tahun sudah,  mba Is tidak pulang kampung.   Pasti membuat rindu keluarga dan kampung halaman  yang semakin membara dalam dirinya.

Saya pun telah menyiapkan tiket pulang pergi untuk mbak Is mudik ke kampung.  Saya harus memastikan kalau mba Is bisa nyaman dalam perjalanan dan sampai dengan selamat sampai ke kampungnya.   hmm.. sebenarnya lebih tepatnya, untuk lebih memastikan kalau mba Is bakal balik lagi ke rumah saya setelah mudik :D   Tidak mudah lho, jaman sekarang mencari asisten yang cocok dan bertahan lama.

Sedikit mengulik masa lalu, keberadaan mba Is sang asisten ini memang sangat memberi warna dalam kehidupan kami. Kurang lebih hampir 6 tahun, mba Is menjadi asisten saya. Kehadiran mb Is memang sudah saya anggap bagian dari keluarga saya sendiri.

Apalagi sejak saya harus menjalani terapi dan pengobatan kanker, yang membuat saya sering berobat atau menginap di rumah sakit. Praktis, mba Is menjadi kepercayaan saya untuk mengurus rumah dan keperluan anak anak di rumah. 

Rencana mudik mba Is selama minggu ke kampung, jelas membuat saya harus mengatur strategi untuk mengurus rumah  dan anak-anak.  Yang jelas untuk sementara waktu, saya dan anak-anak terpaksa mengungsi ke rumah orang tua saya.  Hehehehe.   Di samping itu juga, saya meminta anak-anak untuk lebih mandiri dan membantu urusan di rumah dan keperluan mereka masing-masing. 

Untung saja, anak-anak bisa paham dan mengerti dengan kondisi yang ada.  Saya membagi tugas mereka dengan sewajar-wajarnya.  Apalagi untuk sementara waktu, kami mengungsi kerumah orang tua saya.  Tentu saja, saya tidak ingin terlalu merepotkan orang tua di rumah. 

Tugas pertama yang saya bagi kepada anak-anak yaitu membersihkan tempat tidur masing-masing ketika bangun tidur.  Selain itu, Arya dan Raisyah bergantian untuk menyapu rumah dan membersihkan kamar mandi.  Mereka pun sepakat untuk saling membantu kakek dan nenek bila membutuhkan bantuan mereka.

Lupi si bungsu juga ternyata berusaha bersikap mandiri dan tidak merepotkkan kakak-kakaknya.  Lupi sudah membiasakan diri untuk mandi dan memakai pakaian sendiri. Hanya saja, bila Lupi mau BAB, terpaksa kedua kakaknya yang bergantian untuk membersihkan BAB nya.  Ternyata dengan keadaan asisten mudik lebaran ini, anak-anak bisa menunjukkan tanggung jawab dan kemandirian.

Jujur saja, saya terharu sekaligus merasa bangga dengan kemandirian anak-anak.  Dalam kondisi fisik saya yang terbatas aktifitas ini,  tidak membuat mereka sedih dan bingung melakukan aktifitas di rumah tanpa kehadiran mba Is. Mereka bahkan berusaha bahu membahu untuk saling membantu satu sama lain.  Saya terus berdoa dan berharap, mereka akan tetap rukun dan saling membantu sampai kelak mereka dewasa.



Selamat Hari Raya Idul Fitri

Assalamualaikum wr wb

Kami sekeluarga mengucapkan :

Selamat Hari Raya Idul Fitri
Minal Aizin Wal Faizin
Mohon maaf Lahir dan Batin


Tri Wahyuni Zuhri & Keluarga
Samarinda - Kaltim

Selamat Hari Ayah Nasional, Bapak...


Lupi dan Biskuit Khong Guan

# Lupi dan Khong Guan

Lupi, anak bungsuku ini memang agak beda dengan kakak-kakaknya.  Lupi suka sekali makan biskuit Regal dari Khong Guan yang di celupin ke teh manis hangat.

Kalo melihat Lupi asyik menikmati kudapan seperti ini,  mau tak mau mengingatkanku di masa lalu.  Ya, almarhum kakek nenekku suka pula melakukan hal yang sama seperti Lupi.  Begitu pula dengan bapakku yang juga kakek Lupi. Hehehhe..

Khong guan memang selalu mengingatkan pada berbagai memori memori indah.  Belum lagi kala lebaran jaman dulu tiba.  Khong guan menjadi semacam trend yang harus ada di keluarga kami ^_^


Ketika Jujur tentang Kanker kepada Anak

Saya acap kali mendapat pertanyaan dari orang lain mengenai anak-anak saya. Khususnya pertanyaan yang terkait bagaimana keterbukaan dan kejujuran saya mengenai penyakit kanker yang saya derita kepada anak-anak.
Kalau mau saya list, mungkin berikut ini pertanyaan-pertanyaan yang sering di tanyakan :
- Apakah anak-anak tahu kalau saya terkena kanker?
- Apakah anak-anak tahu penyakit kanker itu apa?
- Bagaimana perasaan mereka saat tahu saya terkena kanker?
- Bagaimana keadaan sehari-hari di lalui bersama anak-anak setelah tervonis kanker?
- Apakah mereka tahu tentang pengobatan kanker yang saya lakukan?
- Bagaimana perasaan mereka bila melihat saya sedang drop atau lagi down?
- Seberapa pentingnya mereka tahu mengenai kanker yang saya derita?
- ...... dan banyak lagi pertanyaan
Jujur, memberitahu dan menjelaskan kondisi saya kepada anak-anak merupakan hal yang terberat di banding saya menerima vonis kanker pertama kalinya.  Bila dulu saat menerima vonis kanker, saya harus berperang dengan diri sendiri dalam.proses penerimaan.  Namun, akan jauh berbeda saat berhadapan dengan anak-anak tercinta.
Saya menghargai pilihan dari sebagian teman-teman survivor kanker yang lebih memilih menyimpan rapat-rapat kondisi mereka dari anak anak atau keluarga.  Begitu pula saya menghargai pilihan mereka untuk lebih terbuka kepada anak-anak dan keluarga.
Saya sendiri adalah seorang survivor sekaligus seorang ibu yang memilih bersikap terbuka kepada  anak-anak.  Semuanya itu tentu saja dengan berbagai macam pertimbangan dan alasan yang cukup dalam. 
Berbagai alasan itu antara lain saya ingin anak-anak lebih memahami kondisi saya saat ini. Dengan begitu saya bisa mengajarkan arti perjuangan, dukungan dan semangat kepada mereka.  Dengan mengetahui lebih mengenai kanker langsung dari saya, mereka akan lebih paham mengenai kanker itu sendiri. Bahwa kanker bukan akhir dunia. Saya sebagai ibu mereka tetap bisa memberikan kasih sayang dan kekuatan kepada mereka.  Dan tentu saja berbagai alasan lainnya.
Kalau ada pula yang bertanya, apakah saya sedih ketika anak anak harus melihat kondisi saya sakit seperti ini? Jujur, saya jawab kadang hal itu terlintas dalam pikiran saya.  Kalo boleh terbuka saya bertanya, seandainya ada orang yang berada di posisi saya, tentu akan merasakan hal yang sama seperti saya.
Tetapi..
Sekali lagi saya katakan.. hidup ini adalah pilihan. Okelah kalau saya memang tidak bisa memilih untuk menghindari tervonis kanker.  Tetapi setidaknya saya bisa memilih bagaimana mengisi dan menjalani hari-hari saya bersama anak-anak. 
Selagi allah memberikan nafas untuk saya, berarti allah pun memberikan kesempatan kepada saya untuk terus berbagi dan berbuat baik.  Allah pun memberikan kesempatan kepada saya untuk mengisi hari-hari saya yang penuh keceriaan dan kebahagiaan bersama anak-anak.
Hingga terus dalam hati mereka terparti rasa betapa besar cinta dan kasih sayang saya kepada mereka.......
Samarinda, 23 Oktober 2015

Selamat Idul Adha

Assalamualaikum Wr. Wb
Kami Sekeluarga Mengucapkan :

Selamat Idul Adha
Mohon Maaf Lahir Batin

-TRI WAHYUNI ZUHRI & KELUARGA -


Kebakaran Itu Menyisakan Cerita

Kebakaran kemarin sore yang menembus gang tempat kami tinggal, menyisakan rasa sedih dan kenangan yang tidak mungkin terlupakan.

Saya masih ingat bagaimana Arya memanggil saya dan memaksa saya keluar luar karena posisi kebakaran yang sudah nyaris mendekati rumah. 

Kondisi saya yang kurang fit, membuat saya harus berjuang untuk bisa mencapai pintu depan rumah. Beruntung para tetangga langsung sigap dan memapah saya. Saya pun langsung berteriak pada Arya agar segera membawa Lupi ke tempat yang aman.

Syukurlah, Allah masih melindungi kami sekeluarga. Terima kasih kepada para tetangga yang telah membantu serta tim pemadam kebakaran Samarinda yang sigap memadamkan api.

Walau begitu, ada tersirat rasa sedih mendalam karena beberapa rumah tetangga turut terbakar :'(

Surat Untuk Anakku, Luhtfi : Genggamlah Dunia dan Raih Impianmu Kelak

Selamat Ulang Tahun, Anakku
AHMAD LUTHFI RAMADHANI
ke - 4

LUTHFI,  Anakku...
Tidak terasa sudah bertambah satu tahun lagi usiamu..
Mama masih bisa membayangkanmu saat berjuang melahirkanmu.
Mama ingat, pagi itu mama sedang bersiap untuk operasi ceasar.
Sambil menunggu dokter dan perawat melakukan persiapan, mama terus berdoa bahkan mengaji dengan al quran kecil.



LUTHFI..
Kamu tahu, nak.. Surah apa yang mama baca? Ya, mama membaca surat Yusuf.  Mama ingat kata orang-orang, kalau tahu calon bayi itu laki laki, maka bacakanlah surah Yusuf..  agar kelak kau tumbuh sebagai anak yang sholeh, pintar, dan setampan nabi Yusuf.  Amin..

LUTFI,
Perjuangan melahirkanmu sungguh tidak mudah.  Bila banyak orang berpendapat kalau melahirkan ceasar itu mudah dan santai, ternyata mereka salah, anakku.  Baik melahirkan secara normal ataupun ceasar, butuh perjuangan hidup dan mati bagi seorang ibu.

LUTHFI,
Mama bisa mendengar apa saja yang di katakan dokter dan perawat yang membantu proses kelahiranmu.  Awalnya semua berjalan lancar, hingga ada satu ketika dokter bilang pada tim perawat ada perekatan pada rahim mama.  Ya, perekatan itu bisa terjadi setelah operasi ceasar kakakmu, Raisyah. 

LUTHFI,
Mama saat itu benar benar pasrah.. apalagi dokter dan tim perawat berjuang keras mengeluarkanmu dari perut mama.  Akibat perekatan di rahim itu, membuat mereka harus extra keras meluarkammu.  Mama hanya bisa pasrah dan memohon terbaik kepada Allah..

LUTHFI..
Akhirnya engkau bis lahir di dunia ini dengan sehat dan selamat.  Betapa bahagianya mama saat itu dan juga hingga saat ini.  Mama selalu berharap Luthfi bisa tumbuh sebagai anak sholeh dan berbakti.  Seperti doa doa yang mama dan papa selalu panjatkan kepada Allah untukmu dan saudara-saudaramu.. Amin

LUTHFI..
Mama pun berdoa untukmu.. agar kelak Luthfi bisa menggenggam dunia, mewujudkan mimpi dan meraih cita -citamu..
Jangan lupa untuk terus beribadah dan mengingat Allah, ya nak..

Menikmati Kuliner Bebek Goreng Pak Ndut Samarinda


Awal bulan Juni lalu, bertepatan dengan hari ulang tahun Afya, kami sekeluarga menikmati sajian kuliner Bebek Goreng Pak Ndut. Afya merupakan keponakan cantik saya yang sedang merayakan ulang tahunnya yang ke 11 tahun.

Acara syukuran ulang tahunnya di lakukan SLB (Sekolah Luar Biasa) di Samarinda Sebrang. Setelah itu, kami sekeluarga meluncur ke Rumah makan Bebek Goreng Pak Ndut di bilangan jl. AW. Syahranie Samarinda.

Tentu saja acara kuliner ini saya terima dengan bahagia. Selain bisa terus menjalin keakraban keluarga, sekaligus menikmati menu khas pak Ndut secara gratis hihihi.. maklumlah, kalau masalah traktiran makan gratis itu memang sangat mengiurkan, khususnya emak rempong seperti saya.

Hari itu merupakan yang kesempatan kedua kalinya saya makan di Rumah makan Pak Ndut. Kesempatan pertama dalam rangka traktiran pas kakak saya Dwin, yang juga bapaknya Afya ulang tahun. Hehehhee.. memang kakak saya sekeluarga demen banget sama kuliner di pak Ndut.

Areal Rumah makan pak Ndut di ini dibagi menjadi dua bagian untuk makan yaitu lesehan maupun tempat duduk. Halaman parkirnya pun sangat luas yang sanggup menampung banyak kendaraan para konsumen yang datang.

Nah, menariknya lagi, di areal tengah rumah makan terdapat ruang terbuka yang terdapat tempat untuk anak anak bermain. Kebetulan saya membawa Raisyah, jadi senang banget Raisyah bermain bersama Afya di sana.

Tibalah acara yang di nanti yaitu pemesanan menu makanan. Tentu saja menu bebek goreng menjadi pesanan kami sekekuarga. Trus mama saya menambahnya dengan tahu goreng yang rasanya maknyus. Sedangkan bapak memilih menu makan ayam goreng. Kebetulan bapak abis operasi by pass jantung, jadi memilih ayam goreng untuk sementara waktu hihihi..




Ketika Sakit Menguji Cinta


Sumber foto : google


Percayakah Anda dengan cinta sejati? Cinta yang saling mencintai satu sama lain serta  menerima kelebihan dan kekurangan satu sama lain. Cinta yang tidak akan berubah walaupun waktu telah beranjak pergi. Cinta yang akan terus sama, walau di terjang cobaan dan badai tidak terduga.

Ada banyak cerita yang kita sering dengar tentang cinta.  Cinta antara sepasang suami istri, cinta antara orang tua dan anak, atau cinta antara sesama manusia.  Cinta yang berbalut kisah-kisah romantis dan mengharukan, membuat kita menjadi percaya cinta itu sejati . Namun disisi lain, ada pula kisah cinta yang tidak sejalan dengan semestinya. Cinta yang seharusnya mengekalkan dan saling menguatkan satu sama lain. Ternyata tidak cukup kuat bertahan saat badai datang menerpa.

Kerap Kali kita dengar cerita, saat pasangan yang awalnya terlihat romatis dan harmonis, ternyata berpisah serta meninggalkan luka. Ya, salah satu alasannya karena ia tidak mampu menerima kondisi pasangannya saat ini.  Bila dulu mereka bersatu karena mengganggap pasangannya itu begitu sempurna dan sesuai. Namun saat, kondisi pasangan menjadi tidak seperti yang dulu, rasa cinta pun ikut-ikutan menguap.

Saya sering mendengar cerita dan bahkan menyaksikan sendiri, kekuatan cinta sepasang manusia yang saling mencintai, teruji karena badai yang bernama sakit yaitu sakit KANKER itu datang pada kehidupan mereka.  Kanker, sebuah penyakit yang begitu di takuti ternyata di derita salah satu pasangan tersebut.  Kanker tidak hanya merampas kesehatan dan kekuatan fisik penderita. Kanker pun mampu mengoyak-ngoyak keutuhan perasaan cinta pasangan yang tidak terlalu kuat.


Ada saja suami yang tidak sanggup merawat dan menemani istri karena sang istri terkena sakit kanker. Ia hanya mengeluh dan menganggap istri yang sakit menjadi sebuah beban.  Atau bahkan yang lebih parah, ia meninggalkan sang istri yang memerlukan dukungan suami, dan memilih perempuan lain.  Begitu pula cerita seorang istri yang tidak tahan mengurus suami yang terkena kanker. Disamping ia harus merawat suami, ia pun harus berfikir membantu mencari nafkah keluarga. Hal itu pula yang membuatnya tidak terima kondisi tersebut.

Apakah seperti itu mekanisme kekuatan cinta bekerja? Tentu saja bukan itu caranya. Jika sepasang manusia saling mencintai, mereka akan saling menjaga dan mengasihi walaupun badai menghadang. Seperti dua kisah cinta menakjubkan yang saya temui.

Adalah kisah Ibu Lina (bukan nama sebenarnya) yang merupakan pasien kanker rahim. Di usianya yang tidak lagi muda dan fisik yang tidak sekuat dulu, memang tidak mudah  menjalani vonis kanker.  Ibu Lina harus menjalani berbagai pengobatan kanker, yang tidak hanya menguras waktu dan biaya. Tetapi juga berdampak pada kesehatan fisiknya.
Setiap kali pertemuan kami, saya selalu dibuat terharu dengan dukungan orang-orang terdekat bu Lina. Suami dan anak-anaknya bergantian mengurusi bu Lina. Bahkan hampir seluruh rumah sakit mengetahui hal tersebut.

Tidak pernah terbersit sedikit pun di benak suami untuk meninggalkan istrinya. Bahkan suami dengan telaten dan sabar menemani dan merawat bu Lina.  Saya bahkan beberapa kali melihat secara langsung bagaimana kedua pasangan suami istri ini saling menyayangi satu sama lain.


Kondisi sakit kanker sang istri tidak meruntuhkan cinta suaminya.  Apalagi secara kondisi fisik bu Lina yang berubah karena berbagai pengobatan salah satunya kemotrapi yang menimbulkan berbagai efek seperti rambut rontok, tubuh lemas tidak berdaya.  Namun semua tidak bisa mengalahkan kekuatan cinta suami untuk memberikan perhatian kepada istrinya. Bu Lina pun semakin semangat untuk menjalani pengobatannya.

Kisah lain juga mengharukan yaitu cerita seorang istri yang iklas mendampingi suami yang tervonis kanker stadium akhir. Kehidupan Ibu Enny (bukan nama sebenarnya) dan keluarganya berubah drastis saat sang suami tervonis kanker stadium akhir.
Suami yang biasanya menjadi kepala keluarga dan pencari nafkah, harus terbaring lemah dalam menjalani pengobatan kanker.  Ibu Enny memilih terus mendampingi suami dengan setia. Ia pun mengambil alih roda keuangan keluarga dengan menjalankan usaha kecil-kecilan.

Cinta yang terjalin sejak menikah, tidak akan pudar, walaupun sang suami sudah tidak segagah dan sekuat dulu.  Bu Enny sadar, dengan dukungan serta kekuatan cinta yang ia dan anak-anak berikan, akan menambah semangat  suami untuk sembuh.

Tidak ada rasa kesal ataupun marah pada diri Bu Enny saat harus merawat dan menjaga suaminya.  Penyakit kanker terkadang membuat suaminya menjadi lebih sensitif dan emosi. Namun hal itu tidak terlalu di pikirkan bu Enny .  Dengan sabar, ia mendampingi suaminya dalam kondisi sulit seperti ini .

Dari kedua kisah diatas, ternyata banyak hikmah yang bisa diperoleh. Kekuatan cinta bisa menguatkan seseorang dalam melawan penyakit ganas seperti kanker.  Cinta sejati tidak akan berubah walaupun waktu berjalan ataupun badai datang menerpa.  Cinta sejati itu masih selalu bisa kita temukan di mana saja.




Berbagi Kebahagiaan di Syukuran Ultah Keponakan


Hari Selasa, 9 Juni 2015, merupakan hari yang spesial buat Afya. Hari ini Afya genap berusia 11 tahun. Afya adalah keponakan saya yang merupakan anak dari kakak kedua saya.  Kedua orang tua Afya ingin mengadakan acara syukuran untuk ulang tahun Afya dengan cara berbeda. Ya, kakak dan kakak ipar  saya itu lebih memilih mengadakan syukuran di SLB (Sekolah Luar Biasa) di Samarinda Sebrang.

Beberapa hari sebelumnya, Afya sudah bilang ke kami untuk hadir di acara syukuran ulang tahunnya, khususnya kepada kai neneknya.  Alhamdulillah tadi pagi sekitar jam 9 pagi, kami berkumpul semua di sekolah SLB.

Terlihat banyak anak anak dengan wajah ceria menanti ke datangan kami sekeluarga.   Afya pun tampak cantik dengan baju serba pink. Begitu pula dengan Raisyah yang ikut hadir menemani Afya.


Acara di buka oleh salah satu guru SLB dan dilanjutkan dengan pembacaan doa.  Selanjutnya acara santai yaitu perwakilan siswa SLB maju ke depan untuk menyanyi.  Ada rasa haru dan kagum saya kepada anak anak tersebut.  Walaupun kondisi mereka tidak senormal seperti anak anak pada umumnya, tetapi mereka memiliki semangat dan keberanian yang luar biasa.


Catatan Seorang Ibu Yang Lagi Sensitif

Selama menjadi seorang survivor kanker, tentu banyak hal yang berubah dalam hidup saya. Salah satu perubahan yang cukup signifikan yaitu pada kemampuan fisik khususnya dalam hal berjalan dan bergerak. Saya pun banyak terbantu oleh tongkat, korset ataupun kursi roda kalau perjalanan jauh.

Penyakit Kanker yang sudah bermetase ke tulang belakang, memang cukup menganggu mobilitas gerak menjadi lebih lambat, ataupun kesulitan naik tangga walaupun hanya beberapa jejak tangga. Ya, saya tetap terus bersyukur, masih bisa melakukan aktifitas terbatas, mengingat saya pernah nyaris lumpuh beberapa waktu lalu .

Nah, ada saja hal-Hal yang menarik, lucu atau bahkan menyedihkan tentang ini. Salah satunya saya alami beberapa waktu lalu . Saat itu Raisyah mengalami sakit batuk yang tidak kunjung sembuh. Akhirnya saya memutuskan untuk membawanya ke salah satu klinik praktek dokter umum .

Saya sudah lama tidak ke klinik tersebut, karena selama ini saya lebih banyak berobat langsung kerumah sakit umum. Singkat cerita saat mendaftar di bagian pendaftaran, mba yang bertugas meminta saya mengisi data pribadi Raisyah.

"Sebentar ya, bu. Ibu nanti naik Tangga ke lantai dua. Dokternya praktek di lantai dua,"jelas si mba dengan wajah manisnya.

"Lho, bukannya praktek dokter umum cukup di lantai 1?"Tanya saya bingung sembari membayangkan betapa menguras energinya harus menyisiri naik ke lantai dua .

"Memang di lantai satu, bu. Tapi dokternya lagi Ada pasien di lantai dua, jadi sekalian semua pasien diarahkan kesana".

Saya terdiam sejenak,"begini mba, saya tidak bisa naik tangga karena adalah masalah pada tulang belakang. Syaraf saya terjepit. Apa bisa saya tetap berobat di lantai satu saja?"tanya saya.

"Bentar ya, bu. Saya tanyakan dulu,"kata si mba sambil menelpon ke lantai dua.

Tidak lama kemudian telah ada jawaban dari si mba,"iya bu. Tunggu saja ya. Nanti dokternya turun ke lantai 1,"jelas si mbak.

Saya pun bernafas lega dan membawa Raisyah menunggu di ruang tunggu dokter di lantai 1. Tak lama sang dokter turun dari tangga dan menuju ruang prakteknya.

Sebentar kemudian, nama Raisyah di panggil perawat dan kami berdua masuk kedalam ruangan.

"Maaf ya, dok. Saya tidak bisa naik tangga. Jadi nggak bisa menemui dokter ke lantai 2,"kata saya membuka pembicaraan. Dokter hanya membalas sekedarnya dan segera memeriksa Raisyah dengan teliti. Sambil menuliskan resep, saya pun bertanya lebih lanjut tentang sakit raisyah yang ternyata memang sakit batuk yang cukup mengganggu.

"Ibu sakit apa?"tanya si dokter tiba-tiba. Terus terang saya cukup kaget dengan pertanyaan di dokter. Mungkin dokter cukup penasaran kenapa saya tidak mau naik tangga untuk ke ruang prakteknya di atas.

"Oohh.. saya ada masalah ditulang belakang, dok. Seperti syaraf kejepit,"kata saya. Saya memang jarang mengungkapkan sakit kanker saya pada orang lain. Biasanya saya memang melihat situasi juga.

"Sakit syaraf kejepit itu jangan di biarkan, bu. Apalagi ibu masih usia produktif, kalau sudah tidak bisa naik tangga, itu harus di waspadai,"jelas si dokter lagi.

"Maaf dok, saya masih bisa kok naik tangga. Tapi harus butuh tenaga extra,"aku saya dengan jujur.

"Iya, saya tahu bu. Tapi ibu kan masih usia produktif. Lain halnya kalau sudah nenek nenek. Wajar kalo susah naik tangga," kata si dokter lagi. Jlebb ! Alamak, kenapa pula dokter ngomongnya ngaitkan usia produktif saya dengan ketidak mampuan saya naik tangga secara normal.

Saya hanya diam sejenak mendengarkan penjelasan dokter yang panjang lebar tentang penyakit tulang belakang dan syaraf terjepit. Saya sempat berfikir, apa mungkin si dokter kesal ya karena saya tidak naik tangga menemui dia. Terlebih melihat kondisi saya yang masih muda seperti ini. Hhhmmm.. dalam hati saya juga sedikit menyesal, kenapa lupa bawa tongkat kebesaran untuk menandakan kalau saya memang sedang sakit. Hehehhe...

Cukup lama juga dokter dengan semangat berapi-api menjelaskan tentang masalah syaraf. Termasuk memberi masukan apa saja yang harus saya lakukan dalam berobat di usia masih produktif.

Memang dasarnya saya lagi sensitif Kali ya... berkali-kali dokter bicara ten tang kaitan usia produktif perempuan dengan ketidak mampuan bergerak normal, membuat saya cukup sensitif. Saya pun segera mengambil langkah dramatisir untuk menutup penjelasan dokter agar penjelasannya tidak melebar kemana-mana.

"Maaf dok. Syaraf kejepit saya bukan hanya karena Masalah tulang belakang. Saya seorang survivor kanker stadium lanjut yang sudah metase ke tulang belakang. Jadi itu yang membuat saya tidak bisa bergerak normal,"jawab saya pelan sambil menahan emosi.

Dokter tersebut langsung terdiam mendengar penjelasan saya barusan. Saya tangkap ada raut rasa bersalah di wajahnya. Mungkin ia merasa bersalah karena menceramahi saya panjang lebar tanpa tahu penyakit saya sesungguhnya.

"Oh maaf, bu. Saya tidak tahu kalau penyebabnya dari sakit kanker ibu,"jawabnya dengan pelan.

Saya hanya tersenyum mendengarnya. Dan dengan segera saya berpamitan keluar ruangan praktek sambil menggandeng Raisyah.

Perkataan dokter tentang usia produktif saya ternyata cukup mengusik saya. Walaupun saya tahu, si dokter menceramahi saya tanpa tahu kondisi sakit kanker saya terlebih dahulu. Mungkin kalau dari awal saya bilang sesungguhnya tentang kanker yang saya derita, tentu dokter itu tidak akan sesemangat itu menceramahi saya.

Saya melirik ke arah Raisyah yang sedari tadi tidak lepas menggandeng saya. Saya memang menbenarkan apa kata dokter itu. Di usia saya yang masih produktif ini, seharusnya saya bisa melakukan banyak aktifitas normal seperti layaknya ibu muda lainnya. Menemani anak, mengantar jemput anak sekolah, mengajak mereka jalan-jalan dan sebagainya. Tapi itu semua tidak bisa saya lakukan dengan baik mengingat kondisi fisik yang tidak memungkinkan.

Saya mulai merasakan hati terasa teriris iris kembali setelah sekian lama saya berusaha tetap tegar dengan kondisi yang ada. Kata-kata si dokter tadi cukup menghujam perasaan sensitif saya yang lagi lebay.

Sambil menunggu di bangku apotik, perlahan saya memeluk Raisyah sambil berbisik padanya,"Maafkan mama, sayang. Mama akan terus menyayangimu dengan cara mama sendiri". Tak terasa tetesan air mata itu jatuh di kedua pipi saya...


Antara Mama, Aku dan Kanker

"Pasti dokter salah. Penyakitmu bukan kanker!"kata mama masih tidak percaya. Air mata mulai membasahi pipi mama yang sudah mulai keriput.

Aku hanya terdiam tanpa bisa berkata apa-apa. Hari itu merupakan hari bersejarah sekaligus terberat bagi aku. Dengan menghimpun segala kekuatan, aku berani jujur pada mama dan bapak tentang sebuah penyakit yang terus menerus menggerogoti tubuhku.

Kanker, penyakit yang merenggut nyawa orang-orang yang kukenal, akhirnya harus lapang dada kuterima dalam tubuh.   Mama masih menangis.  Beliau sangat terpukul dengan sebuah kenyataan kalau aku, anak perempuan satu-satunya, terkena kanker yang sudah stadium lanjut.  Ya, kankerku sudah menyebar ke tulang belakang, yang membuatku selalu kesakitan setiap saat.

Lambat laun, mama dan bapak bisa menerima kondisiku.  Semua memang tidak mudah. Tetapi aku berusaha tetap tegar dan kuat melawan sakit kanker ini.  Aku tidak ingin melihat mama bersedih dan menangis, saat aku menahan sakit yang tidak terkira.  Atau saat aku harus terbaring lemah dan berdaya di atas tempat tidur.  Atau saat jarum-jarum infus menempel di tubuhku dan berbagai jenis obat harus aku minum.



"Mama sudah memasak untukmu. Kamu harus makan banyak. Biar tubuh tidak kurus sepert ini," kata mama kepadaku kala itu.  Di meja makan kulihat berbagai menu makanan telah susah payah mama siapkan dengan tangan dan tenaga yang semakin tua.

Aku memaksakan makan secara pelan-pelan. Walaupun perutku terasa di aduk-aduk tidak karuan, dan lidahku kelu tidak berasa. Belum lagi kepalaku pusing dan badanku serasa tidak bertenaga. Semua demi mama, aku harus makan masakan yang disajikannya dengan penuh doa dan cinta.

"Mama, aku tambah makan lagi ya,"ujarku sambil mengambil beberapa lauk dan menambahkan ke atas piringku. Kulihat sorot mama berbinar dan ia tersenyum melihat aku makan begitu lahap.

Kanker itu tanpa permisi mengambil selera makan dan kekuatan tubuhku. Tapi aku tidak mau kalah dengan si kanker ini.  Aku tetap berusaha menghabiskan isi makananku. Aku harus punya tenaga untuk melawan kanker itu.  Masakan buatan mama adalah salah satu modal kekuatanku melawan kanker.

Jujur, kadang aku merasa bahagia sekaligus sedih.  Bahagia karena Allah telah begitu baik memberikanku seorang mama yang luar biasa dan menyayangiku.  Sedih, karena aku merasa sampai sekarang sering membuat repot dan menyusahkan mama. Di usiaku seperti ini, aku seharusnya bisa membahagiakan mama, bukan menambah beban pikirannya dengan penyakit kankerku.

Mama selalu ada saat aku dalam keadaan down dan sedih.  Mama selalu ada saat aku mulai menahan sakit dan nyeri akibat kanker ini.  Mama pun selalu ada bersama anak-anakku dan sangat bahagia bersama mereka.

"Ketika punya anak, kamu akan tahu mengapa ibu akan melakukan apa saja demi anaknya.  Setiap saat mama berdoa untuk kesembuhanmu,"begitu kata mama suatu hari saat kami sedang berbagi cerita.  Ya, aku mulai mengerti apa maksud mama setelah menjadi seorang ibu dengan anak-anak yang super lincah.  Ah, seorang ibu memang seluas samudera.

Satu pintaku kepada Allah yang sering kupanjatkan dalam doa dan sholatku. Ijinkan aku terus bertahan dan berjuang penyakit kanker ini, agar aku bisa membalas semua kasih sayang mama yang tidak pernah terbatas...

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Hati Ibu Seluas Samudera




Buku Kanker Bukan Akhir Dunia bersama Orang-orang Tercinta

Alhamdulillah, banyak respon positif atas kehadiran buku Kanker Bukan Akhir Dunia ini. Jujur saja, saya tidak menyangka begitu banyak orang yang ternyata memperhatikan buku ini.  Mungkin karena judul bukunya pun terlalu berani hehehhe.. (ini menurut pendapat salah seorang teman saya).  Sehingga jadi daya tarik pertama orang ingin membaca buku ini.

Ternyata saat mereka membaca buku Kanker Bukan Akhir Dunia pun menjadi penasaran ingin membaca sampai habis.  Syukurlah respon mereka sangat baik untuk buku ini.  Buku ini bisa menjadi sebuah buku motivasi, kesehatan sekaligus pengetahuan bagi masyarakat khususnya kaum perempuan untuk lebih mengenal kanker.

Oh ya, saya pun berkesempatan memberikan buku Kanker Bukan Akhir Dunia kepada orang-orang terdekat, antara lain keluarga, sahabat dan  para dokter yang merawat saya selama ini.  Salah satunya saya memberikan buku ini kepada pakde dan bude tercinta saya.


Pakde dan bude saya ini merupakan orang yang juga sangat berjasa dalam hidup saya.   selama saya kuliah di Universitas Brawijaya dan tinggal di Malang, pakde dan bude yang menjadi pengganti orangtua saya disana.  Saya sudah menganggap rumah pakde dan bude sebagai rumah kedua saya di Malang.  Jadi jangan heran kalau saya suka sekali nongol ke rumah pakde bude, khususnya kalau lagi pengen makan yang enak hihihih..

Ya, masakan buatan bude memang terkenal enak dan bergizi heheehe.. khususnya bagi anak perantauan seperti saya kala itu :D  wah, pokoknya  banyak sekali kenangan yang tidak terlupakan selama di Malang.



Menikmati Kuliner Ala SABINDO


Kedai Sabindo Samarinda

Samarinda merupakan ibukota Kalimantan Timur yang terkenal dengan keunikan dan ciri khasnya. Ada beberapa tempat yang menarik dan bisa dikunjungi, saat Anda berkunjung ke Kota yang terkenal dengan nama Tepian. Tempat tempat itu pernah saya bahas di blog ini yaitu 7 tempat yang harus dikunjungi saat ke Samarinda. 


 Sebenarnya, Samarinda pun terkenal dengan surganya kuliner yang menguggah selera. Apabila mau berkeliling Samarinda, Anda akan menemukan berbagai tempat kuliner dengan berbagai ciri khas. Maklum saja, penduduk Samarinda memang sangat homogen karena terdiri dari berbagai suku yang hidup damai berdampingan. Salah satu tempat kuliner yang mau saya bahas yaitu Sabindo. 


 Tempat kuliner yang terletak di pinggir jalan raya Jl. pembangunan Samarinda memang cukup menarik perhatian saya. Setiap kali saya melewati Sabindo, tempat itu selalu ramai dan penuh pengunjung yang ingin menikmati kelezatan kulinernya. Akhirnya rasa penasaran saya terjawab sudah, saat beberapa waktu lalu saya berkesempatan berkunjung ke sana. Sabindo sendiri berasal dari kata Sabah Indonesia. Jadi memang menyedikan makanan khas Sabah atau Malaysia dan Indonesia.  Walau begitu ada pula makanan dari negara lain seperti Thailand.
Nasi Goreng Pattaya dan Milo pesan Arya



Cara Mengirimkan Baby Stories di Tabloid Mom & Kiddie

Alhamdulillah, akhirnya salah satu tulisan saya tentang cerita Luthfi di muat di Tabloid Mom & Kiddie edisi terbaru.  Senangnya  :)  # sambil loncat loncat gembira ehehehhe..


Sebenarnya tulisan ini ada kali keduanya tulisan saya di muat di Mom &  Kiddie.  Sekitar dua tahun lalu, tulisan tentang Raisyah pernah pula di muat di tabloid untuk ibu dan anak ini.  Tulisan tentang Raisyah itu bercerita mengenai hebohnya Raisyah menemanin saya masak.


Kebetulan Raisyah memang suka nasi goreng. Jadi kami berdua membuat pola nasi goreng berbentuk muka panda yang lucu. hihihihi..  Nah kalo mengenai tulisan luthfi, nanti akan saya posing khusus ya..

Sekarang saya akan menuliskan syarat syarat mengirimkan baby stories ke tabloid Mom and Kiddie.  Kebetulan beberapa teman menanyakan kepada saya tentang hal ini.
Syarat syarat tulisan Baby Stories :
1. Tuliskan cerita kejadian lucu, unik atau mengharukan bersama si kecil
2. Kirim cerita ke redaksi Mom & Kiddie atau bisa pula email ke  : efa.trapulina@gmail.com
3. Kirim cerita bersama alamat dan nomor telpon anda.
4. Jangan lupa lampirkan foto si kecil paling keren atau foto Anda bersama si kecil.
Mudahkan caranya.. hehehe..

oh ya, saya juga salut terhadap redaksi Mom & Kiddie. Setiap cerita yang akan dimuat, pasti akan mendapatkan email pemberitahuan balasan. Saya sendiri  sudah dua kali mendapatkan email tersebut, yaitu saat cerita tentang Raisyah dan Luthfi ini.   Jadi udah bisa woro woro pakai toa ke keluarga dan teman teman, untuk beli tabloid Mom Kiddie yang memuat wajah imut Luthfi hihihihi...

Ayo.. silahkan di coba yaaa

Selamat Ulang Tahun, Bapak



Ada yang berbeda di ulang tahun Bapak pada tahun ini.  Ya, tahun ini usia bapak bertambah 1 tahun menjadi 64 tahun.  Yang berbeda, yaitu aku tidak ada di samping bapak saat bapak merayakan ulang tahun tersebut bersama mama, saudara, dan anak-anakku.  Tidak seperti tahun kemarin, aku turut menyaksikan dan bersuka cita merayakan ulang tahun bapak.  Tahun ini, aku hanya bisa mengucapkan selamat ulang tahun lewat telpon kepada Bapak. Tentu saja aku meminta doa khusus kepada Allah untuk kebahagiaan dan kesehatan bapak serta mama. Satu doa khusus lagi, aku memohon kepada Allah agar diberikan waktu dan kesehatan kepadaku agar bisa aku bisa membahagiakan bapak dan mama.  aih... mulai lebay lagi deh.. hehehe...

Tulisan ini kubuat saat aku sedang berjuang melawan kanker di rumah sakit.  Malam sudah larut saat ini, namun mata tidak bisa terpenjam.  Pikiranku masih melalang buana kemana-mana.  Beruntung laptop setia ini masih mau menemaniku setiap saat.  Ia seperi tahu, si pemilik nan cantik ini (hehehehe), sedang gundah karena tidak bisa hadir merayakan ulang tahun bapaknya di rumah hehehe..

Ya, foto di atas di kirimkan adikku, ferdi di facebook pribadiku.  Sebenarnya aku sudah tahu, bapak dan keluarga di Samarinda akan merayakan ulang tahun bapak dengan makan sekeluarga serta di lanjutkan dengan pemotongan kue tart.  Ini merupakan tradisi sederhana keluarga kami. Biasanya bapak tidak terlalu mau terlalu repot repot di rayakan sederhana seperti ini.  Baginya, cukup doa untuk kesehatan dan kebahagiaan untuk dirinya.  Namun, rupanya bapak tidak tahan melihat bagaimana cucu-cucunya yang mayoritas di kuasai oleh anak-anakku heheheh, dengan mata penuh harap untuk dirayakan hehehe.. Maklum, mereka akan turut melihat kue tart black forest dengan hiasan cantik dan lilin yang siap di tiup.  Setelah itu... ya bisa di tebak.. mereka akan berebutan untuk menikmati potongan kue black forest itu hihihih...

Oh ya, lanjut cerita lagi ya...  ya, sebenarnya aku tahu ulang tahun bapak akan di rayakan seperti biasanya.  Tapi berhubung aku jauh di kota lain, terpaksa aku hanya bisa menahan berbagai gejolak rasa tidak menentu karena tidak bisa hadir di acara ulang tahun bapak tersebut.  Apalagi saat adikku mengirimkan foto-foto ulang tahun bapak.. aduh, rasanya hati ini langsung gimana gitu.... hik hik hik... Berharap untuk bisa terbang dan hadir di sana.  Tapi apa daya, aku harus menyelesaikan sessi pengobatan yang memang sudah terencana berbulan-bulan yang lalu.  Khusus untuk cerita sessi pengobatan ini, akan kuceritakan nanti ya..

Ah.. sudah dulu lebaynya malam ini.  Yang terpenting, aku selalu berdoa untuk kebahagiaan, kesehatan, keselamatan Bapak dan mama.  Semoga Allah senantiasa melindungi dan menyayangi mereka, seperti mereka berdua melakukan itu semua kepadaku.. amin amin amin  :)



Apakah Mama Akan Meninggal?



Tentang Fenomena Sinetron dan Film Indonesia



"Apakah mama akan meninggal?" Tanya anak saya suatu hari.
"Maksudnya seperti apa?"Tanya saya bingung. Terus terang saya cukup kaget mendengar pertanyaannya.
"Seperti di film itu, Ma. Dia kena kanker, dan akhirnya meninggal,"jawab anak saya pelan.
Hohohoho..rasanya pertanyaan itu menghujam tepat di jantung saya. Rupanya fenomena film dan sinetron Indonesia sekarang yang kerap menampilkan tokoh sakit kanker dan buntut-buntutnya meninggal, menjadi perhatian anak saya. Ia pun lalu menyamakan penyakit kankerku dan kanker si tokoh tersebut.
Well, memang rasanya sangat dramatisir sekali, ketika suatu kisah seorang pasangan muda yang mana salah satunya sakit kanker. Kisah-kisah mengharukan terurai panjang diantara mereka. Bagaimana perjuangannya menghadapi kanker di dampingi sang kekasih tercinta. Bagaimana kekuatan cinta yang akhirnya membuat ia rela menerima kondisi pasangannya dengan iklas dan dibumbui romantika cinta yang manis dan tulus. Atau ada pula yang mengisahkan sepasang anak muda, dimana sang cowok memutuskan sepihak si cewek hanya karena tidak ingin si cewek sedih mengetahui ia sakit kanker. Walaupun akhirnya si cewek pun tahu si cowok terkasih terkena kanker saat detik-detik terakhir ia akan meninggal.
Ah.. Sinetron dan film memang selalu berbumbu romantika. Padahal terkadang tidak seperti kenyataannya. Banyak pasien kanker yang akhirnya bisa kuat dan survive sampai sekarang. Banyak pasien kanker yang akhirnya bisa menerima dan iklas menjalani vonis kankernya.
Kanker seolah-olah menjadi sebuah penyakit yang mematikan dan menakutkan bila di cermati dalam sebuah film dan sinetron. Tentu saja hal ini jadi semacam bias tersendiri, khususnya bagi masyarakat. Sehingga ketika masyarakat mendengar kata kanker, menjadi sebuah nightmare . Terlebih apabila mereka tervonis kanker. Bayangan-bayangan tentang kanker menjadi semacam keraguan tersendiri buat sembuh. 
Mengapa para sineas sinetron atau film tidak membuat kisah perjuangan pasien kanker yang bisa survive dan menginspirasi masyarakat. Oke lah, memang ada 1 atau 2 sinetron atau film yang seperti itu. Kalaupun akhirnya si tokoh meninggal, ia bisa meninggalkan berbagai cerita indah dan kebaikan semasa hidup. Tapi itu masih berbanding sedikit dengan sinetron atau film yang berakhir dengan kisah pilu dan sedih mengenai kanker.
Mengapa tidak menjadikan sinetron atau film sebagai edukasi bagi masyarakat mengenai pemahaman tentang kanker. Tentang bagaimana mereka berusaha survive hidup dan tetap berbuat manfaat bagi orang lain. Bukan sosok yang sakit-sakitkan dan cenderung menyulitkan heheheh.. Ups.. Ini sebenarnya hanya sekelumit kisah yang ingin saya ungkapkan melihat fenomena sinetron dan film sekarang.
"Ma..., mama nggak akan mati kan?"Tanya anak saya lagi.
"Hidup dan mati mama sudah di atur Allah. Kalau pun memang mama nanti meninggal, itu karena memang takdir dari Allah,"ujar saya berusaha menahan air mata.
Ah.. Saya tahu.. Anak-anak saya sangat kuat menghadapi kenyataan bahwa mamanya terkena kanker. Mereka tumbuh jadi anak-anak yang mandiri dan tidak cengeng. Mereka tidak protes bila saat-saat tertentu saya memang tidak cukup kuat menemani mereka bermain ataupun jalan-jalan.
Mereka tahu saya menyayangi dan mencintai mereka dengan cara yang mungkin berbeda dengan ibu lakukan terhadap anak-anaknya. Dengan keterbatasan secara fisik yang kadang tidak stabil, saya berusaha menemani mereka dan tentu saja mendoakan mereka. Bahkan ketika ditanya oleh siapa pun tentang sakit mamanya, mereka akan menjawab mama kena kanker. Mereka pun dengan lantang akan bilang mama sudah sembuh.
Allah sangat baik pada saya. Saat saya tervonis kanker, namun saya tetap berusaha kuat dengan memberikan anugrah anak-anak yang sehat, cerdas, mandiri dan perhatian. Semoga Allah senantiasa melindungi kami sekeluarga... Amin..

26122013

Dialog antara Seorang Lelaki dan Anak Perempuannya


Dalam sebuah percakapan antara seorang laki-laki dan anak perempuannya. Laki-laki itu bercerita pada anaknya tentang kehidupannya. Ia berasal dari keluarga tidak mampu. Tinggal si sebuah pulau kecil dekat pulau jawa, yaitu pulau Madura. Bahkan sejak kecil, ia bersama ketiga saudaranya telah yatim piatu.

Kehidupan yang susah telah ia jalanin sewaktu kecil. Karena kesuliatan ekonomi kala itu, beliau sempat merasakan memakan nasi kerak untuk pemenuhan kebutuhan perut sehari-hari bersama keluarganya.

Keinginan hidup lebih baik membuatnya pergi merantau ke pulau kalimantan. Dari sinilah perjuangan hidup kembali ia mulai.

Merantau di daerah baru membuatnya lebih survive.apalagi perbedaan kultur dari tempat lahirnya,membuatnya harus beradapsi dan bersosialisasi lebih baik.

Setelah bertahun-tahun ia bekerja, ia pun bertemu seorang perempuan menawan yang kemudian menikah dan mendapatkan buah hati tercinta dari pernikahannya. Salah satunya adalah anak perempuan.

Semua tetap berjalan seperti biasa. Ia tetap bekerja membangun usaha bersama istrinya. Tiada yang mudah dalam hidup ini. Namun bila dilakukan dengan iklas, sungguh-sungguh demi keluarga dan mengharapkan Ridho Allah SWT, semuanya akan selalu ada jalan.

Ia memilih membangun usaha sendiri. Jatuh bangun berbisnis pernah ia rasakan, sampai keberhasilan akhirnya telah di raih.

"Keberhasilan itu berasal dari sebuah proses, bukan langsung instan."Begitu ucapnya pada anak perempuannya.

Ia bercerita pula bahwa dalam sebuah bisnis kadang ada kalanya kita untung,kadang impas, bahkan kadang rugi. Dalam berbisnis pun kadang teman bisa menjadi lawan, kadang lawan bisa menjadi teman. Semua tergantung bagaimana kita mengatasinya.

Pernah ia bercerita berbisnis dengan seorang teman. Awalnya bisnis itu selalu menghasilkan untung, namun pada akhirnya bisnis itu tidak untung bahkan merugi dikarenakan ada kecurangan dari temannya tersebut.

"Lalu, apa yang bapak lakukan?" Tanya anak perempuannya.

awalnya ia merasa sangat terkejut dan kecewa. Kepercayaan selama ini yang ia berikan, ternyata dikhianati oleh rekan bisnisnya. Tapi semua ia kembalikan kepada Allah. Dan ia mulai intropeksi diri.

Ternyata dalam berbisnis,kita tetap harus bersikap hati-hati terhadap berbagai resiko. Sebagai seorang pengusaha, tidak bisa langsung kepercayaan penuh kepada rekan bisnis ataupun karyawan. Kita perlu melakukan controling terhadap usaha kita. Bisa jadi,hal itu terjadi karenanya kurangnya kontrol terhadap usaha.

"Bagaimana sikap bapak terhadap rekan bisnis bapak itu?" Kembali anak perempuannya mencercanya dengan sebuah pertanyaan.

Sebuah "Rahasia" keberhasilannya berbisnis selama ini akhirnya terungkap dari cerita ini.

Bila rekan bisnis itu tidak mau bertanggung jawab,maka iklaskan saja. Karena ada Allah yang akan mengaturnya. Tapi point terpenting tetap jalin silaturahmi dengan nya. Walaupun mungkin tidak untuk melakukan bisnis bersama kembali sementara waktu. Silaturahmi tetap harus berjalan. Karena dari tetap bersikap positif menghadapi semuanya, maka akan dipeoleh hikmah dari itu semua.

Anak perempuan itu tertegun mendengar bapaknya.

Dan satu lagi "Rahasia" Keberhasilan laki-laki itu. Ia selalu berusaha bersikap baik dan membantu kepada semua orang. Didikan orang tuanya untuk selalu berbuat kebaikan, melekat kuat di dirinya.

Ia berkata kembali kepada anaknya,

" bersikap baik lah dan membantu kepada orang lain. Tebar silaturahmi dan komunikasi kepada mereka. Mungkin sekarang bapak tidak mengharap banyak balasan dari itu semua. Tapi bapak percaya, benih yang bapak tanam sekarang bisa saja nantinya akan bapak atau mungkin anak-anak bapak tuai." Katanya bijak.

Anak perempuan itu kembali tertegun. Dia mencoba meresapi apa yang dikatakan oleh bapaknya. Anak perempuan itu memilih jalan sebagai pembisnis, sama seperti jalan yang dilakukan bapaknya dulu. Dan di kala kesulitan menerjang, ada saja kemudahan-kemudahan yang tiba-tiba datang. Ya, mungkin itu maksud bapak dengan menuai sekarang.

"Anakku, renungkan hal ini. Bila kau ingin berbisnis sukses secara cepat, maka benahi sistem bisnismu. Bila kau ingin berbisnis 5-10 tahun mendatang, maka benahi managemenmu. Namun bila kau ingin berbisnis sepanjang waktu, maka perkuat silaturahmi dan jaringan." Nasihatnya kembali kepada anak perempuannya.

Perbincangan itu masih selalu terngiang-ngiang di telinga si anak perempuan. Langkah yang dipilih sebagai pengusaha untuk mengurusi bisnis adalah karena mengalir darah bapaknya. Padahal sebelumnya ia tidak pernah bercita-cita jadi pengusaha. Namun, langkah itu mulai menguat ketika ia menikah.

"Menjadi pengusaha itu perlu kesiapan mental dan fisik." Kata bapaknya,"Bapak tidak pernah memaksa anak bapak mengikuti jejak bapak sebagai pengusaha. Semua bapak kembalikan kepada anak-anak bapak. Bila salah satu diantara anak-anak bapak memang akhirnya memilih menjadi seoang pengusaha, berarti ia telah siap mental sebagai seorang pengusaha".

Dan salah satu diantara anak bapak itu adalah anak perempuannya, yaitu aku.

Dari bapak aku mulai belajar tentang bagaimana berbisnis seharusnya. Setelah menekuni bisnis sendiri, aku baru mengerti betapa mulianya usaha sebagai pengusaha untuk memenuhi kehidupan tidak hanya keluarganya tetapi juga untuk karyawan.

Kesulitan dan kemudahan dalam berbisnis yang kualami, juga pernah dialami bapakku. Intinya tetap fokus berusaha, bersikap positif dan kembalikan semuanya kepada Allah swt apapun hasilnya nanti.

Dari bapaklah, aku belajar banyak tentang kehidupan. Bukan hanya filosofi yang di bagikan seorang bapak kepada anaknya. Tetapi lebih dari itu, bagaimana menjadi seorang pengusaha yang bermoral, berhasil, dan memiliki keimanan kuat. Mudah-mudahan aku bisa menjalaninya... Amin..

Notes :

Tulisan ini kupersembahkan tulus

Untuk bapakku. Dengan rasa hormat dan bangga menjadi anak sekaligus murid kepada bapak...

Semoga allah selalu melimpahkan kesehatan dan kemudahan untuk bapak dan mama dirumah. Amin...

Bontang, 3 Desember 2010

Pukul 23.45 wita..